
Setelah drama penyuntikan itu berakhir, Jimmy pun dapat bernapas dengan lega. Ia bisa beristirahat dengan nyaman setelah obat yang diberikan oleh Dokter mulai bereaksi pada tubuhnya.
Lelaki itu memejamkan matanya rapat, tetapi tidak membiarkan Ze menjauh dari tubuhnya. Entah kenapa aroma tubuh Ze saat itu tercium sangat enak dan seperti candu untuk seorang Jimmy.
"Kamu mau kemana?" ucap Jimmy dengan mata terpejam ketika Ze perlahan menjauh dan ingin beranjak dari tempat itu.
"Lah, dia masih sadar juga rupanya," gumam Ze. Ia kembali menghampiri Jimmy kemudian mengelus puncak kepala lelaki itu. "Aku mau ke kamar kecil sebentar, Mas. Sebentar saja," lanjutnya.
"Baiklah, jangan lama-lama," jawab lelaki itu masih dengan mata terpejam.
Ze pun bergegas menuju kamar mandi dan diam di sana untuk beberapa saat. Setelah selesai, Ze pun segera kembali menghampiri Jimmy yang sedang meringkuk di atas tempat tidur mereka. Baru saja Ze berbaring di samping tubuh Jimmy, tiba-tiba saja perutnya berbunyi dan terdengar hingga ke telinga suaminya itu.
Krruukkkk ....
Perlahan Jimmy membuka matanya kemudian menatap Ze yang saat ini tengah tersenyum kecut. "Kamu lapar?" tanya Jimmy.
"Ya," jawab Ze sambil menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Sebaiknya kamu minta pelayan untuk membawakan makanan ke sini," titah Jimmy yang masih menempelkan hidung mancungnya di tubuh Ze.
"Kamu juga ya?" ajak Ze, karena Jimmy belum makan apapun semenjak tadi pagi. Berbanding terbalik dengan Ze yang sudah beberapa kali makan. Entah kenapa Ze merasa maruk dan mulutnya itu tidak berhenti ingin terus mengunyah.
Jimmy terdiam sejenak sambil memikirkan makanan apa yang ingin dia makan saat ini. "Entah kenapa aku teringat akan masakan Ibu. Kok aneh, tiba-tiba saja aku ingin makan masakan yang dibuat oleh Ibu Lidya, ya?" sahut Jimmy dengan wajah heran menatap Ze.
__ADS_1
"Ah, kamu benar, Mas! Aku setuju, aku juga rindu masakan Ibu. Tapi ... apa kita harus menginap ke rumah Ibu? Rasanya tidak mungkin, secara kondisi Mas 'kan masih lemah," tutur Ze.
"Ajak aja Ibu nginap di sini. Jadi Ibu bisa masak buat kita berdua." Jimmy terkekeh pelan. "Kita jahat ya, ajak Ibu ke sini cuma karena pengen makan masakan buatannya," lanjut Jimmy.
"Ish, iya." Ze menekuk wajahnya. "Tapi harus, aku juga kangen masakan Ibu," lanjut Ze.
Ze meraih ponselnya sembari bersandar di sandaran tempat tidur. Ia mencoba menghubungi Bu Lidya yang ternyata sedang beristirahat melepas penat sambil membayangkan wajah Ze. Ia sangat merindukan anak perempuannya itu.
Setelah mengetahui bahwa Ze tengah menghubunginya, Bu Lidya pun dengan penuh semangat menerima panggilan itu. "Ya, Ze?"
"Bu, aku kangen masakan Ibu. Eh, bukan! Maksudku, aku kangen sama Ibu," sahut Ze dari seberang telepon.
"Ibu juga, Ze. Hmm, ngomong-ngomong soal masakan, tadi siang Ibu masak banyak. Ibu sih berharap kamu jengukin Ibu, eh ternyata gak dateng," tutur Bu Lidya dengan wajah sedih.
"Ya, masih banyak itu Ibu simpan di lemari," jawab Bu Lidya.
"Bawa ke sini ya, Bu. Soalnya hari ini Ze tidak bisa ke mana-mana. Mas Jimmy sedang sakit," tutur Ze.
"Sakit? Sakit apa, Ze? Ibu sih mau asal dijemput, soalnya sudah jam segini di mana Ibu bisa menemukan tukang ojek buat nganterin ke sana," tutue Bu Lidya.
"Kelelahan, Bu. Oh ya, soal transportasi, Ibu tenang saja. Nanti sopir Mommy Martha yang jemput. Ibu tunggu aja di sana, tapi jangan lupa bawa makanannya yang banyak ya, Bu. Ze lagi maruk makan ini," jawabnya dengan sangat antusias.
"Ok, baiklah. Sebaiknya Ibu bersiap-siap dulu," ucap Bu Lidya.
__ADS_1
"Ya, Bu. Jangan lama-lama, ya!"
"Ya, ya! Bawel banget sih, belum juga jadi Ibu-ibu," gumam Bu Lidya sembari bangkit dari tempat tidur kemudian bergegas ke dapur setelah Ze memutuskan panggilannya. Bu Lidya memasukkan makanan yang sudah ia masak ke dalam kotak-kotak makanan kemudian menyusunnya ke dalam sebuah tas berukuran cukup besar.
Dua jam kemudian.
Bu Lidya sudah tiba di kediaman Mommy Martha dan disambut langsung oleh Sang Pemilik rumah dengan hangat.
"Saya bawain makanan buat Ze dan Jimmy, Bu Martha. Katanya mereka ingin makan masakan saya," ucap Bu Lidya kepada Mommy Martha yang kini menuntunnya menuju kamar pasangan itu.
"Iya, Bu Lidya. Mereka juga bilang begitu, kata mereka, mereka tiba-tiba saja kangen masakan Bu Lidya," jawab Mommy Martha sambil merengkuh pundak besannya itu.
"Gelagat itu dua orang memang rada aneh belakangan ini. Yang suami enggan makan, lah yang istri malah sebaliknya, Ze lagi kemaruk, Bu. Makanan apa aja dia lahap," lanjut Mommy sambil terkekeh pelan.
"Benarkah? Wah, mencurigakan," pekik Bu Lidya.
"Mencurigakan gimana, Bu Lidya?" tanya Mommy Martha terlihat bingung.
"Saya jadi teringat dulu ketika saya ngidam si Ze. Saya juga maruk makan, Bu Martha. Sampai-sampai berat badan saya naik hingga dua kali lipat. Apa jangan-jangan Ze --" Ucapan Bu Lidya disela oleh Mommy Martha.
Wanita itu membulatkan matanya setelah mendengar ucapan Bu Lidya. Dia merasa bodoh karena tidak pernah kepikiran sampai ke situ. "Akh! Apa jangan-jangan yang dikatakan oleh Bu Lidya itu benar? Jangan-jangan saat ini Ze lagi hamil," pekik Mommy Martha.
...***...
__ADS_1