
(Maaf ya, Readers 🙏 Author gak bikin malam pertamanya Bu Lidya dan Tuan Harold 🤭 Secara ini bulan baik, jadi ceritanya yang baik-baik aja dulu, ya 😊👍)
Beberapa bulan kemudian.
Jimmy membantu Ze mempersiapkan barang-barang milik Ze dan juga baby-nya nanti ketika di Rumah Sakit. Ze yang sudah mulai merasakan mulas-mulas pada perutnya, duduk di tepian tempat tidur sambil mengelus perutnya yang membulat tersebut.
"Bagaimana, Mas, sudah selesai?" tanya Ze yang sejak tadi memperhatikan wajah Jimmy yang tampak memucat. Ze yang akan melahirkan, tetapi Jimmy lah yang dilanda ketakutan.
"Su-sudah, tinggal sedikit lagi," jawab lelaki itu dengan ekspresi yang tampak panik.
Ze terkekeh pelan. "Oh, kemarilah, Tuan Jimmy-ku sayang! Jangan takut, aku tidak akan kenapa-napa, kok," ucap Ze sembari mengulurkan kedua tangannya kepada lelaki itu.
Jimmy menghampiri Ze kemudian memeluk wanita itu dengan erat. "Aku sudah mencoba tenang, tetapi tetap tidak bisa, Sayang. Aku tidak bisa mengendalikan kecemasanku," jawabnya.
"Sudahlah, Mas. Percayalah padaku, bahwa aku akan baik-baik saja," tutur Ze lagi.
"Jimmy, mobilnya sudah siap? Kapan kalian akan berangkat?" Terdengar suara Mommy Martha dari balik pintu.
Sebenarnya bukan hanya Jimmy, Mommy Martha pun tidak kalah cemas. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Ze nanti ketika melahirkan.
"Baik, Mommy. Kami akan segera keluar," sahut Jimmy dari dalam kamarnya.
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban Jimmy, Mommy Martha pun segera kembali ke depan untuk menunggu kehadiran pasangan itu.
"Ah, seandainya bisa digantikan, aku ingin menggantikan posisi Ze," gumam Mommy Martha.
Mei mendengar ucapan wanita itu dengan jelas. Ia tersenyum kemudian mengelus lembut pundak majikannya tersebut. "Ah, Nyonya. Beruntung sekali Nona Ze mendapatkan mertua seperti Anda," ucapnya.
"Beneran, Mei. Seandainya bisa digantikan, aku siap menggantikan posisinya. Setidaknya aku memiliki pengalaman berojol dua kali, tetapi Ze? Ini adalah perdana untuknya," tutur Mommy Martha.
Mei kembali tersenyum kemudian merangkul Mommy Martha. Tepat di saat itu Ze dan Jimmy tiba di ruangan tersebut sambil bergandengan. Jimmy menuntun istri kecilnya dengan perlahan hingga menghampiri Mommy Martha dan Mei.
"Ze," pekik Mommy sembari memeluk tubuh Ze kemudian mendoakan yang terbaik untuk menantu kesayangannya itu.
"Sayang, semoga kamu dan bayimu selamat dan sehat tanpa kurang apapun," ucap Mommy Martha dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu saja, Nak. Mommy memang akan segera menyusulmu ke Rumah Sakit bersama MMei dan Evan," jawab Mommy Martha.
"Benar kah? Wah, Terima kasih, Mommy. Ibu dan Ayah pun sudah berjanji akan datang ke Rumah Sakit, sepertinya mereka pun tengah mencemaskan aku." Ze melerai pelukannya bersama Mommy Martha kemudian tersenyum kepada wanita paruh baya tersebut.
"Ya, Ze sayang. Tidak ada orang tua yang tenang ketika putri kesayangannya, akan melahirkan," jawab Mommy Martha.
"Ya, sudah, Mom. Sebaiknya kami segera berangkat," sela Jimmy dengan wajah yang masih terlihat sangat cemas.
__ADS_1
"Ya. Kamu benar, Jimmy. Ayo, sebaiknya kalian berangkat sekarang," jawab Mommy Martha sambil tersenyum getir.
Mommy Martha dan Mei mengantarkan Ze dan Jimmy hingga ke halaman depan, di mana Pak Sopir pribadi Mommy Martha sudah menunggu kedatangan pasangan itu.
Setelah Ze dan Jimmy masuk ke dalam mobil, Pak Sopir itu pun segera melakukan mobilnya menuju Rumah Sakit bersalin, di mana Ze memang sudah membuat janji di sana bersama Dokter langganannya.
"Sudah, jangan cemas lagi. Aku akan baik-baik saja kok, Mas. Lagi pula Dokter yang menanganiku hari ini adalah Dokter yang sudah berpengalaman di bidangnya, bahkan Mommy saja tahu itu," ucap Ze sembari mengelus lembut pipi Jimmy agar lelaki itu bisa sedikit lebih tenang.
"Aku takut, Ze. Sangat takut, aku takut mereka menyakitimu," jawab Jimmy.
"Tidak ada yang akan menyakitiku," jawab Ze.
"Ingat ya, Mas. Jangan macam-macam ketika di sana nanti. Tolong kontrol ketakutanmu. Jangan sampai Dokter kabur karena takut padamu dan meninggalkan aku sendirian di ruang bersalin. Benar-benar tidak lucu," lanjut wanita itu.
Yang Ze takutkan selama ini bukanlah rasa sakit yang akan ia rasakan ketika melahirkan. Namun, ia lebih takut suaminya yang Trypanophobia tersebut akan melakukan hak-hal yang di luar dugaan dan membuat para Dokter serta Perawat kabur melarikan diri.
Jimmy menatap wajah Ze sambil tersenyum getir. "Apa aku harus menghubungi Nick?" tanyanya.
"Untuk apa?" tanya Ze.
"Untuk jaga-jaga! Siapa tahu aku kehilangan kontrol dan mereka bisa menahanku, benar 'kan?"
__ADS_1
Ze menepuk jidatnya. "Ayolah, Sayang. Jangan permalukan dirimu!" kesal Ze. "Tapi, terserah lah, selama mereka bisa membantumu," lanjut Ze.
...***...