
"Jimmy, kamu baik-baik saja?" tanya salah seorang sahabatnya.
Jimmy mengerjapkan mata kemudian memperhatikan sekelilingnya dengan seksama. Ia bingung kenapa para lelaki bertubuh besar itu mengerumuni dirinya dengan ekspresi wajah cemas.
"Kenapa kalian berkerumun di sini? Lalu siapa yang berjaga di depan?" tanya Jimmy sambil memegang kepalanya.
"Ya ampun! Bukannya memikirkan kesehatannya, ia malah memikirkan tempat gym-nya. Dasar Jimmy!" gerutu sahabatnya.
"Memangnya aku kenapa?" Jimmy segera bangkit seperti biasanya, seolah-olah dia sedang baik-baik saja. Namun, baru saja ia mencoba berdiri dengan tegak, tiba-tiba buminya kembali berputar-putar dengan sangat cepat.
Tubuh besar lelaki itu hampir saja kembali jatuh kalau teman-temannya tidak menahannya dari belakang. Perlahan Jimmy duduk di sofa sambil memegang kepalanya yang masih terasa berputar-putar.
"Oh Tuhan, sebenarnya ada apa denganku," pekik Jimmy. Dan akhirnya lelaki itu ingat bahwa dirinya baru saja siuman dari pingsannya.
Teman-temannya yang lain hanya bisa menggelengkan kepala mereka memperhatikan ekspresi Jimmy saat itu. "Ya ampun, Jimmy!"
"Tadi aku pingsan, ya?" tanya Jimmy terheran-heran sambil memperhatikan satu-persatu wajah sahabatnya yang masih setia menunggu di ruangan itu.
"Bukan pingsan, Jimmy. Tapi tidur, kamu baru saja terbangun dari tidurmu," sahut temannya yang agak kesal setelah mendengar pertanyaan konyol Jimmy.
Sedangkan salah satu yang lainnya menyerahkan sebotol air minum untuk Jimmy minum. "Minumlah, Jimmy."
Jimmy meraih botol tersebut kemudian meminumnya. Setelah puas menenggak air mineral tersebut, Jimmy pun kembali berucap. "Sebaiknya aku pulang saja. Mungkin aku memang sedang kelelahan dan butuh istirahat."
__ADS_1
"Ya, kamu benar. Sebaiknya kamu pulang saja."
Jimmy menghubungi sopir pribadi Mommy Martha dan meminta lelaki itu untuk segera datang ke tempat gym-nya. Ia ingin lelaki itu yang mengemudikan mobilnya dan membawanya kembali ke kediaman Mommy Martha.
"Apa tidak sebaiknya kamu panggil Dokter untuk memeriksakan kondisimu, Jimmy?" tanya salah seorang sahabatnya.
"Ah, aku baik-baik saja. Aku tidak butuh Dokter, yang aku butuhkan saat ini hanya satu, istirahat dengan ditemani istri tercinta," sahut Jimmy yakin sambil melemparkan senyuman lebar kepada para sahabatnya.
Lelaki itu mengangkat kedua bahunya. "Ya sudah, terserah kamu saja lah."
Tidak berselang lama, sopir pribadi Mommy Martha tiba di tempat itu dengan menggunakan taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya. Jimmy yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan lelaki itu, segera menyerahkan kunci mobil.
"Sebaiknya cepat, Pak. Aku sudah tidak sabar ingin beristirahat di rumah," ucap Jimmy.
Sementara itu di kediaman mewah milik Mommy Martha. Wanita paruh baya itu tampak panik setelah mendengar kabar bahwa Jimmy sedang tidak enak badan. Ia terlihat sedang mondar-mandir di teras depan rumahnya sambil memperhatikan halaman depan, berharap Jimmy dan sopir pribadinya tiba di sana.
Tidak berselang lama, mobil milik Jimmy yang dikemudikan oleh Pak Sopir pribadinya tersebut kini tiba di halaman depan. Mommy Martha bergegas menghampiri Jimmy yang baru saja keluar dari mobil dengan wajah yang masih tampak memucat.
"Jimmy, kamu tidak apa-apa, Nak? Kenapa wajahmu pucat sekali? Hmm, ini pasti gara-gara sarapan tadi 'kan? Kamu makannya terlalu sedikit dan akhirnya kamu masuk angin," tutur Mommy dengan wajah cemas.
Jimmy masih sempat terkekeh setelah mendengar ucapan Mommy-nya tersebut. "Mana ada yang seperti itu, Mom. Aku rasa, aku hanya kelelahan karena beberapa hari terakhir aku terlalu sibuk di tempat gym," jawab Jimmy.
"Ish, kata Mommy dulu juga apa, Jimmy. Sebaiknya kamu teruskan saja bisnis Daddy yang sekarang dipegang oleh Evan. Eh, kamu malah memilih bikin bisnis baru yang melelahkan seperti itu," gerutu Mommy.
__ADS_1
"Eh, Mommy salah! Pekerjaan yang berasal dari hobby itu malah menyenangkan, Mom. Aku sama sekali tidak merasa terbebani saat bekerja. Beda halnya jika aku memilih meneruskan bisnis Daddy. Aku sama sekali tidak mempunyai minat di sana dan aku yakin aku pun akan melakukannya dengan setengah hati," sahut Jimmy sambil terus melangkah bersama Mommy Martha menuju kamarnya.
"Ah, terserah apa katamu lah."
"Mom, ngomong-ngomong di mana Ze? Kok, dia tidak kelihatan?" tanya Jimmy sembari memperhatikan sekelilingnya, mencoba mencari keberadaan istri kecilnya itu.
"Mungkin dia sedang berada di kamar kalian. Mommy sengaja tidak memberitahu bagaimana kondisimu saat ini. Mommy tidak ingin dia ikut cemas memikirkan dirimu," jawab Mommy.
"Baguslah. Sebaiknya memang begitu."
Akhirnya Jimmy dan Mommy Martha tiba di depan kamarnya. Jimmy mendorong pintu kamar tersebut dengan perlahan dan ternyata pintunya tidak dikunci. Ia memperhatikan sekeliling ruangan dan ternyata Ze sedang membereskan kamarnya seorang diri.
"Ze?" sapa Jimmy.
"Loh? Mas kok sudah pulang? Dan itu, kenapa wajahmu semakin terlihat pucat?!" pekik Ze tiba-tiba setelah melihat bagaimana kondisi Jimmy saat itu.
"Sudah, jangan terlalu berlebihan. Aku baik-baik saja kok, Sayang. Aku hanya kelelahan dan butuh istirahat sejenak," jawabnya kemudian duduk di tepian tempat tidur.
"Mommy panggil Dokter ya, Jim?" bujuk Mommy yang ikut masuk ke kamar mereka.
"Ah, jangan, Mommy! Tidak perlu, aku baik-baik saja! Aku hanya butuh istirahat, besok juga pasti akan kembali sehat," jawabnya yakin.
Mommy Martha menekuk wajahnya. Ia berjalan keluar dari ruangan itu dan membiarkan Jimmy dan Ze berdua di kamar mereka. Namun, tanpa sepengetahuan Jimmy, Mommy Martha tetap memanggil Dokter untuk memeriksakan kondisi putra kesayangannya itu.
__ADS_1
***