
Hampir seharian Ze bekerja dengan perasaan tidak menentu. Ia terus terngiang-ngiang akan ejekan dari lelaki dewasa tersebut. Walaupun tampan, tetapi mulut lelaki itu pedas sepedas bon cobek level 30.
"Astaga, lelaki tua itu benar-benar mengesalkan!" gumam Ze sembari meluruskan kakinya. Gadis itu bersandar di dinding gudang tempat penyimpanan alat-alat kebersihan yang biasa ia dan kawan-kawannya gunakan di saat bekerja.
Ketika Ze tengah melepas penat, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari seseorang yang benar-benar tidak pernah ia duga sama sekali. Ze menerima panggilan dari nomor tak bernama tersebut tanpa curiga sedikitpun.
"Ya?"
"Ze, ini aku, Evan. Maaf, jika aku mengganggumu," ucap Evan dari seberang telepon.
Ze begitu senang mendapatkan panggilan tak terduga itu. Dengan penuh semangat Ze menjawab pertanyaan dari Evan. Bahkan saking bahagianya, ia sampai melupakan kekesalannya terhadap lelaki dewasa yang membuatnya bad mood sepanjang hari.
"Tidak, Tidak! Kamu tidak mengganggu, kok. Lagian aku juga sudah off dan bersiap untuk pulang," jawab Ze.
"Benarkah? Oh, syukurlah. Ehm begini, Ze ... sebenarnya malam ini aku ingin mengajakmu makan malam. Apa kamu bersedia menemaniku? Jika ya, maka aku akan segera menjemputmu," ucap Evan sambil menahan tawanya.
"Makan malam? Serius?!" pekik Ze dengan wajah semringah.
"Ya, itu pun jika kamu bersedia menemaniku," sambung Evan.
__ADS_1
"Ya, tentu saja! Aku mau," jawab Ze dengan sangat antusias.
"Baiklah, share lokasimu dan aku akan menjemputmu jam 8 nanti malam," ucap Evan.
"Baik."
Ze merasa sangat beruntung. Ia tidak menyangka bahwa dirinya yang tergolong gadis biasa-biasa saja, bisa jalan bahkan makan malam bersama seorang pengusaha tampan sekelas Evan.
"Ya, Tuhan! Mimpi apa aku tadi malam, ya? Ah, yang jelas aku tidak memimpikan Om-Om mengesalkan itu," gumam Ze seraya merapikan barang bawaannya kemudian bersiap kembali ke kediamannya.
Ze menaiki sebuah bus yang memang sering mengantarkannya pulang dan pergi bekerja. Ia duduk di samping jendela kaca sambil memperhatikan kondisi jalan yang cukup padat dengan lalu lalang kendaraan bermotor.
Cukup lama Ze memperhatikan kegiatan orang-orang di sepanjang jalan yang ia lewati. Hingga akhirnya tatapan Ze fokus pada seorang lelaki dewasa bertubuh besar sedang berdiri di pinggir jalan dengan gagahnya. Tepat di depan tempat Gym, di mana ia dan lelaki dewasa itu bertabrakan.
Sebelum Ze memalingkan wajahnya, ternyata lelaki itu pun menyadari keberadaan Ze di dalam bus tersebut. Kebetulan jendela kaca di samping Ze memang terbuka dan wajah Ze terlihat jelas dari tempat Om-Om itu berdiri.
Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Om-Om itu melambaikan tangannya kepada Ze sambil tersenyum manis. Dan hal itu membuat Ze benar-benar kesal dibuatnya.
"Astaga-naga! Lihatlah, dia tersenyum padaku tanpa merasa bersalah sedikitpun." Ze menggelengkan kepalanya pelan, tak mengerti apa yang ada di kepala lelaki dewasa tersebut.
__ADS_1
Ze memalingkan wajahnya hingga bus yang ia tumpangi melewati tempat itu hingga beberapa meter jauhnya. "Semoga aku tidak bertemu dengan lelaki itu lagi," ucap Ze dalam hati.
Tidak berselang lama bus yang ia tumpangi tiba di pemberhentian depan komplek. Ze bergegas menuju kediamannya sembari berlari kecil.
"Bu, aku sudah pulang!" teriak Ze seraya melepaskan sepatunya kemudian meletakkannya di samping pintu.
"Wuih, tumben pulang cepat," sahut Bu Lidya yang baru saja selesai mengangkat jemurannya di pekarangan belakang rumah mereka.
"Nanti malam Ze udah janjian sama teman mau jalan-jalan. Boleh ya, Bu?" rengek Ze sambil memasang wajah memelas agar wanita itu mengizinkannya.
Bu Lidya menatap wajah Ze dengan penuh selidik. "Laki atau perempuan?"
"Busyet, kalau aku bilang 'laki' pasti Ibu tidak akan mengizinkan aku pergi. Apa aku harus berbohong, ya? Ayolah Ze, berbohong demi kebaikan. Yang pasti kebaikanku," gumam Ze dalam hati.
"Pe-perempuan, Bu."
Bu Lidya memicingkan matanya. Entah wanita itu percaya atau tidak pada omongan Ze saat itu.
"Ya, sudah. Tapi jangan terlalu malam ya, Ze. Kamu anak cewek, tidak baik keluyuran malam-malam. Kamu tahu sendiri 'kan bagaimana mulut Ibu-Ibu di sini. Begitu kamu melakukan kesalahan, walaupun itu hanya kesalahan kecil, mereka pasti akan mencibirmu habis-habisan dan terus mencari kesalahan lainnya."
__ADS_1
Ze menganggukkan kepalanya pelan. "Siap, Bu. Pasti Ze ingat semua ucapan Ibu."
***