My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Karma Daniel


__ADS_3

Daniel tersenyum kemudian mulai menceritakan kejadian naas yang telah menimpa dirinya. Sedangkan Evan dengan setia mendengarkan cerita sahabat karibnya tersebut.


"Kemarin malam aku bermimpi bicara empat mata bersama Ze, si gadis culun itu!" ucap Daniel tersenyum kecut sambil membayangkan sosok Ze yang menurutnya culun dan kampungan.


"Ck!" Evan berdecak kesal saat Daniel menyebut Ze sebagai gadis yang culun. "Kamu salah, Daniel! Itik buruk rupa yang sering kita jadikan bahan lawakan, kini sudah berubah menjadi seekor angsa yang cantik," sela Evan dengan wajah malas menatap sahabatnya itu.


Daniel tertawa pelan sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya. Ia menganggap apa yang diucapkan oleh Evan barusan hanya sebuah lelucon biasa, sama seperti yang biasa mereka lakukan.


"Hah, lawakanmu terasa garing, Evan!" sahutnya.


"Terserah jika kamu tidak percaya!" Evan membuang muka.


"Hei, kita sedang membicarakan soal kecelakaan yang menimpaku, bukan? Kenapa malah membahas gadis culun itu?" Daniel menekuk wajahnya kesal karena ceritanya terpotong gara-gara membahas masalah Ze, si gadis culun.


"Ya-ya, baiklah. Sekarang lanjutkan ceritamu," ucap Evan.


Daniel kembali menerawang dan mencoba mengingat-ingat mimpinya pada malam itu. "Dalam mimpiku, Ze berkata bahwa sebentar lagi aku akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas semua perbuatanku kepadanya. Namun, bukannya takut, aku malah menertawakan gadis itu. Aku terbahak karena menurutku apa yang diucapkan oleh gadis itu terdengar lucu, sangat lucu. Bahkan hingga aku terbangun dari tidurku, aku masih tergelak."

__ADS_1


Evan yang tadinya hanya diam dengan ekspresi datar, kini terlihat sangat antusias mendengarkan cerita Daniel. "Lalu apa hubungan antara mimpi anehmu itu dengan kecelakaan yang menimpamu saat ini?" tanya Evan dengan serius menatap Daniel.


"Sebentar, biar aku meneruskan ceritaku terlebih dahulu, Van!" kesal Daniel. "Jadi, setelah mendapatkan mimpi aneh itu, seharian aku seperti orang bodoh. Bayang-bayang wajah datar Ze ketika mengatakan hal itu terus melintas dalam kepalaku. Bahkan aku sampai hapal apa yang dikatakan oleh gadis culun itu," tutur Daniel.


Evan masih diam. Ia tidak ingin menyela ucapan sahabatnya itu lagi. Sedangkan Daniel kembali mengingat kejadian naas itu, di mana ia mengalami kecelakaan tersebut.


"Karena seharian aku merasa seperti orang gila, akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan. Rencananya sih aku ingin berkunjung ke Cafe tempat kita biasa nongkrong. Nah, saat di perjalanan menuju Cafe tersebut, tiba-tiba aku teringat kembali kata-kata yang dilontarkan oleh Ze dalam mimpiku tadi malam dan hal itu membuatku kehilangan kendali pada mobilku. Aku mencoba menginjak rem, tetapi naasnya remnya blong dan akhirnya terjadilah kecelakaan itu," tutur Daniel sambil memperhatikan kaki tangannya yang juga dipenuhi dengan balutan perban.


"Beruntung kamu tidak--" belum habis Evan berkata, Daniel sudah memotong pembicaraannya dengan wajah sedih.


"Ya, beruntung aku tidak mati, Evan. Tapi ..." Daniel terdiam dan menatap kakinya yang sejak kecelakaan itu hingga sekarang masih tidak bisa digerakkan.


"Aku tidak tahu pasti. Kata Dokter, lihat perkembangannya dalam beberapa hari lagi dan semoga saja ini hanya sementara." Wajah Daniel kembali murung. Ia takut jika kondisi kakinya akan terus seperti itu. Itu artinya ia akan menjadi lelaki cacat dan ia tidak menginginkan hal itu.


"Kamu pasti akan baik-baik saja, Daniel! Yakinlah," ucap Evan yang mencoba menghibur suasana hati Daniel saat itu.


"Ya, semoga saja."

__ADS_1


Untuk sejenak, ruangan itu menjadi hening. Baik Daniel maupun Evan terdiam dalam pikirannya masing-masing. Namun, setelah beberapa saat, Daniel kembali membuka suaranya.


"Evan, apa kamu juga memikirkan apa yang aku pikirkan saat ini?" lanjut Daniel.


"Apa?" tanya Evan dengan wajah bingung.


"Entah mengapa aku merasakan bahwa apa yang katakan oleh Ze dalam mimpiku itu benar. Ini adalah karma atas apa yang aku lakukan kepadanya," tutur Daniel.


Evan tersenyum tipis. "Ah, tidak mungkin! Itu hanya pikiranmu saja," sahutnya.


"Coba kamu pikirkan, Evan. Baru bebarapa waktu yang lalu Aldi mendapatkan musibah. Ia mendadak ditinggalkan oleh calon istrinya hingga akhirnya ia depresi. Bahkan hingga sekarang ia masih belum bisa dihubungi. Dan sekarang, lihatlah apa yang terjadi padaku! Aku rasa ini ada hubungannya dengan perbuatan kita terhadap Ze," lanjut Daniel.


Evan tersenyum kecut sambil memikirkan nasibnya. Jika apa yang dikatakan oleh Daniel itu benar, itu artinya tinggal dirinya yang belum mendapatkan ganjaran atas perbuatan mereka terhadap Ze.


"Jangan coba menakutiku, Daniel. Jangan bilang bahwa kini saatnya karma itu menghinggapiku," ucap Evan.


"Aku tidak menakutimu, Van. Aku hanya ingin kamu lebih berhati-hati lagi," jawab Daniel.

__ADS_1


"Hmm, semoga saja tidak."


...***...


__ADS_2