
Beberapa hari setelah pertemuan Ze dan Evan.
"Bu, Ze sudah terlambat. Ze berangkat dulu, ya!" Ze meraih tangan Sang Ibu kemudian menciumnya. Bu Lidya mengusap lembut puncak kepala Ze sembari tersenyum hangat.
"Hmm, makanya sebelum tidur itu bantalnya di tabok dulu kemudian kasih tau jam berapa minta dibangunin. Biar tu bantal bangunin kamu! Kamu mah kalau dikasih tau gak pernah percaya," ucap Bu Lidya.
"Ah, masa sih, Bu?" Ze terkekeh pelan.
"Tuh 'kan! Kamu tuh memang gak percaya kalau dibilangin," sahut Bu Lidya sambil memasang wajah malas. Ze hanya tersenyum konyol kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
"Dah, Bu!" Ze melambaikan tangannya kepada Bu Lidya dan dibalas oleh wanita itu.
Ze berlari kecil di sepanjang jalan menuju depan komplek. Setibanya di tempat itu mata Ze langsung tertuju pada pemberhentian bus dan malangnya bus tersebut baru saja lewat dan ia pun ketinggalan.
"Tidak!" teriak Ze dengan mata membulat serta kedua tangan memegang kepala.
"Huft! Ini tidak boleh terjadi lagi!" gerutu Ze.
__ADS_1
Gadis itu menghembuskan napas kasar kemudian segera berlari layaknya atlit lari profesional. Entah sudah seberapa jauh gadis itu berlari, hingga sesuatu yang tidak diinginkan pun terjadi.
Brugkkhh!
"Akkhh!" Pekikan Ze dan seorang lelaki secara bersamaan. Gadis itu segera menutup matanya dan entah siapa yang ia tabrak barusan, ia pun tidak tahu. Akibat tabrakan itu tubuh Ze melayang dan terjatuh.
"Aku jatuh tapi kok tidak sakit, ya? Malah terasa empuk dan hangat sekali ini," batin Ze sambil merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Eits, tapi ini bukan kasur. Ada suara detak jantung yang terdengar sangat macho di sini!"
Perlahan Ze membuka matanya dan ... seketika mata gadis itu membesar setelah sadar bahwa dirinya sedang berada di atas tubuh seorang lelaki yang memiliki iris mata yang begitu indah. Bulu mata yang tebal serta lentik dan kedua bulu alis yang hampir saja menyatu. Hidung mancung lelaki dewasa itu bahkan menyentuh pipi Ze.
"Ah, iya! Maafkan aku, Tuan!"
Belum sempat Ze mengangkat tubuhnya, lelaki dewasa tersebut sudah mendorong tubuh gadis itu tepat di kedua bulatan kecil miliknya. Ze terperanjat dan refleks menutup area dada dengan kedua tangan. Kedua bola matanya membulat menatap lelaki itu dengan tatapan kesal.
"Apa?!" tegas lelaki itu setelah melihat reaksi Ze.
__ADS_1
"Anda mengambil kesempatan dalam kesempitan, Tuan!" kesal Ze dengan kedua tangan yang masih menutupi kedua aset pribadinya yang berukuran kecil tersebut.
Lelaki itu tertawa pelan sembari merapikan kemejanya yang berantakan akibat tabrakan yang tidak disengaja itu.
"Hei, Nona. Maaf, tapi kamu bukanlah seleraku. Coba lihat dirimu, sudah tubuhmu rata seperti jalan tol, kamu juga terlalu muda untukku. Dan Maaf sekali lagi, aku tidak berminat pada gadis muda sepertimu."
"Hei, Anda kalau bicara hati-hati ya, Om! Saya bisa saja menuntut Anda karena sudah menghina tubuh saya karena itu sudah termasuk Body Shaming. Sekarang ini sudah ada undang-undangnya loh, Om!" kesal Ze.
Bukannya menyahut apa yang dikatakan oleh Ze, lelaki dewasa dengan postur tubuh sempurna itu malah berbalik dan meneruskan langkahnya. Namun, baru beberapa langkah, lelaki itu kembali berbalik menghadap Ze.
"Boleh aku berkata sesuatu padamu, Nona? Dadamu sangat kecil dan sepertinya punya anak SD mungkin lebih besar dari milikmu," ucapnya sambil terkekeh pelan kemudian melanjutkan langkahnya memasuki halaman sebuah tempat Gym yang cukup terkenal di daerah itu.
Ze sangat kesal mendengar ucapan lelaki dewasa itu. Ia meraba kedua bulatan kecilnya dan ya, apa yang dikatakan oleh lelaki itu memang benar, dadanya memang berukuran kecil. Namun, ucapan lelaki itu benar-benar membuatnya kesal. Apa lagi lelaki itu menyamakan miliknya sama seperti anak SD.
"Dasar lelaki tua! Aku sumpahin biar nanti kamu dapat seorang jodoh gadis muda dengan tubuh rata seperti jalan tol!" teriak Ze dengan seluruh kekesalannya.
Teriakan Ze rupanya masih dapat di dengar oleh lelaki dewasa tersebut. Lelaki itu kembali tertawa dan Ze dapat mengetahuinya karena pundak lelaki itu terlihat turun naik.
__ADS_1
"Dasar menyebalkan! Ini benar-benar sebuah penghinaan besar buatku! Masa aku disamakan sama anak SD?!" gerutu Ze.
***