
"Ayolah, Pak. Kami mohon," lirih Evan sambil menangkupkan kedua tangannya di hadapan lelaki paruh baya tersebut.
"Sebentar, Bapak tanya dulu sama Anak Bapak," Lelaki tua itu segera masuk ke dalam rumahnya kemudian mempertanyakan hal itu kepada Anak perempuannya yang juga tengah hamil muda.
Terjadi perdebatan antara bapak dan anak tersebut di dalam rumah. Dan setelah beberapa saat, perdebatan itu pun di menangkan oleh Sang Bapak. Namun, dengan syarat mangga itu dibeli dengan harga yang cukup mahal. Bahkan harganya berpuluh kali lipat dari harga seharusnya.
Lelaki tua itu kembali menemui ketiga pemuda tersebut dan menyampaikan keinginan anak perempuannya. "Ya, hitung-hitung buat nambah biaya persalinan nanti," ucap lelaki tua itu sambil terkekeh pelan.
Ketiga pemuda itu tampak saling melempar pandang. Walaupun mereka tahu harga yang di tawarkan benar-benar tidak masuk akal. Namun, demi keinginan si bumil Ze, mereka rela menuruti keinginan anak perempuan lelaki paruh baya tersebut.
"Hari ini kita benar-benar sial. Kita dikerjai oleh para bumil yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Jika Bumil yang satu mengerjai kita dengan keinginan anehnya, bumil yang ini mengerjai kita dengan harga mangga muda yang benar-benar tidak masuk akal," keluh Aldi.
"Sudah, jangan mengeluh lagi! Sekarang pikirkan bagaimana cara kita mendapatkan buah itu," sela Evan yang kembali menatap buah mangga muda yang ada di puncak pohon tersebut.
Mendengar perbincangan ketiga pemuda itu, lelaki tua tersebut memberikan pendapatnya untuk mereka. "Bapak punya bambu panjang yang bisa kalian gunakan untuk memetiknya. Bagaimana?" sela Bapak itu sambil tersenyum lebar.
"Masalahnya, kami hanya diperbolehkan memetiknya langsung, Pak. Itu bumil memang rada menyusahkan," jawab Evan sambil menggaruk kepalanya dengan kesal.
Baru saja Evan berkata seperti itu, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Evan meraih ponsel miliknya yang ia letakkan di dalam saku celana kemudian menerima panggilan tersebut.
"Ya, Om?" tanya Evan kepada Jimmy yang ternyata sedang menghubunginya.
"Apa kalian sudah menemukan buah mangga mudanya?" tanya Jimmy sambil terkekeh pelan. Lelaki itu sadar bahwa ketiga pemuda tersebut hanya menjadi korban keisengan istri kecilnya.
__ADS_1
"Sudah, Om. Tapi, lihatlah!" Evan mengubah panggilannya menjadi Video Call dan Jimmy pun dapat melihat di mana para pemuda itu berada. Evan memperlihatkan buah mangga yang berada di puncak pohon tersebut kepada Jimmy.
"Bagaimana cara kami memetiknya, Om? Lihatlah, buahnya sangat tinggi. Tolong tanyakan kepada Ze, bolehkah kami memetiknya dengan menggunakan galah panjang?" ucap Evan dengan wajah kusut menatap Jimmy di layar ponselnya.
"Ih, tidak boleh! Bukankah sudah aku bilang pada kalian, petik buah itu dan jangan dicolok. Aku tidak ingin buah itu jatuh ke tanah, nanti kotor. Oh ya, dan satu lagi! Petiknya dengan perlahan dan jangan asal comot," ucap Ze yang tiba-tiba merebut ponsel Jimmy kemudian berbicara langsung bersama Evan.
Evan memutarkan bola matanya. Ternyata keinginan wanita itu tidak bisa di tawar-tawar lagi. Dengan terpaksa mereka bertiga pun harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan buah itu.
"Oh, baiklah-baiklah!"
Evan dan Aldi memutuskan untuk memanjat pohon tersebut berdua agar tidak menimbulkan rasa iri satu sama lain. Sedangkan Daniel bertugas merekam kegiatan kedua lelaki itu agar Ze percaya bahwa buah mangganya benar-benar hasil dipetik dan bukan dicolok.
Evan dan Aldi yang sama-sama tidak memiliki pengalaman menaiki pohon, terlihat berdebat sengit di atas sana.
"Woy, kondisikan kakimu, Evan! Kakimu mengenai wajahku!" kesal Aldi yang berada di bawah Evan.
Evan terkekeh pelan. "Maaf, tidak sengaja."
"Van, tiba-tiba kepalaku pusing dan rasanya duniaku berputar dengan sangat cepat," sambung Aldi karena kaki Evan mengenai wajahnya dan secara tidak sengaja tatapannya tertuju ke bawah.
"Ish, siapa suruh tengok ke bawah! Sudah, jangan dilihat lagi," sahut Evan dengan entengnya.
Cukup lama kedua lelaki itu berusaha menaiki pohon itu hingga akhirnya Evan berhasil menggapai buah mangga muda tersebut. Seperti perintah Ze, dengan sangat hati-hati Evan memetik buah tersebut kemudian meletakkannya di dalam kemeja yang ia kenakan.
__ADS_1
"Ah, akhirnya berhasil juga!" ucap Evan sambil menghembuskan napas lega. "Ayo, Aldi! Sekarang kita kembali," lanjutnya dengan penuh semangat.
Dengan hati riang, kedua lelaki itu mencoba turun dari pohon. Namun, tiba-tiba saja Evan berteriak histeris dan dengan tergesa-gesa ia meminta Aldi agar bergerak lebih cepat. "Aldi, cepat turun! Aku diserang mahluk mengerikan!" teriaknya sambil bergidik ngeri.
"Apaan, sih! Ish, bokongmu kondisikan, Evan! Aku tidak bisa turun kalau begini ceritanya!" sahut Aldi karena bokong Evan mengenai wajahnya.
"Makanya cepat turun! Aduh, gatal-gatal-gatal!" sambung Evan.
Setelah beberapa detik berikutnya, Aldi pun tahu mahluk apa yang sedang menyerang Evan karena saat ini Aldi pun sedang diserang oleh makhluk nakal itu.
"Aw-aw-aw! Aduh, gatal!" ucap Aldi juga.
"Makanya cepat turun!" sahut Evan yang sudah tidak sanggup menahan serangan semut rang-rang yang terus menggigiti seluruh tubuhnya.
"Sebentar, ini aku juga sedang mencoba turun lebih cepat!" sahut Aldi sambil menahan rasa gatal di tubuhnya akibat gigitan semut nakal tersebut.
Sementara kedua lelaki itu terus berdebat di atas sana, Daniel terlihat kebingungan menatap Pak tua pemilik pohon tersebut. "Teman-temanku kenapa, Pak?" tanyanya.
"Sepertinya mereka sedang diserang oleh semut rang-rang yang merasa terganggu dengan kehadiran sahabatmu itu," sahut lelaki itu.
"Ya, Tuhan! Semoga mereka baik-baik saja," gumam Daniel dengan wajah cemas menatap kedua sahabatnya yang masih berada di atas pohon sambil menahan serangan dari semut-semut tersebut.
...***...
__ADS_1