
"Sebenarnya ada hubungan apa antara Tuan Harold dan wanita itu? Sepertinya mereka sangat mengenal satu sama lain," bisik Nick kepada Jimmy yang masih memperhatikan perdebatan kecil antara Tuan Harold dan Bu Lidya.
"Entahlah, aku pun tidak tahu," jawab Jimmy.
Bukan hanya Jimmy dan kawan-kawan yang bingung, Mommy Martha dan Mei pun tidak menyangka bahwa ternyata Bu Lidya begitu mengenal sosok Tuan Harold. Sang Kepala komplotan para mafia sangar tersebut.
Sementara semua orang mulai bertanya-tanya sejak kapan kedua orang itu saling mengenal, Ze sibuk menenangkan Bu Lidya yang terlanjur kesal dengan Tuan Harold.
"Sebaiknya kita duduk dulu, Bu. Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik," bujuk Ze sambil merangkul pundak Bu Lidya dan mengajaknya ke sofa.
Bu Lidya pun mengikuti permintaan Ze, tetapi mulutnya tidak berhenti berdumel. Sementara Tuan Harold hanya bisa pasrah dan mengikuti kedua wanita itu dari belakang. Setelah Ze dan Bu Lidya duduk, Tuan Harold pun segera menyusul dan kembali ke posisinya semula.
"Kenapa kamu menculik anakku, ha?" tanya Bu Lidya dengan sorotan tajam tertuju pada Tuan Harold.
"Bu," sela Ze.
"Kamu diam! Biarkan lelaki ini menjelaskan semuanya," sambung Bu Lidya dengan mata melotot menatap Ze membuat anak perempuannya itu bungkam dan tidak berani lagi berkata-kata.
"Sebenarnya aku tidak memiliki niat untuk menyakiti anak perempuanmu sedikitpun, Lidya. Aku hanya ingin bertemu Jimmy. Namun, karena Jimmy tak kunjung menemuiku, akhirnya aku memutuskan untuk menculik Ze agar ia datang ke tempat ini," tutur Tuan Harold dengan wajah sendu.
Nick terkekeh pelan kemudian berbisik kepada Jimmy. "Aku curiga, mungkin di antara Tuan Harold dan Ibu mertuamu pernah ada hubungan di masa lalu mereka. Coba lihatlah bagaimana cara Tuan Harold menatap Ibu mertuamu, Jimmy."
__ADS_1
"Hush! Sok tahu kamu," balas Jimmy.
"Bukan sok tahu, tetapi instingku mengatakan seperti itu," lanjut Nick.
"Halah, jangan-jangan itu hanya alasanmu saja," gerutu Bu Lidya lagi.
"Sumpah, demi Tuhan, Lidya. Aku tidak bohong. Selama kamu mengenalku, apa aku pernah bohong kepadamu? Tidak 'kan?" sahut Tuan Harold.
Bu Lidya terdiam karena apa yang dikatakan oleh lelaki itu benar adanya. Selama Bu Lidya mengenal Tuan Harold, lelaki itu selalu berkata jujur kepadanya. Ze menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia penasaran sejak kapan Ibunya mengenal sosok Tuan Harold, sang kepala mafia tersebut.
"Boleh aku bertanya sesuatu kepada kalian?" tanya Ze sembari menatap wajah Bu Lidya dan Tuan Harold secara bergantian. Tuan Harold menganggukkan kepalanya sedangkan Bu Lidya hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Ze saat itu.
"Sejak kapan kalian saling mengenal? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Ze dengan wajah heran.
"Sebenarnya--"
Tuan Harold dan Bu Lidya menjawab serempak dan menghentikan ucapan mereka pun secara serempak pula. Tuan Harold tersenyum tipis ketika menatap Bu Lidya. Begitu pula wanita paruh baya tersebut, ia tampak malu-malu dan segera mengalihkan pandangannya.
"Biar aku saja yang menjelaskannya," ucap Tuan Harold kepada Bu Lidya.
"Kamu pasti akan terkejut jika tahu siapa aku, Ze. Aku adalah pamanmu, Adik dari mendiang Ayahmu," tutur Tuan Harold, yang mengejutkan semua orang di ruangan itu. Termasuk Jimmy dan Mommy Martha.
__ADS_1
Mata Ze membulat sempurna, ia begitu terkejut setelah tahu bahwa Tuan Harold adalah Pamannya. Bu Lidya pun tidak kalah terkejutnya, ia tidak menyangka bahwa suaminya yang selama ini menghilang tak tahu rimbanya, ternyata sudah meninggal dunia.
"Ja-jadi Gerald sudah meninggal?!" pekik Bu Lidya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Tuan Harold menganggukkan kepalanya perlahan. "Ya, Lidya. Gerald sudah meninggal, satu tahun setelah ia meninggalkanmu karena sakit yang di deritanya."
Bu Lidya terdiam sejenak. Terlihat jelas kesedihan di raut wajahnya saat itu. Ia tahu bahwa Gerald memang memiliki riwayat penyakit jantung, tetapi ia tidak menyangka bahwa Gerald akan secepat itu meninggalkannya. Bu Lidya menghembuskan napas berat sebelum kembali bertanya kepada Tuan Harold tentang mendiang suaminya.
"Kamu jahat, Harold. Kenapa kamu tidak pernah memberitahukan soal Gerald kepadaku. Selama ini aku selalu berpikiran buruk tentangnya. Aku selalu berpikiran bahwa dia telah menikah lagi dan melupakan aku bersama Zea," lirih Bu Lidya yang akhirnya tak kuasa menahan air matanya untuk tidak jatuh.
"Maafkan aku, Lidya. Aku memang pernah mencoba mencari keberadaanmu, tetapi aku tidak menemukanmu," sahut Tuan Harold.
"Hhh, alasan! Aku tidak pernah pergi kemana pun. Aku masih tinggal di rumah sederhana kami bahkan hingga saat ini," sahut Bu Lidya dengan wajah menekuk.
Tuan Harold menghembuskan napas berat. Terlihat jelas penyesalan di wajahnya saat itu. "Maafkan aku," lirihnya.
"Lalu, di mana Gerald dimakamkan? Aku ingin mengunjungi makamnya," ucap Bu Lidya.
"Kebetulan aku memakamkannya tak jauh dari Villa ini berdampingan dengan makam kedua orang tua kami," jawab Harold. "Jika kalian ingin mengunjungi makamnya, aku bisa mengantarkan kalian," lanjutnya.
"Ya, aku ingin ke sana," sela Ze dengan mata berkaca-kaca. Bukan hanya Ze, Bu Lidya pun ingin sekali mengunjungi makam suaminya tersebut.
__ADS_1