My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Ketahuan 'kan?!


__ADS_3

"Ya, iyalah! Aku tidak tahu, kenapa tadi malam tiba-tiba saja kami seperti orang kerasukan. Dan aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan minuman yang kalian berikan pada kami tadi malam sebelum tidur. Benar 'kan? Mengaku saja," tutur Jimmy sambil memperhatikan Mommy Martha dan Mei dengan penuh selidik.


"Ah, tidak! Minuman itu minuman biasa. Benar 'kan, Mei?" Mommy mencoba berkilah sambil menyenggol tangan Mei yang sedang duduk di sampingnya.


Mei kelabakan. Ia benar-benar gugup dan ketakutan saat ini karena akhirnya aksinya bersama Mommy Martha ketahuan oleh Jimmy. "E-iya, Tuan Jimmy. Nyonya benar, minuman itu hanya minuman biasa," sahut Mei dengan terbata-bata.


Jimmy mencebikkan bibirnya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kedua wanita itu. Apa lagi saat ini wajah Mei tetlihat memucat dan ketakutan. "Ayolah, Mommy! Mengaku saja, atau aku sendiri yang akan membongkarnya dan jika sudah begitu maka urusannya akan semakin ru--"


Belum habis Jimmy berbicara, mencoba menakut-nakuti kedua wanita itu, tiba-tiba saja Mommy memotong pembicaraan Jimmy dengan wajah memelas.


"Ya, ya! Itu benar, Jimmy. Itu semua ide Mei," sahut Mommy Martha yang takut disalahkan akhirnya memilih menyalahkan Mei.


Mei semakin ketakutan mendengar Mommy Martha malah menyalahkan dirinya atas kejadian itu. Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan cepat dan wajahnya terlihat semakin memucat.


"Tidak, Tuan Jimmy! Nyonya bohong, mana berani saya menyarankan hal seperti itu! Saya hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Nyonya saja," elak Mei.


Jimmy mengusap wajahnya kasar sambil tersenyum tipis. Akhirnya ia berhasil memancing kedua wanita itu untuk berkata jujur kepadanya. "Ya, Tuhan!" gumam Jimmy.


"Jadi ... sebenarnya minuman apa itu, Mei?" tanya Jimmy sambil memperhatikan ekspresi Mei yang sedang ketakutan.


"Sebenarnya itu minuman biasa yang dicampur dengan pil--" Mei menghentikan ucapannya karena Mommy Martha sedang melotot ke arahnya.

__ADS_1


"Kita sudah ketahuan, Nyonya. Sebaiknya kita mengaku saja," ucap Mei dengan setengah berbisik.


"Jangan! Nanti kupotong gajimu," ancam Mommy Martha yang juga bicara dengan setengah berbisik.


"Janganlah, Nyonya. Kasihani aku," sahut Mei dengan bibir mengkerut.


"Astaga, Mommy!" pekik Jimmy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Masih terlihat senyuman tipis itu di wajah tampannya. Hanya satu pertanyaan yang ada di dalam kepala Jimmy saat ini, untuk apa Mommy-nya melakukan hal bodoh itu.


"Sebenarnya untuk apa Mommy melakukan itu kepada kami?" tanya Jimmy dengan nada suara yang sudah jauh lebih lembut dari sebelumnya.


"Sebenarnya ... Mommy ingin kamu dan Ze secepatnya punya anak, Jimmy. Mommy sudah kebelet pengen punya cucu. Cucu Mommy sudah tua dan tidak bisa ditimang-timang lagi," sahutnya dengan wajah memelas.


"Loh, bagaimana jika Ze tidak mau memaafkan Mommy?" sahut Mommy panik.


Jimmy mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum. Ia melenggang begitu saja meninggalkan tempat itu. Sedangkan Mommy terlihat panik di sana, takut Ze tidak bersedia memaafkannya.


"Aduh, Mei! Gawat ini, bagaimana jika Ze tidak mau memaafkan perbuatan konyolku?"


"Ah, Nyonya tenang saja. Aku rasa lebih mudah berbicara dengan Nona Ze dari pada bicara dengan Tuan Jimmy, yakin deh!" sahut Mei, mencoba meyakinkan Mommy Martha yang sedang ketakutan.


"Begitu, ya?" tanya Mommy Martha lagi.

__ADS_1


"Ya, percayalah sama saya."


Sementara itu,


Jimmy sudah tiba di dalam kamarnya dan ia melihat Ze masih membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut. Jimmy menghampiri Ze dan duduk di samping tempat tidur mereka.


"Ze, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jimmy sambil memperhatikan selimut yang menutupi wajah Ze.


Ze masih merasa malu serta ada rasa takut saat membayangkan percintaan panas mereka semalam. "Masih seperti tadi, Mas," sahutnya dari dalam selimut.


Tepat di saat itu seorang pelayan mengetuk pintu kamar mereka. Pelayan itu membawakan nampan yang berisi sarapan serta obat untuk Ze.


"Masuklah, Bi," sahut Jimmy.


Pelayan itu masuk kemudian menyerahkan nampan tersebut kepada Jimmy. Jimmy pun bergegas menyambutnya dan meletakkannya di atas nakas.


"Ze, ini sarapanmu. Aku suapin, ya?" bujuk Jimmy.


Ze masih diam dan tak bergeming.


...***...

__ADS_1


__ADS_2