My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Penyesalan Daniel


__ADS_3

Sebelum berangkat ke kantornya, Evan berniat mampir ke kediaman Daniel. Sudah lama ia tidak bertemu dengan sahabatnya itu. Terakhir kali mereka bertemu, Daniel masih duduk di atas kursi roda.


"Pak, tolong antar aku ke kediaman Daniel. Aku ingin menjenguknya sebelum kita pergi ke kantor," titah Daniel kepada Sopirnya.


"Baik, Tuan." Pak Sopir itu pun segera mengubah arahnya dan kini melaju menuju kediaman Daniel.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Pak Sopir itu pun tiba di depan kediaman Daniel. Evan bergegas keluar dari mobil tersebut kemudian menghampiri pintu rumah Daniel.


Cukup lama Evan berdiri di sana sambil mengetuk pintu tersebut hingga akhirnya pintu itu pun terbuka. Tampak seorang pelayan yang bekerja di kediaman Daniel, menyambut kedatangan Evan. Wanita paruh baya tersebut tersenyum hangat sembari mempersilakannya untuk masuk ke dalam.


"Silakan masuk, Tuan Evan," ucap Pelayan.


"Terima kasih, Bi," jawab Evan.


Evan pun masuk dan mengikuti pelayan tersebut dari belakang. Evan menghentikan langkahnya ketika tiba di ruang utama dan duduk di sana setelah pelayan itu mempersilakannya untuk duduk.


"Tunggu sebentar ya, Tuan. Sebentar lagi Tuan Daniel akan segera turun," ucap Pelayan tersebut.


Evan pun menganggukkan kepalanya dan menunggu kedatangan Daniel sambil bersantai di ruangan itu. Tidak berselang lama, Daniel pun tiba di ruangan itu dengan tergopoh-gopoh. Daniel berjalan dengan dibantu dua buah tongkat yang dia apit di antara kedua ketiaknya.


"Daniel," sapa Evan sembari bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Daniel. Ia membantu sahabatnya tersebut hingga duduk di sofa.

__ADS_1


"Terima kasih, Evan." Daniel tersenyum hangat kemudian meletakkan kedua tongkatnya di samping sofa yang ia duduki.


"Tumben pagi-pagi begini kamu sudah berkunjung ke sini. Mana tidak bilang-bilang lagi," sambung Daniel sambil terkekeh pelan.


"Ehm, sebenarnya kunjungan ini dadakan. Tiba-tiba saja aku ingin menjengukmu sebelum aku pergi ke kantor," tutur Evan sambil memperhatikan kondisi sahabatnya itu.


"Enak ya jadi boss, bisa berangkat kapan saja kita mau," goda Daniel.


Even tersenyum tipis kemudian kembali berucap. "Bagaimana kakimu, Daniel? Sepertinya sudah ada sedikit perkembangan, ya," ucap Evan.


Daniel memperhatikan kakinya sambil tersenyum kecut. "Ya, seperti inilah. Paling tidak kaki ini masih bisa berfungsi walaupun masih terbatas," jawabnya.


Daniel mengangkat kepalanya kemudian menatap Evan dengan wajah serius. "Van, apa kamu bisa membantuku? Bisakah kamu mempertemukan aku dengan Ze? Aku ingin sekali bertemu dengannya dan ingin meminta maaf padanya atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan selama ini," tutur Daniel.


"Ya, Evan. Aku ingin meminta maaf kepada Ze dan semoga saja Ze bersedia memaafkan aku," ucap Daniel. "Apa kamu tahu, Evan. Semenjak kecelakaan itu, aku merasa seperti orang gila. Tiap hari aku terus dibayang-bayangi oleh rasa bersalahku terjadap gadis itu. Aku sampai pergi ke orang pintar dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi padaku. Orang pintar itu mengatakan bahwa aku harus segera meminta maaf kepada Ze agar jiwaku menjadi lebih tenang," sambung Daniel dengan raut wajah penuh penyesalan.


Evan mengulum senyum. Ternyata bukan hanya dirinya yang dihantui oleh rasa bersalah kepada Ze. Sekarang Daniel pun merasakan apa yang ia rasakan sebelumnya.


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini. Jika kamu memang ingin bertemu dengannya, nanti aku akan meminta izin kepada Om Jimmy terlebih dahulu dan semoga saja dia mengizinkanmu," sahut Evan.


"Bagaimana jika Om Jimmy tidak mengizinkanku?" tanya Daniel dengan wajah cemas.

__ADS_1


"Itu deritamu!" Evan tergelak. "Maaf, aku hanya bercanda. Aku yakin Om Jimmy pasti mengizinkanmu," lanjut Evan.


Wajah cemas Daniel tampak berkurang dan lelaki itu akhirnya bisa menyunggingkan senyuman lega setelah mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Daniel memperhatikan wajah Evan dan ia tahu bahwa sahabatnya itu pun sedang memiliki masalah.


"Kamu kenapa, Van? Sepertinya kamu juga sedang ada masalah," tanya Daniel.


Evan menghembuskan napas berat kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. "Ya, masih sama seperti semalam. Ini tentang Ze," jawabnya.


Daniel tertawa pelan. "Ya, Tuhan! Ze lagi, Ze lagi!"


"Ya, gadis itu benar-benar hebat! Dia membuat hidup kita menjadi tidak tenang," jawab Evan sambil tersenyum kecut.


"Ya, kamu benar. Apa sebaiknya aku ajak Aldi sekalian, ya? Biar dia ikut bersamaku untuk meminta maaf kepada Ze," ucap Daniel.


"Boleh juga, sih. Tapi ... apakah Aldi sudah bisa diajak bicara sekarang?" tanya Evan.


"Ya, sudah agak mendingan. Dia sudah bisa di ajak bicara walaupun kadang-kadang tidak nyambung. Kita tanya apa, dia malah menjawab apa," tutur Daniel sambil terkekeh pelan.


"Kasihan Aldi."


"Tidak perlu mengasihaninya, Evan. Tapi kasihanilah dirimu sendiri yang akhirnya terjebak cinta pada gadis yang dulu kita anggap culun dan kampungan itu. Dan yang lebih parahnya lagi gadis itu sekarang sudah menjadi istri dari Om-mu sendiri," sahut Daniel.

__ADS_1


"Kurang aj*r kamu!" kesal Evan sembari melempar bantal sofa ke arah Daniel. Sedangkan Daniel tergelak dan menangkap bantal sofa yang dilemparkan oleh Evan.


...***...


__ADS_2