
Di saat Jimmy dan Ze saling melepas rindu, Tuan Harold masuk ke dalam ruangan tersebut setelah beberapa anak buahnya mengadu bahwa Jimmy datang dan mengamuk di Villa miliknya.
"Selamat datang kembali, Jimmy," sapa Tuan Harold kepada Jimmy ketika ia memasuki kamar yang digunakan oleh Ze untuk beristirahat.
Sontak Jimmy pun menoleh, begitu pula Nick dan lelaki itu. Jimmy segera bangkit dari tempat tidur kemudian berdiri di hadapan lelaki paruh baya tersebut.
"Tuan Harold," balas Jimmy sambil tersenyum tipis.
"Tidak kah kamu merindukanku, Jimmy?" sambung Tuan Harold.
"Ternyata Tuan Harold itu baik, Mas. Buktinya, apapun yang aku inginkan, dia selalu mengabulkannya," bisik Ze yang kini berdiri di samping Jimmy.
"Ya, kamu benar, Sayang. Tuan Harold memang baik," sahut Jimmy sambil mengelus puncak kepala Ze.
Tuan Harold, mengajak Jimmy, Ze dan beberapa orang anak buahnya ke ruang utama, di mana mereka dapat berbincang di ruangan itu dengan lebih leluasa. Mereka berbincang banyak, termasuk mengingat masa lalu mereka ketika masih bersama Jimmy.
"Wah, ternyata kamu sangat hebat ya, Mas! Pantas saja lelaki yang ingin menjambret tasku waktu itu langsung K.O setelah Mas memberinya pelajaran," pekik Ze setelah tahu bagaimana masa lalu Jimmy.
Bukannya takut atau khawatir, Ze malah senang setelah mengetahui bahwa Jimmy adalah mantan seorang mafia yang dulunya sangat ditakuti.
"Apa kamu ingin mengulang masa lalu bersama kami, Jimmy?" tanya Tuan Harold kepada Jimmy.
Jimmy tersenyum kemudian melirik Ze. "Bukannya aku menolak, Tuan Harold. Sekarang ini aku sudah memiliki seseorang yang harus lindungi. Aku memilih mundur demi keselamatan wanita ini dan juga calon bayi kami," sahut Jimmy sembari mengelus puncak kepala Ze yang duduk di sampingnya.
Tuan Harold pun tersenyum. "Buat kalian semua, jangan coba-coba jatuh cinta! Aku tidak ingin kehilangan satu-persatu dari kalian, seperti aku kehilangan Jimmy," ucap Tuan Harold sembari menunjuk ke seluruh anak buahnya yang ikut berkumpul di ruangan itu.
__ADS_1
"Siap, Boss!!!" sahut mereka serempak.
"Lah, bagaimana jika suatu saat Tuan Harold lah yang jatuh cinta? Maka habislah kami semua," celetuk Nick tanpa disaring terlebih dahulu.
Sebuah pena melayang ke arah Nick dan mengenai kepalanya. Pletak!
"Aw!" Nick mengelus kepalanya sambil memasang wajah kusut. "Ah, Tuan!"
"Hei, aku ini sudah tua! Tidak mungkin aku jatuh cinta di usia setua ini," gerutu Tuan Harold.
"Ya, siapa tahu 'kan tiba-tiba saja muncul seorang bidadari cantik dari masa lalu Anda dan akhirnya terjadilah CLBK," tutur Nick yang kemudian tergelak di ruangan itu dan diikuti oleh yang lainnya, termasuk Ze dan Jimmy.
"Apa itu CLBK?" tanya Tuan Harold sambil menautkan kedua alisnya.
"Halah, tidak mungkin!" elak Tuan Harold.
Sementara itu.
"Aduh, Mei ... tubuhku sakit semua," keluh Mommy Martha kepada Mei yang duduk di sampingnya. Setelah beberapa kali tersesat, akhirnya mereka pun menemukan jalan yang benar menuju Villa milik Tuan Harold.
"Tuh 'kan, Nyonya pasti membutuhkan saya. Coba kalau Nyonya pergi sendiri seperti kemauan Nyonya tadi pagi, bisa-bisa Nyonya menangis sendiri di mobil ini," celetuk Mei yang sedang memijit pundak Mommy Martha.
"Ini 'kan gara-gara kita tersesat. Coba seandainya kita tidak tersesat, mungkin kita sudah lama tiba di Villa itu dan aku tidak mungkin kelelahan seperti ini," sahut Mommy Martha.
"Lah, yang jadi petunjuk jalan 'kan, Nyonya." Mei terkekeh pelan, begitu pula Bu Lidya yang duduk di depan bersama Pak Sopir.
__ADS_1
"Hei, aku 'kan sudah lama tidak pergi ke tempat ini. Lagi pula jalan di sini sudah banyak berubah. Dulu itu ya, di sini tidak ada rumah penduduk, tapi lihat sekarang. Di setiap beberapa meter, kita sudah bisa menemukan rumah warga," ucap Mommy Martha yang tidak ingin disalahkan.
"Iya deh, kami percaya. Benar 'kan, Bu Lidya?" sahut Mei.
Bu Lidya yang tadinya tegang karena memikirkan bagaimana nasib anak perempuannya, setelah mendengar perdebatan kecil antara perawat dan majikan tersebut, ia malah ikut terkekeh dan ketegangannya pun mulai sedikit berkurang.
"Ya, saya pun percaya," jawab Bu Lidya.
Tidak berselang lama mobil yang ditumpangi oleh ketiga wanita itu pun tiba di depan Villa milik Tuan Harold. Mei dan Bu Lidya yang baru saja melihat keindahan tempat itu, begitu terpesona. Mereka bahkan tidak hentinya berdecak kagum, mengagumi keindahan pemandangan di tempat tersebut.
Beda halnya dengan Mommy Martha yang pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya, ketika Jimmy masih bergabung bersama Tuan Harold. Wanita paruh baya itu tampak biasa-biasa saja dan malah ekspresi wajahnya saat itu terlihat sedih.
Ia teringat di mana ia harus berjuang ketika ingin bertemu dengan Jimmy. Sementara suaminya tidak pernah peduli karena Jimmy tidak seperti kakaknya yang begitu ia banggakan. Sejak itu Mommy Martha sakit-sakitan dan akhirnya ia bertemu dengan Mei yang menjadi perawatnya hingga saat ini.
"Sebaiknya kita masuk," ajak Mommy Martha.
Mei dan Bu Lidya pun segera mengikuti langkah wanita paruh baya tersebut. Bu Lidya sempat memungut sebuah ranting yang ia temukan di halaman Villa dan membawanya masuk.
"Untuk apa ranting itu, Bu?" tanya Mei heran.
"Memukul penjahat itu lah, untuk apa lagi," sahut Bu Lidya mantap.
Mei tersenyum kecut. "Semoga berhasil ya, Bu."
...***...
__ADS_1