My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Gym


__ADS_3

Evan terus kepikiran soal kecelakaan yang terjadi pada Daniel. Dalam hatinya yang paling dalam, Evan pun merasa gentar saat teringat akan kata karma yang selalu diucapkan oleh Daniel ketika di Rumah Sakit.


"Apa mungkin yang dikatakan oleh Daniel itu benar bahwa saat ini Aldi dan Daniel telah mendapatkan ganjaran atas perbuatan mereka terhadap Ze. Jika itu benar, berarti saat ini karma juga sedang otw kepadaku," gumam Evan sambil menatap jalanan yang masih ramai dengan lalu lalang kendaraan dengan tatapan nanar.


Huft! Terdengar suara hembusan napas berat Evan. Walaupun ia masih takut, tetapi ia masih mencoba mengelak apa yang sedang terjadi pada teman-temannya. "Ah, bisa saja itu hanya kebetulan. Memangnya Ze seorang gadis penyihir yang bisa mengirimkan karma kepada kami," gumamnya lagi sambil tersenyum sinis.


Sementara itu di kediaman Mommy Martha.


Ze masih beristirahat di dalam kamarnya sambil berchat ria dengan Sang Suami. Sesekali terdengar cekikikan dari Ze setelah membaca pesan dari Jimmy yang menurutnya sangat lucu. Namun, di saat Ze sedang mengetik balasan untuk Sang Suami, tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari Bu Lidya terpampang di layar ponselnya.


"Ibu?" Ze tersenyum kemudian dengan cepat menerima panggilan tersebut. Baru beberapa hari ia tidak bertemu dengan Ibunya yang super bawel itu, Ze sudah sangat merindukannya.


"Ibu!" pekik Ze.


"Ish, Ibu-Ibu! Kemana saja kamu, Non? Sudah beberapa hari tidak ada kabar. Apa kamu tidak kangen sama Ibumu yang menyedihkan ini," jawab Bu Lidya dengan bibir bergetar. Wanita paruh baya itu benar-benar merindukan sosok Ze.


Ze terdiam sejenak. Tidak mungkin ia menceritakan pada Bu Lidya bahwa beberapa hari ini ia sakit gara-gara terlalu bersemangat melewati malam pertamanya bersama Jimmy. Dengan terpaksa Ze pun memilih berbohong kepada Ibunya tersebut.


"Ibu, kenapa bicara seperti itu. Ze kangen kok, Bu. Dan maafkan Ze kalau beberapa hari yang lalu Ze tidak kasih kabar kepada Ibu," lirih Ze.


"Ehm, ya sudah. Yang penting kamu baik-baik saja, itu sudah cukup membuat Ibu senang," jawab Bu Lidya.

__ADS_1


Bu Lidya dan Ze pun berbincang cukup lama, hingga akhirnya Bu Lidya memutuskan panggilan tersebut karena masih banyak pekerjaan yang ingin dia selesaikan sebelum sore menjelang.


Setelah Bu Lidya memutuskan panggilannya, Ze memutuskan untuk mengunjungi wanita paruh baya tersebut. Namun, sebelum itu ia meminta izin kepada Jimmy terlebih dahulu. Jimmy sempat menolak karena kondisi Ze yang baru saja sembuh dari sakitnya, tetapi karena Ze terus merengek, akhirnya Jimmy pun mengizinkannya.


"Tapi ingat, jangan menginap, ya! Bukankah malam ini anaconda-ku ingin menjenguk sarangnya setelah beberapa hari bertapa di dalam kegelapan," ucapnya, otak mesum lelaki itu kembali muncul.


"Ah, iya-iya. Baiklah," jawab Ze sambil mengerucutkan bibirnya.


Jimmy tertawa pelan kemudian segera menutup panggilan Ze saat itu.


"Dasar otak mesuk, kalau sudah bahas tentang 'anaconda berbisa' lelaki itu selalu saja bersemangat!" gumam Ze.


"Minta antar sama sopir aja ya, Nak. Biar cepat," ucap Mommy Martha sambil mengelus lembut puncak kepala Ze. "Dan jangan lupa, sampaikan salam Mommy kepada Ibumu," lanjutnya.


"Ya, Mommy. Tentu saja," jawab Ze yang kemudian melangkah meninggalkan mereka.


Setibanya di halaman depan, seorang sopir pribadi Mommy Martha sudah bersiap menunggu kedatangan Ze. Ia tersenyum kemudian membukakan pintu mobil tersebut untuk gadis itu.


"Silakan, Nona."


"Terima kasih, Pak."

__ADS_1


Ze masuk kemudian melambaikan tangannya kepada Mommy yang turut mengantarkannya hingga depan rumah. Sementara Pak Sopir perlahan memacu mobil tersebut hingga keluar dari halaman rumah megah itu.


Tiga puluh menit kemudian.


Ze memperhatikan sepanjang jalan yang ia lewati dan tiba-tiba ia melewati tempat kerja Jimmy. Sebuah gym megah yang berdiri kokoh di pinggir jalan besar. Cukup lama Ze memperhatikan tempat itu, hingga terlintas keinginan untuk memasuki tempat tersebut.


"Eh, Pak! Berhenti," titah Ze sambil menepuk jok kemudi yang di duduki oleh Pak Sopir.


"Baik, Nona." Lelaki itu menepikan mobilnya kemudian segera membukakan pintu mobil tersebut untuk Ze.


"Bapak pulang saja, aku ingin menjenguk suamiku terlebih dahulu. Lagi pula aku masih bisa jalan kaki menuju rumah Ibu," ucap Ze.


"Jangan, Nona. Nanti saya dimarahi sama Nyonya Martha. Nona masuk saja, saya bisa menunggu di sini," sahut lelaki itu.


Ze menggelengkan kepalanya. Ia bersikeras meminta lelaki itu agar pulang lebih dulu karena ya, jarak gym dengan kediaman Bu Lidya masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Lagi pula Ze sudah terbiasa jalan kaki ketika ia masih bekerja menjadi CS dulu.


"Beneran tidak apa-apa, Pak. Bapak pulang saja, lagi pula ada Mas Jimmy yang akan mengantarkan saya ke tempat Ibu," tutur Ze.


Setelah mendengar penuturan Ze, Pak Sopir itu pun mengalah. Setelah lelaki itu pergi, perlahan Ze masuk ke tempat pusat kebugaran tersebut. Sudah lama Ze mengetahui adanya tempat itu, tetapi sekalipun ia tidak pernah memasukinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2