
Evan tampak berpikir keras di dalam kamarnya. Ia bolak-balik berjalan dari satu sisi ke sisi lainnya dengan wajah cemas. "Sepertinya aku harus bertindak terlebih dahulu sebelum Om Jimmy mengetahui bahwa aku dan teman-temanku lah yang menjadi biang atas kejadian ini!" gumam Evan.
Tiba-tiba saja Evan menyeringai licik. Ia punya ide cemerlang untuk menghilangkan barang bukti yang paling akurat.
"Sepertinya aku butuh bantuan dari Leonard! Aku yakin dia pasti bisa membantuku menghilangkan bukti-bukti rekaman CCTV pada malam itu. Jadi, Om Jimmy tidak akan pernah tahu siapa yang sudah menjebaknya bersama gadis itu," gumam Evan.
Ya, Evan sangat yakin bahwa lelaki yang bernama Leonard tersebut bersedia membantunya. Leonard adalah Manager dari hotel tersebut dan sekaligus sahabat karibnya.
"Ah, sialan! Ini semua gara-gara Aldi dan Daniel. Seandainya saja mereka tidak punya ide gila untuk menjebakku bersama gadis cupu itu, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya!" umpat Evan kasar.
Evan meraih ponselnya kemudian mencoba menghubungi Daniel. Daniel yang sedang asik bersantai, segera menerima panggilan itu setelah tahu bahwa panggilan itu dari sahabatnya, Evan.
"Ya, Evan. Ada apa?" tanya Daniel.
"Heh Daniel, tadi pagi Om Jimmy mengajakku bicara dengan serius dan apa kamu tahu? Dia mengancamku! Aku tahu bagaimana sifat Om Jimmy, dia tidak pernah bercanda dengan ucapannya."
Daniel malah tertawa renyah setelah mendengar penuturan sahabatnya itu. "Lah, itu 'kan urusanmu, Van. Kenapa malah memberitahuku masalah itu?" sahutnya dengan enteng seolah tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Heh! Apa kamu sudah lupa? Semua ini terjadi 'kan gara-gara keisengan kalian yang ingin menjebakku?! Sedangkan aku hanya meneruskan permainan kalian saja," gerutu Evan dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Ya, memang benar. Tapi target kami 'kan kamu, bukan Om Jimmy. Jadi yang bersalah di sini adalah kamu, Evan. Kamulah yang sudah menjebak Om mu sendiri ke dalam masalah ini," sahut Daniel.
"Akh! Pokoknya aku tidak peduli! Kalian harus bantu aku menghilangkan satu-satunya bukti yang kuat, yang bisa membongkar siapa dalang dari kejadian di malam itu!" ucap Evan dengan sangat serius.
Daniel menatap layar ponsel sambil mencebikkan bibirnya. Walaupun dari raut wajah lelaki itu tampak enggan membantu Evan, tetapi sepertinya ia sudah tidak punya pilihan lain.
"Baiklah, baiklah! Sekarang, apa rencanamu?" tanyanya.
"Kita bertemu di Cafe X sekarang juga. Nanti akan kujelaskan semuanya di sana. Oh ya, jangan lupa untuk mengajak Aldi sekalian!" sahut Evan sebelum ia memutuskan panggilan tersebut.
Huft! Daniel menghembuskan napas berat kemudian segera bersiap menuju Cafe X di mana ia akan bertemu kembali dengan kedua sahabatnya.
Ketiga sahabat itu ternyata sudah berkumpul di Cafe yang dimaksud oleh Evan sebelumnya. Evan, Daniel dan Aldi tampak berbicara dengan sangat serius di sebuah meja yang sudah dipesan oleh Evan sebelumnya.
"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Aldi tampak bingung.
"Kita temui Leonard, bantu aku meyakinkan lelaki itu agar ia bersedia membantu kita menyingkirkan video rekaman CCTV di sekitar kamar VIP yang digunakan oleh Om Jimmy dan gadis culun itu."
"Kamu 'kan teman karibnya, Van. Dia pasti bersedia lah!" celetuk Aldi.
__ADS_1
"Ya, tapi aku juga butuh kalian berdua untuk meyakinkannya, bod*h!" kesal Evan sembari menekuk wajahnya dengan sempurna.
"Oke, baiklah. Lalu, kapan kita menemui Leonard?" tanya Daniel yang sepertinya sudah mulai jenuh mengurus masalah ini. Ia ingin masalah ini secepatnya selesai hingga ia bisa hidup dengan lebih tenang sama seperti dulu.
"Hari ini juga! Karena lebih cepat akan lebih baik. Kita tidak tahu 'kan, kapan Om Jimmy akan bertindak," sahut Evan.
"Ya, sudah. Terserah kamu lah, lagian kami di sini hanya pengikutmu saja, 'kan?" celetuk Aldi.
"Sebentar," ucap Evan sembari merogoh saku celananya. Evan mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam saku celananya tersebut kemudian berniat menghubungi nomor ponsel Leonard.
Cukup lama Evan dan kawan-kawan menunggu lelaki itu menerima panggilan dari Evan. Hingga akhirnya panggilan itu pun diterima olehnya.
"Hai, Evan! Apa kabar? Maaf, aku baru tahu bahwa kamu tengah menghubungiku. Soalnya ponselku dalam mode silent ini," ucap Leonard sambil tertawa pelan.
"Tidak apa. Ehm Leonard, sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu. Ini tentang kejadian di malam pesta peluncuran waktu itu. Bisakah kita bertemu dan membicarakannya? Soalnya ini sangat penting buatku," tutur Evan sambil memperhatikan wajah cemas kedua sahabatnya, Aldi dan Daniel.
Leonard sempat terdiam sambil berpikir dan tidak lama setelah itu ia pun mengiyakan keinginan sahabatnya tersebut. "Ya, baiklah. Aku tunggu di lobby hotel, soalnya hari ini aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku."
"Ok, sipp! Aku akan segera ke sana," ucap Evan sembari bangkit dari posisi duduknya kemudian mengajak serta Daniel dan Aldi untuk ikut bersamanya kembali hotel tersebut, di mana Leonard sudah menunggu kedatangannya.
__ADS_1
***