
Setelah reaksi obat itu menghilang, Jimmy pun akhirnya sadar. Orang pertama yang ingin dia temui adalah istri dan bayinya yang baru lahir. Dengan tergopoh-gopoh Jimmy melangkahkan kakinya menuju ruangan Ze.
"Hei, kamu sudah sadar rupanya!" ucap Nick sembari menghampiri Jimmy kemudian membantu lelaki itu berjalan menuju ruangan istrinya.
"Sialan! Ini gara-gara kalian, seandainya kalian tidak memerintahkan Perawat itu untuk menyuntikku, mungkin aku sudah bisa menimang bayiku saat ini," kesalnya.
"Halah, seharusnya kamu berterima kasih kepada kami. Jika kamu tidak diberikan obat penenang, entah sampai kapan acara lahiran ini akan selesai. Akan terus ada drama dan drama lagi," jawab Nick sambil mencebikkan bibirnya.
Jimmy mendengus kesal dan tidak bisa berkata apapun lagi karena apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu ada benarnya.
"Bagaimana rupa bayiku? Dia pasti sangat tampan, 'kan? Persis seperti aku," ucap Jimmy kemudian dengan bangganya.
"Enggak! Dia memang tampan, tapi sama sekali tidak mirip denganmu," goda Nick.
"Ah, dasar!" kesal Jimmy.
Akhirnya mereka pun tiba di ruangan Ze. Wanita itu tersenyum lebar ketika Jimmy masuk ke dalam ruangannya. "Syukur lah, akhirnya kamu sadar juga, Mas."
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Jimmy yang kini berjalan menghampiri tempat tidur Ze kemudian duduk di sana. Sedangkan Nick hanya mengantarkan lelaki itu hingga depan pintu ruangan. Setelah itu ia kembali bergabung bersama komplotannya.
"Sudah lebih baik. Kamu sendiri?" tanya Ze balik.
"Aku pun sama, sudah lebih baik. Ngomong-ngomong, di mana bayi kita? Aku bahkan belum melihat bagaimana wajah putra pertama kita," ucap Jimmy sambil memperhatikan sekeliling ruangan itu.
"Bersama Mommy. Bahkan Ibu saja tidak sempat menimang cucu pertamanya, karena Mommy sama sekali tidak ingin melepaskan bayi kita dari pelukannya," tutur Ze sambil terkekeh pelan.
"Dasar, Mommy!"
Tepat di saat itu Mommy Martha masuk ke dalam ruangan Ze sambil menggendong bayi pertama mereka. "Wah, Sayang! Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Om Nick, Daddy-mu sudah sadar," ucap Mommy Martha dengan wajah semringah menghampiri tempat tidur Ze.
__ADS_1
"Sini, Mommy. Biar aku menggendongnya. Aku ingin sekali melihat bagaimana wajah putra pertamaku," ucap Jimmy.
"Baiklah, ini dia. Sambut yang benar, nanti cucuku jatuh lagi," gumam Mommy Martha sambil menyerahkan bayi mungil tersebut kepada Jimmy.
"Iya-iya!" Dengan sangat hati-hati, Jimmy menyambut bayi mungilnya.
"Bagaimana? Dia sangat tampan 'kan, Jimmy?" ucap Mommy Martha.
"Eh, kenapa wajahnya terlihat tidak mirip aku, Mom? Wah, aku kemana aku harus protes ini!" celetuk Jimmy.
"Ish, kamu ini! Apa kamu mau tahu mirip siapa bayi mungil ini?" tanya Mommy Martha sambil tersenyum tipis menatap Jimmy.
"Siapa?!" tanya Jimmy sambil menautkan kedua alisnya.
"Mendiang Daddy-mu, Jimmy! Lihatlah, matanya, hidungnya, bahkan bentuk jari-jari mungilnya, semuanya milik Daddy-mu," tutur Mommy Martha dengan sangat antusias.
"Wah, pantas saja sejak tadi Mommy tidak ingin melepaskannya," sela Ze sambil terkekeh pelan.
"Ya, Mommy benar." Ze pun setuju dengan pendapat Mommy Martha tersebut.
***
8 tahun kemudian.
"Ayo, Jack! Tunjukkan kemampuanmu," ucap Tuan Harold kepada putra pertama Jimmy dan Ze yang bernama Jake Wiliam. Ia menyerahkan sebuah soft gun yang berisi peluru yang terbuat dari plastik kepada bocah itu.
"Ta-tapi, Kek ... Jake takut," lirihnya dengan tangan bergetar saat meraih soft gun tersebut dari tangan Tuan Harold.
"Ayolah, Jake! Kakek yakin kamu pasti bisa!" ucap Tuan Harold lagi, mencoba memberi semangat kepada bocah penakut itu.
__ADS_1
Bukan hanya Jake yang ketakutan. Seseorang di depan sana yang ditugaskan oleh Tuan Harold untuk memegang sebuah apel di atas kepalanya, juga ketakutan setengah mati.
"Jangan! Jangan mau, Jake!" ucap Nick dengan berbisik hingga Tuan Harold tidak mendengar apa yang diucapkan oleh lelaki itu.
Bayangkan saja, bagaimana Nick tidak ketakutan. Seorang bocah penakut yang baru berusia 8 tahun dipaksa menembakkan soft gun tersebut, tepat ke buah apel yang ada di atas kepalanya.
Oke lah kalau tembakan bocah itu tepat sasaran, tapi kalau tidak? Alamat wajah tampannya bakal jadi sasaran empuk peluru yang terbuat dari plastik tersebut.
Akibat 'kelebayan' Jimmy ketika Ze melahirkannya, sekarang bocah tampan itu pun ikut-ikutan lebay dan penakut parah. Bahkan dengan adik perempuannya pun, Jake sering kabur dan melarikan diri ketika bocah cantik itu iseng dan terus menggodanya.
"Ayolah, Abang! Masa begitu saja tidak bisa?" pekik Jill Natasha sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Fokus pada buah apel itu, Jake. Jangan pernah hiraukan yang lain. Anggap saja yang lain itu adalah rumput-rumput yang bergoyang," tutur Tuan Harold.
Jake memperhatikan sekelilingnya untuk sesaat, kemudian kembali menatap sang Kakek. "Tapi sepertinya rumput-rumput itu sedang menertawakan aku, Kek!" lirihnya.
Tuan Harold menepuk jidatnya kemudian menghembuskan napas berat. Sekarang ia pasrah karena bocah itu penakutnya sudah terlalu akut. "Ya, sudahlah. Tembak saja," titahnya.
"Ja-jangan!" gumam Nick yang hampir saja terkencing di celana.
"Ba-baiklah, Kek!" Hingga akhirnya,
Dorrr!!!
"Awww!" pekik Nick, karena apa yang ia takuti akhirnya terjadi juga.
...❤ The End ❤ ...
Kisah Jimmy dan Ze, akhirnya End juga 🥰😘 Seperti yang author bilang, cerita ini hanya buat seru-seruan aja, jadi gak ada konflik berat 🥰🥰🥰 Dan karena mereka sudah bahagia, jadi Author gak pengen nambah konflik lagi 😘😘😘 Insyaallah, kalau sempat besok akan Author kasih ekstra partnya. 😘😘😘
__ADS_1
Bye, semuanya! Jumpa lagi di karya selanjutnya 😘😘😘 Terima kasih atas semua dukungannya. Walaupun karya ini sepi, tapi dengan adanya komentar dan like dari kalian semua, itu sudah cukup bikin emak semangat nulis karya ini hingga tamat 🥰🥰🥰
...❤ TERIMA KASIH BANYAK ❤...