
Dengan napas yang terengah-engah, Jimmy menjatuhkan tubuhnya di samping Ze yang sudah tidak berdaya. Ia menatap Ze sambil tersenyum tipis.
"Maafkan aku, Ze. Aku tidak tahu kenapa malam ini aku sama sekali tidak bisa menahan hasratku padamu. Padahal beberapa malam sebelumnya aku masih bisa menahan hasratku, walaupun tangan nakalmu menyentuh anacondaku," tutur Jimmy.
Jimmy memperhatikan wajah Ze yang sudah menutup matanya lebih dulu, sambil merapikan rambut Ze yang menempel di pipi serta bibir gadis itu.
"Bahasnya besok saja, ya. Aku sudah lelah," gumam Ze, masih dengan mata terpejam.
"Ok baiklah, Sayang. Selamat tidur," ucap Jimmy kepada Ze yang sudah tidur terlebih dulu. Ia mencium kening Ze kemudian membawa tubuh istri kecilnya itu ke dalam pelukannya.
Keesokan paginya.
"Aduh, kenapa jadi begini!" pekik Ze yang berjalan dengan kaki terbuka lebar persis seperti bayi yang baru belajar berjalan. Ia berjalan dengan berpegangan pada dinding kamar hingga menuju lama mandi.
Jimmy yang baru saja terbangun dari tidurnya, sempat menatap Ze yang berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Ia mengucek matanya sambil bergumam. "Kenapa Ze jalannya seperti itu?"
Jimmy bangkit dari posisinya sembari meraih celana boxer yang tergeletak di samping tempat tidur kemudian mengenakannya. Setelah itu ia pun bergegas menuju kamar mandi. Ia berniat menemui Ze yang tampak aneh hari ini. Namun, sayangnya pintu kamar mandi tersebut dikunci dari dalam oleh Ze hingga Jimmy tidak bisa ikut masuk ke dalam.
"Ze? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jimmy yang mulai mencemaskan keadaan Ze di dalam sana.
Ze terkejut, ia tidak menyangka bahwa ternyata Jimmy sudah bangun dari tidurnya. "Ya, aku baik-baik saja!" teriaknya dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Benarkah?" Jimmy mencoba meyakinkan, karena ia merasa tidak yakin bahwa istri kecilnya itu baik-baik saja.
"Ya," lirih Ze.
Jimmy yang tidak mempercayai ucapan Ze, rela menunggu di depan kamar mandi sambil mengingat-ingat kejadian tadi malam. Di mana ia dan Ze bermain dengan sangat liar di atas tempat tidur mereka. Entah berapa 'ronde' permainan mereka tadi malam, Jimmy pun sudah lupa.
"Ze kenapa, ya? Apa ada hubungannya dengan kejadian tadi malam?" Jimmy mulai bertanya-tanya. "Sebentar, aku kok heran bagaimana bisa kami seperti orang kesurupan tadi malam? Tingkah kami sama seperti orang yang sedang dalam pengaruh obat--"
Tiba-tiba ucapan Jimmy terhenti. Matanya terbelalak dan sepertinya ia sadar apa yang terjadi padanya dan Ze tadi malam.
"Mommy!" pekik Jimmy sambil mendengus kesal. "Tidak salah lagi! Aku sangat yakin ini ada hubungannya dengan Mommy," gerutu Jimmy dengan wajah menekuk.
Tepat di saat itu Ze keluar dari kamar mandi dengan bibir bergetar. Jalannya pun masih sama seperti tadi, terlihat aneh seperti bayi yang baru saja belajar berjalan. Jimmy panik, ia segera menghampiri Ze dan membantunya berjalan menuju tempat tidur mereka.
"Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa kedinginan!" pekik Ze dengan bibir yang masih bergetar.
"Tapi, kenapa jalanmu seperti ini?" tanya Jimmy lagi.
Tubuh Ze semakin bergetar dan ia tidak ingin menjawab pertanyaan lelaki itu lagi. Merasa ada yang tidak beres pada Ze, Jimmy segera mengangkat tubuh Ze dan membawanya ke atas tempat tidur mereka. Setelah membaringkan tubuh Ze yang masih bergetar, Jimmy segera menyelimutinya. Ia meraba kening Ze saat itu dan benar, Ze sepertinya sedang demam.
"Sebaiknya aku panggil Mei, ya? Atau aku panggil Dokter saja sekalian?" tanya Jimmy dengan wajah cemas menatap Ze yang kini menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
__ADS_1
"Tidak usah, tidak usah, Mas! Sepertinya aku butuh istirahat saja," jawabnya dari balik selimut.
"Eh, tidak bisa begitu! Kamu sedang demam, Ze. Sebentar," sahut Jimmy yang kemudian segera pergi dari ruangan itu.
Sepeninggal Jimmy, Ze menyibak selimutnya sambil bergumam. "Ya, Tuhan! Bagaimana cara mengatakannya, ya?"
Saat itu Mommy Martha sedang bersantai menikmati paginya sambil menyeruput teh hangat bersama Mei yang selalu setia menemaninya. Mommy Martha dan Mei saling tatap ketika melihat Jimmy datang ke arah mereka dengan tergesa-gesa.
Saking paniknya, Jimmy bahkan tidak sadar bahwa dirinya hanya menggunakan celana boxer saja. Ia berdiri di depan Mommy dan Mei dengan wajah gusar kemudian berucap kepada Mei.
"Mei, bisa periksa Ze sebentar? Sepertinya dia sedang demam," ucap Jimmy.
"Baik, Tuan. Saya akan segera ke sana," sahut Mei.
Mommy tampak khawatir setelah mendengar menantu kesayangannya demam. "Ze demam, bagaimana bisa, Jimmy?"
Jimmy yang tadinya melangkah bersama Mei, tiba-tiba menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Mommy Martha sambil menggaruk tengkuknya.
"Mommy, ada yang harus kita bicarakan. Tapi, tidak sekarang," ucap Jimmy.
Mommy membulatkan matanya dengan sempurna sambil memperhatikan Jimmy yang berjalan cepat menuju kamarnya bersama Mei.
__ADS_1
"Ah, kurang asem! Sepertinya Jimmy sudah menyadarinya," gumam Mommy Martha.
...***...