
"Bagaimana ini, Ze? Kalian harus tidur di mana? Ibu 'kan tidak tahu bahwa kalian akan menginap di sini. Lagi pula tadinya Ibu tidak yakin kalau Jimmy sudi tidur di gubuk kita ini," ucap Bu Lidya dengan wajah panik menatap Ze yang baru saja bilang bahwa ia dan Jimmy memutuskan untuk bermalam di rumahnya.
"Ah, Ibu tidak usah pusing-pusing memikirkan bagaimana kami tidur nanti. Lagi pula Mas Jimmy itu orangnya gak merepotkan lo, Bu. Dia pasti bisa mengerti bagaimana keadaan kita," sahut Ze.
"Serius, Ze? Ibu 'kan jadi tidak enak," sambung Bu Lidya masih dengan wajah cemas.
"Ya, Ibu tenang saja. Tidak usah panik begitu," sahut Ze sambil terkekeh pelan.
"Ya, sudah kalau begitu. Ajaklah suamimu beristirahat di kamarmu. Seprei, selimut, sarung bantal dan sarung gulingnya sudah Ibu ganti dengan yang baru, jadi kalian bisa tidur di sana," lanjut Bu Lidya.
"Baik, Bu."
Ze kembali menemui Jimmy yang sedang duduk sendirian di ruang depan sambil termenung. Tak ada yang bisa dilakukan oleh lelaki itu selain mendengarkan suara gemuruh hujan yang membasahi bumi sambil menatap kosong ke luar jendela.
"Mas," sapa Ze sembari menepuk pelan pundak lelaki itu.
Jimmy menoleh kemudian menatap Ze yang kini berdiri di sampingnya. "Ya?"
"Ini sudah larut malam, sebaiknya kita beristirahat di kamar," ucap Ze.
"Ya, kamu benar. Lagi pula maraku sudah mulai berat," jawabnya sembari bangkit dari tempat duduk.
Ze menuntun Jimmy menuju kamar yang akan mereka tempati. Kamar satu-satunya milik Ze yang hanya berukuran kecil. Walaupun begitu, ventilasi di ruangan itu cukup baik hingga tidak membuat pengap penghuninya.
__ADS_1
"Ini kamarnya, maaf jika di sini tidak ada pendingin udara sama seperti di kamarmu, Mas," ucap Ze sembari membukakan pintu kamarnya dan membairkan lelaki bertubuh besar itu masuk ke dalam ruangan tersebut.
Jimmy memperhatikan sekeliling ruangan kecil itu dengan seksama seraya melangkah masuk. "Tidak masalah. Lagi pula aku juga sudah terbiasa dengan keadaan yang seperti ini," jawabnya.
Ze menautkan kedua alisnya ketika mendengar jawaban dari suaminya tersebut. Ia heran sejak kapan anak orang kaya seperti Jimmy pernah merasakan hidup dengan kesederhanaan seperti dirinya dan Bu Lidya.
"Ah, masa 'sih, Mas? Aku tidak percaya kamu pernah merasakan hidup di dalam kesederhanaan seperti kami. Soalnya 'kan--" Belum selesai Ze berucap, Jimmy langsung memotong ucapannya.
"Aku anak orang kaya? Hmm, kamu belum tahu saja bagaimana masa laluku," gumamnya sambil tersenyum sinis.
Jimmy merenggangkan otot-ototnya dan bersiap menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur berukuran kecil milik Ze.
Ze ingin memperingatkan soal kondisi tempat tidurnya, tetapi sayangnya sudah terlambat, Jimmy tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur tersebut seperti yang biasa ia lakukan di tempat tidur empuknya, di rumah besar. Hingga akhirnya sesuatu yang tidak diinginkan pun terjadi.
Brugkh!
Terdengar suara benda ambruk dengan cukup keras hingga kedengaran sampai ke telinga Bu Lidya. "Hah?! Suara apa itu? Kenapa rumah bergoyang?!" pekik Bu Lidya.
"... was!" sambung Ze sambil menepuk jidatnya.
"Aw, pinggangku!" rintih Jimmy yang kini terjebak di antara reruntuhan ranjang Ze yang ternyata sudah lapuk karena di makan usia.
Ze tergelak melihat Jimmy yang saat ini tengah memasang wajah masam ketika menatap dirinya. "Aku baru saja mau bilang bahwa ranjang itu sudah lapuk, Mas. Mas harus pelan-pelan jika ingin menaikinya," ucap Ze di sela gelak tawanya.
__ADS_1
"Dasar menyebalkan," gerutu Jimmy sembari mencoba bangkit dari tempat itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Bu Lidya yang tiba-tiba saja muncul di depan pintu kamar Ze dengan wajah ketakutan. Kebetulan pintu masih terbuka saat itu.
"Mas Jimmy, Bu. Baru saja Ze ingin kasih tau bahwa ranjang ini sudah lapuk, eh Mas Jimmy main loncat aja ke sana," sahut Ze di sela gelak tawanya.
Setelah melihat apa terjadi pada Jimmy, Bu Lidya segera memarahi Ze yang masih menertawakan suaminya. "Ish, bukannya ditolongin malah diketawain," gerutu Bu Lidya sembari mencubit pelan pinggang Ze.
"Rasakan!" gerutu Jimmy sambil mengolok-olok Ze yang terkena marah.
"Iya, Ze bantuin."
Ze mengulurkan tangannya kepada Jimmy dan Jimmy pun menyambut uluran tangan gadis itu. Ze mencoba menarik tubuh besar itu sekuat tenaganya, sampai wajahnya memerah.
"Ya Tuhan, Mas! Tubuhmu ini berat sekali, pantas saja ranjangku tidak mampu menahan bebanmu," gumamnya.
Jimmy tersenyum tipis dan akhirnya ia pun berhasil keluar dari sana sambil mengelus pinggangnya yang sakit.
"Kamu tidak apa-apa 'kan, Nak Jimmy?" tanya Bu Lidya dengan wajah cemas.
"Tidak apa-apa kok, Bu. Tenang saja," sahut Jimmy santai, padahal saat itu pinggangnya benar-benar sakit.
...***...
__ADS_1