
"Ayo, Ze. Cepatlah bersiap-siap, sebentar lagi kita sarapan. Mommy pasti sudah menunggu kita di ruang makan," ucap Jimmy yang tengah merapikan lengan kemeja yang sedang ia kenakan.
"Ah, iya. Baiklah," sahut Ze.
Ze segera masuk ke dalam kamar mandi kemudian melakukan ritual mandi dengan cepat. Akibat membahas masalah 'bisa anaconda' yang dapat menyebabkan bisulan selama sembilan bulan sepuluh hari, Ze sampai lupa akan ritual mandinya.
"Om Jimmy ada-ada saja, masa bisulan sampe sembilan bulan sepuluh hari! Kenapa tidak sekalian aja sampe satu tahun gitu, biar puas!" gerutu Ze sembari mengenakan kinomo mandinya setelah ia selesai melakukan ritual mandi ekspres ala dirinya.
Ze bergegas keluar dari ruangan tersebut kemudian menghampiri lemari pakaian, di mana Jimmy menyimpan tas berisi pakaian miliknya. Ze meraih sebuah dress yang menurut Ze paling bagus dan mengenakan dress tersebut.
Dress sederhana yang ia beli di pasar malam, dekat kediamannya dengan harga lumayan terjangkau untuknya. Sementara Ze tengah bersiap-siap, Jimmy sudah menunggunya dengan sabar di dekat tangga.
Tidak berselang lama, Ze pun tiba. Ia segera menghampiri Jimmy sambil melemparkan senyuman hangatnya. Jimmy memperhatikan penampilan istri kecilnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Maaf lama, Om." Kini Ze berdiri di hadapan Jimmy.
"Tidak apa-apa," sahut Jimmy sembari melirik jam tangannya. "Hari ini, setelah aku kembali dari tempat gym, aku ingin mengajakmu membeli pakaian dan juga kebutuhanmu yang lainnya, Ze," lanjut Jimmy seraya melangkah kakinya menuruni anak tangga bersama Ze yang mengikutinya dari samping.
"Loh, memangnya aku kenapa, Om? Apakah aku terlihat jelek dengan pakaian ini? Jika benar, izinkan aku menggantinya sebentar, ya," sahut Ze yang tampak mencemaskan penampilannya saat ini.
__ADS_1
Jimmy tersenyum kemudian menghentikan langkahnya. Ia menatap gadis itu kemudian menyentuh pipinya pelan. "Bukan itu maksudku, Ze. Kamu gadis yang manis, ehm ... bukan, tetapi cantik. Bagiku kamu gadis yang cantik. Namun, karena kamu sekarang sudah menjadi istriku, itu artinya semua kebutuhanmu adalah tanggung jawabku. Salah satunya memberikan pakaian yang bagus buatmu," tutur Jimmy.
Setelah mengucapkan hal itu, Jimmy kembali meneruskan langkahnya menuruni anak tangga sedangkan Ze masih mematung di tempatnya berdiri sambil memikirkan penuturan Jimmy yang terdengar begitu manis di telinganya.
"Mungkin inilah yang sering dikatakan oleh Ibu kepadaku. Menikahlah dengan lelaki yang memiliki cara berpikir dewasa agar dia bisa mengayomiku dan juga anak-anak kami kelak," batin Ze.
"Ze, apa yang kamu lakukan di sana? Jangan bilang kamu masih memikirkan soal 'bisa anaconda-ku', ya!" goda Jimmy sambil tertawa pelan di dasar tangga.
"Ah, ya! Tunggu sebentar, Om," jawab Ze seraya berlari kecil menuruni tangga dan segera menyusul Jimmy yang sudah berjalan mendahuluinya.
"Dia memang baik dan cukup perhatian, Bu. Tapi sayang, otaknya sangat mesum!" gerutu Ze.
Ze menautkan kedua alisnya. "Memangnya kenapa, Om?"
"Nanti Mommy tahu bahwa pernikahan kita ini hanyalah didasari oleh keterpaksaan dan aku tidak ingin Mommy tahu tentang itu. Jadi, berakting lah dengan baik. Berakting lah seolah kita sama-sama saling mencintai," tutur Jimmy.
Ze terdiam untuk sesaat. Ia memikirkan ucapan lelaki itu dan setelah mengerti, ia pun kembali bertanya. "Lalu aku harus memanggil Om apa?"
"Sayang, mungkin?" Jimmy mencoba memberikan saran kepada Ze.
__ADS_1
"Ehm, baiklah," sahut Ze.
Ze dan Jimmy tiba di ruang makan, ternyata di ruangan tersebut sudah menunggu Mommy Martha dan juga Evan. Evan sempat memperhatikan pasangan itu sejenak, kemudian ia kembali membuang pandangannya ke arah lain.
"Sini, Nak! Mari duduk di samping Mommy," ucap Mommy Martha sembari menunjuk ke arah kursi kosong yang biasanya di duduki oleh Jimmy.
"Bukannya itu kursiku, Mom?" protes Jimmy.
"Ah, mengalah lah sama istrimu, Jimmy," sahut Mommy Martha.
Jimmy tidak pernah bisa berkata 'tidak' kepada Mommy Martha, setelah wanita itu sempat sakit akibat dirinya, beberapa tahun yang lalu. Jimmy menarik kursi yang biasa ia duduki dan mempersilakan Ze untuk duduk di sana.
"Duduklah, Ze."
"Terima kasih, O ... Sayang," sahut Ze sambil tersenyum getir. Entah kenapa ia belum terbiasa dengan panggilan itu dan ketika ia menyebutnya, mulutnya terasa sangat gatal.
Mommy Martha tersenyum mendengar panggilan baru Ze kepada Jimmy. Namun, berbeda dengan Evan, lelaki itu terlihat menekuk wajahnya dengan kesal ketika mendengar Ze memanggil Om-nya dengan sebutan 'Sayang'.
...***...
__ADS_1