
"Di mana Evan? Apa dia tidak ingin bergabung bersama kita," tanya Jimmy sambil menyuap sepotong kecil ayam bakar yang tertancap di ujung garpunya.
"Katanya dia masih tidak enak badan dan ingin makan malam di kamarnya saja," jawab Mommy.
Setelah beberapa menit kemudian, makan malam itu pun selesai. Jimmy bangkit dari posisi duduknya dan ingin segera beranjak dari tempat itu. Namun, belum sempat Jimmy meninggalkan tempat itu, Mommy sudah memanggilnya lagi.
"Jimmy," panggil Mommy Martha.
"Ya?" Jimmy berbalik kemudian menatap Mommy Martha yang kini berjalan ke arahnya.
"Kemarilah, temani Mommy," Mommy Martha melingkarkan tangannya ke lengan kekar Jimmy kemudian berjalan bersama anak lelakinya itu menuju ruang utama.
"Kamu juga, Ze sayang! Sini, ikuti Mommy," sambung Mommy Martha. Ze pun menurut saja dan mengikuti langkah Mommy Martha bersama Mei di belakang mereka.
"Memangnya ada apa ya, Mbak Mei?" tanya Ze kepada Mei yang sedang berjalan di sampingnya.
"Maaf, saya kurang tau, Nona Ze," jawab Mei sambil tersenyum manis menatap Ze.
Setibanya di ruang utama, Mommy menuntun Jimmy untuk duduk bersamanya di sofa yang ada di ruangan itu. Walaupun sebenarnya Jimmy bingung, tetapi ia tidak menolak keinginan Mommy-nya tersebut.
"Sebenarnya ada apa sih, Mom?" tanya Jimmy dengan wajah heran.
Sebelum Mommy menjawab pertanyaan Jimmy, Mommy juga meminta Ze untuk duduk bersamanya, di samping Jimmy.
__ADS_1
"Sebenarnya tidak ada apa-apa. Mommy hanya sedang suntuk dan ingin kalian menemani Mommy. Biasanya 'kan Evan yang menemani Mommy ngobrol-ngobrol sebelum tidur. Namun, karena Evan sedang sakit, jadi Mommy ingin kalian menemani Mommy malam ini, boleh 'kan?"
"Ya, tentu saja, Mommy." Dengan senang hati Ze bersedia menemani Mommy di ruangan itu. Begitu pula Jimmy, lelaki itu pun tampak tidak masalah.
Mereka mulai berbincang di sana. Mommy Martha menceritakan kisah masa mudanya bersama Daddy-nya Jimmy. Di mana mereka dulunya hanya dijodohkan dan menikah tanpa cinta. Namun, pada akhirnya cinta itu tumbuh sendiri seiring waktu berjalan. Apa lagi setelah kehadiran buah hati mereka yang pertama.
Ze dengan sangat antusias mendengar kisah tersebut sedangkan Jimmy tampak biasa-biasa saja karena ia sudah mendengarkan kisah itu lebih dari ratusan kali.
Di saat Mommy sedang bercerita, Mei pamit ke dapur untuk melancarkan aksinya. Ia membuatkan tiga minuman untuk Mommy Martha, Jimmy dan Ze dengan warna dan rasa yang berbeda-beda agar nantinya ia bisa membedakan mana minuman untuk Ze dan mana untuk Jimmy serta Mommy Martha.
Setelah selesai membuat minuman tersebut, Mei meraih 'pil setan' yang ia dapatkan dengan susah payah tersebut. Ia memasukkan obat tersebut ke dalam minuman khusus untuk Ze dan juga untuk Jimmy dengan dosis yang sesuai.
"Semoga rencana Nyonya berjalan mulus! Cucu Nyonya Martha, siap-siap, OTW!" gumam Mei sembari mengaduk minuman tersebut agar obat yang ia campurkan larut dan tercampur dengan sempurna.
"Silakan diminum Nyonya Martha, Tuan Jimmy, Nona Ze," ucap Mei.
"Tumben kamu yang bikin minuman, Mei? Memangnya pelayan pada kemana?" tanya Jimmy sembari meraih minuman itu kemudian meneguknya.
Deg! Jantung Mei hampir saja copot setelah mendengar pertanyaan Jimmy barusan. Namun, hebatnya Mei masih bisa bersikap tenang dan menjawab pertanyaan lelaki itu dengan santai.
"Ehm, sebenarnya yang membuat minuman ini adalah pelayan, Tuan. Saya hanya membawakannya saja ke sini," jawab Mei.
"Bagus!" gumam Mommy Martha sambil mengedipkan mata kepada Mei, ketika Mei menatapnya.
__ADS_1
"Ayo, Ze ... minumlah," ajak Mommy kepada Ze yang masih belum menyentuh gelas minumannya.
"Baik, Mom." Walaupun sebenarnya Ze sudah kenyang dan sama sekali tidak merasa haus. Namun, karena merasa tidak nyaman dengan Mommy, ia pun meminumnya.
Ze sempat menautkan kedua alisnya ketika pertama kali menyeruput minuman itu. Ada rasa yang sedikit aneh di minuman tersebut. Namun, ia tidak ingin mempermasalahkannya dan terus meneguknya hingga tetesan terakhir.
Begitu pula dengan Jimmy, gelas minuman lelaki itu terlihat sudah kosong. Setelah kedua minuman menyesatkan itu masuk ke dalam perut anak serta menantunya, Mommy pun tersenyum puas.
"Sepertinya Mommy sudah lelah, Mommy ingin beristirahat dulu," kata Mommy sambil menguap di ruangan itu.
"Ya, aku juga. Sebaiknya kita kembali ke kamar, Ze," ajak Jimmy. Ze pun segera bangkit kemudian menghampiri Jimmy.
"Oh ya, kalian duluan saja, selamat malam, Sayang," ucap Mommy sambil melambaikan tangannya kepada Jimmy dan Ze.
"Selamat malam, Mommy," ucap Ze sembari memeluk dan mencium kedua pipi Mommy Martha.
Setelah Ze dan Jimmy kembali ke kamar mereka, Mommy dan Mei kembali toss sambil tersenyum puas.
"Eh, Mei. Tapi, obat itu aman 'kan?" tanya Mommy yang sekarang mulai khawatir. Takut anak dan menantunya kenapa-napa.
"Tenang, Nyonya. Obat itu aku dapat dari sang ahli, jadi semuanya sudah sesuai dosis mereka dan aman. Tapi, tidak aman untuk Nona Ze karena sebentar lagi tubuhnya akan melebar," sahut Mei sambil tertawa pelan.
"Amin, amin, amin! Semoga ya, Mei."
__ADS_1
...***...