
Ze menghentikan langkahnya sambil menelan saliva dengan susah payah. Tubuhnya mendadak gemetar tatkala melihat Bu Lidya berdiri di teras rumahnya sambil memegang sapu ijuk kesayangannya.
"Ya ampun, gaya Ibu sudah seperti Inspektur Ladu Singh yang siap menghadang para penjahat," gumam Ze sambil tersenyum kecut membalas tatapan Sang Ibu.
"Heh, kamu anak perawan! Sini," panggil Bu Lidya sambil bertolak pinggang.
"I-iya, Bu!" Dengan terbata-bata Ze menjawab panggilan Bu Lidya. Perlahan ia menghampiri wanita itu sambil pasang kuda-kuda. Ze takut senjata andalan wanita paruh baya tersebut mampir ke tubuh ratanya.
"Pukul berapa sekarang?" tanya wanita itu sambil menatap lekat kedua bola mata Ze.
"Maafkan Ze, Bu. Ze janji tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Ze sambil memasang wajah memelas agar wanita itu mengampuni kesalahannya.
Bu Lidya menghembuskan napas kasar kemudian melemparkan sapu ijuk yang sejak tadi ia pegang ke lantai. "Malam ini kamu Ibu maafkan, Ze. Walaupun kamu sudah membohongi Ibu. Tapi, lain kali Ibu pasti akan menghukummu."
"Maafkan Ze ya, Bu." Ze tersadar apa yang terjadi pada dirinya malam ini mungkin karena ia sudah berani membohongi Ibunya. Pertama soal dengan siapa ia pergi dan sekarang ia tiba tak tepat waktu.
"Ya, sudah. Sekarang masuklah," ucap Bu Lidya seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan di ikuti oleh Ze.
Sementara itu.
Setelah memarkirkan motor sport-nya ke dalam garasi, Jimmy segera melangkah memasuki sebuah rumah mewah yang berdiri kokoh di hadapannya sambil menenteng buket bunga mawar pemberian Ze. Tanpa ia sadari ternyata Evan memperhatikan dirinya dari kejauhan.
"Om Jimmy!" panggil Evan seraya berlari kecil menghampiri Jimmy.
__ADS_1
Jimmy menghentikan langkahnya kemudian menatap Evan yang datang mendekat ke arahnya sambil tersenyum hangat.
"Dari mana, Om?" tanya Evan sembari memperhatikan buket bunga mawar yang sedang di pegang oleh Jimmy.
"Cari makan, kamu?" tanya Jimmy balik sembari melangkahkan kakinya kembali memasuki rumah mewah yang merupakan peninggalan dari orang tuanya.
"Ngumpul bareng teman. Ehm, ngomong-ngomong buket bunganya sangat cantik, buat siapa, Om?" tanya Evan sambil terkekeh pelan.
Jimmy memperhatikan buket bunga tersebut kemudian tersenyum tipis. "Bukan untuk siapa, tetapi dari siapa. Aku mendapatkan buket bunga ini dari seorang gadis," jawab Jimmy sambil terus melangkah menuju kamarnya.
Evan terdiam dan menghentikan langkahnya. Ia terus menatap Jimmy yang semakin menjauh kemudian menghilang dari balik pintu kamarnya. "Entah kenapa feelingku mengatakan bahwa buket bunga itu adalah buket bunga yang baru saja kuberikan kepada Ze," gumam Evan.
***
"Malam ini bertepatan dengan pesta peluncuran produk terbaru milik Evan, Evan akan memutuskan hubungannya bersama gadis itu, Di. Bagaimana menurutmu?" tanya Daniel kepada Aldi via telepon.
"Ya, itu terserah Evan. Lagipula Evan memang tidak mencintai gadis itu, kok!" sahut Aldi.
Daniel menghembuskan napas berat. "Entah kenapa aku merasa kasihan pada gadis itu. Dia pasti kecewa berat setelah tahu bahwa selama ini Evan hanya mempermainkan dirinya."
"So pastilah! Siapa juga yang tidak kecewa kalau dipermainkan seperti itu?" celetuk Aldi.
"Di, aku punya ide. Apa kamu bersedia membantuku?" tanya Daniel dengan sebuah ide terkonyol yang tiba-tiba tercetus di kepalanya.
__ADS_1
"Ide apa?" tanya Aldi bingung.
"Nanti aku jelaskan, sebaiknya temui aku di Cafe X. Aku sedang bersantai di sini," jawab Daniel.
Singkat cerita, kedua sahabat itu bertemu di Cafe X, di mana Daniel sudah memesan minuman dan beberapa cemilan untuk mereka nikmati.
"Langsung saja deh, sebenarnya kamu punya ide konyol apa lagi?" ucap Aldi sembari meraih kopi yang tersedia di atas meja kemudian menyeruputnya.
"Begini, Di. Aku 'kan kasihan tuh sama gadis culun itu dan aku berencana ingin mengikat gadis itu dengan Evan. Ya ... terdengar agak jahat, sih! Tapi, siapa tahu dengan begitu akhirnya Evan sadar dan mereka benar-benar bisa bersatu beneran 'kan?!" tutur Daniel.
"Jangan bilang kamu ingin menjebak Evan bersama gadis itu, ya!" protes Aldi dengan wajah serius menatap Daniel.
"Tepat sekali!" seru Daniel.
"Baiklah, aku setuju! Kapan?" sahut Aldi dengan sangat antusias.
"Malam ini, tepat di acara peluncuran produk terbaru perusahaan milik Evan!"
Tanpa mereka sadari ternyata Evan juga berada di cafe tersebut. Lelaki itu tidak sengaja mampir ke Cafe X dan setelah melihat kedua sahabatnya berkumpul di sana, Evan pun segera mendekat.
Namun, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya setelah mendengar apa yang diperbincangkan oleh kedua sahabatnya tersebut. Evan tersenyum sinis kemudian bergumam. "Bagus! Mari kita lihat saja, apa kalian akan berhasil menjebakku malam ini?!"
...***...
__ADS_1