My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Mengunjungi Makam


__ADS_3

Tuan Harold menuntun Ze dan Bu Lidya ke sebuah tempat pemakaman pribadi milik keluarga Tuan Harold yang terletak tak jauh dari Villa tersebut. Setibanya di tempat itu, Tuan Harold segera menunjukan di mana tepatnya makam mendiang Gerald berada.


"Ini makamnya, Lidya."


Bu Lidya menghampiri makam tersebut bersama Ze. Terlihat buliran bening itu menetes dari sudut mata Bu Lidya. Wanita itu terlihat sangat sedih. Selain itu ia juga menyesal karena selama ini selalu berburuk sangka terhadap mendiang suaminya.


"Maafkan aku, Gerald. Selama ini aku selalu mengatakan hal buruk tentangmu. Selama ini aku selalu menyangka bahwa dirimu telah menikah lagi dan membangun rumah tangga yang baru bersama wanita lain kemudian melupakan kami," ucap Bu Lidya sambil terisak.


Ze mengelus pundak Bu Lidya dengan lembut kemudian menyeka air mata yang terus membasahi kedua pipi wanita itu.


"Oh ya, Gerald. Ini Zea, anak perempuan kita. Dia sudah menikah dan sebentar lagi kita akan segera punya cucu. Lihatlah perutnya yang membesar ini," tutur Bu Lidya sembari mengelus lembut perut Ze yang memang mulai membulat.


Tuan Harold tersenyum bahagia karena ternyata Ze adalah keponakannya. Anak dari mendiang kakaknya, Gerald. Terlebih lagi, Ze adalah istri dari seorang Jimmy, laki-laki yang selama ini sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.


Setelah selesai berkunjung ke makam mendiang Gerald, Ze, Bu Lidya, Tuan Harold dan Jimmy pun segera kembali ke Villa. Sementara Mommy Martha dan Mei masih menunggu di tempat itu sambil menikmati keindahan alam di sekitar Villa.


"Menurut saya, Tuan Harold sama Bu Lidya itu terlihat serasi," tutur Mei yang sedang asik melangkah di samping Mommy Martha.

__ADS_1


"Eh, iya. Kamu benar, Mei. Aku juga sempat berpikir seperti itu. Apa sebaiknya kita jodohkan saja mereka," sahut Mommy Martha sambil tertawa pelan.


"Lalu, bagaimana dengan Anda, Nyonya. Apa Anda tidak ingin memiliki pasangan lagi?" tanya Mei sambil menggoda Mommy Martha.


"Apa, aku? Halah, aku tidak pernah berpikir untuk memiliki pasangan lagi. Aku sudah merasa nyaman sendiri," jawab Mommy Martha.


Tepat di saat itu, Tuan Harold beserta rombongannya tiba di Villa miliknya. Ketika Ze, Jimmy dan Bu Lidya masuk ke dalam Villa, Mommy Martha segera menghampiri Tuan Harold yang juga ingin memasuki bangunan megah tersebut.


"Tuan Harold, bolehkah aku bicara sebentar?" panggil Mommy Martha.


Tuan Harold menoleh kemudian menghentikan langkahnya. "Tentu saja, Nyonya Martha."


Tuan Harold pun segera mengikuti langkah kaki Mommy Martha dari belakang. Mommy Martha menuntun Tuan Harold hingga ke tempat di mana tidak ada seorang pun yang dapat mendengar pembicaraan mereka. Namun, Mei masih bisa memperhatikan kedua orang itu dari kejauhan.


"Ada apa, Nyonya Martha? Apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan kepadaku?" tanya Tuan Harold sambil menatap lekat mata wanita itu.


"Tuan Harold, aku harap ini adalah yang terakhir kalinya kamu mengganggu kehidupan Jimmy. Sudah cukup, Tuan Harold! Jangan ganggu dia lagi, biarkan dia menjadi dirinya sendiri. Dia sudah hidup tenang dan nyaman bersama kami. Jika benar kamu menyayangi Jimmy sebagaimana Putramu sendiri, seharusnya kamu bahagia melihat kehidupannya sekarang ini. Dia sudah punya bahagia bersama istrinya dan sebentar lagi mereka akan memiliki seorang anak," tutur Mommy Martha dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Hari ini aku sebagai Ibunya, memohon kepadamu, Tuan Harold! Jangan ajak dia kembali ke sisi gelap itu lagi. Sudah cukup, Tuan Harold. Sudah cukup!" lanjut Mommy Martha sembari menangkupkan kedua tangannya di hadapan Tuan Harold.


Tuan Harold tersenyum hangat kemudian menepuk pundak Mommy Martha dengan lembut. "Maafkan aku, Nyonya Martha. Aku berjanji padamu bahwa ini adalah yang terakhir kalinya aku mengganggu kehidupan Jimmy. Lagi pula aku hanya ingin bertemu dengannya dan sama sekali tidak memiliki niat untuk mengajaknya bergabung bersama kami seperti dulu," sahut Tuan Harold.


"Benarkah?!" tanya Mommy Martha sambil menyeka air mata yang kini mulai jatuh ke pipinya.


"Ya, Nyonya Martha. Apa lagi saat ini aku sudah tahu bahwa ternyata Ze adalah keponakanku. Aku bisa pastikan padamu bahwa Jimmy tidak akan melakukan hal konyol itu lagi," sambung Tuan Harold.


Di saat Mommy Martha tengah berbicara serius dengan Tuan Harold, ternyata Bu Lidya berada di ruangan yang sama dengan Mei. Ia dan Mei memperhatikan kedua orang itu sambil tersenyum kecut.


"Apa yang sedang mereka lakukan di sana?" bisik Bu Lidya kepada Mei yang memperhatikan Mommy Martha dan Tuan Harold dengan begitu serius.


Mei segera menoleh dan ia begitu kaget karena ternyata ia tidak,sendirian di sana. "Bu Lidya? Sejak kapan Bu Lidya berada di sini?" tanya Mei heran.


"Sejak tadi. Aku mencari kalian dan ingin mengajak kalian minum teh bersama Jimmy, Ze dan para lelaki sangar itu sebelum kita pulang," jawab Bu Lidya.


"Oh, iya. Sebentar lagi, Bu Lidya." Mei pun tersenyum dan kini ia beserta Bu Lidya memilih menunggu kedua orang itu menyelesaikan pembicaraan mereka.

__ADS_1


...***...


#Maafkan Author yang kena badmood hari ini 🙏🙏🙏


__ADS_2