My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Sarapan Pagi


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Pagi-pagi, di ruang makan. Keluarga besar Mommy Martha sedang asik menikmati sarapan mereka. Ya, sebenarnya sih bukan semua. Hanya Ze dan Mommy Martha yang begitu semangat menikmati sarapan pagi ini. Sedangkan kedua lelaki tampan penghuni rumah megah tersebut tampak malas-malasan menikmati sarapan mereka.


Ze memperhatikan Jimmy yang tidak biasanya tampak malas menikmati sarapannya. Biasanya lelaki itu selalu bersemangat, apa lagi sekarang Ze sudah tidak malu-malu bersikap romantis terhadapnya walaupun sedang berada di hadapan Evan dan juga Mommy Martha.


"Kamu kenapa sih, Mas? Makanannya kok cuma dilihatin aja?" tanya Ze sambil menyuap makanannya ke dalam mulut.


"Entahlah, Sayang. Melihat makanan ini saja, rasanya aku sudah kenyang," jawabnya.


Evan memang tidak pernah mau melihat ke arah Jimmy dan Ze ketika berkumpul di ruangan itu. Namun, indera pendengarannya masih terpasang dengan sangat baik dan ia dapat mendengar seluruh percakapan mereka dengan sangat jelas.


"Aku suapin, ya?" Ze menyodorkan sendok berisi makanan ke hadapan Jimmy. "Yuk, buka mulutnya," bujuk Ze.


Mau tidak mau, Jimmy pun dengan terpaksa membuka mulut dan memaksa masuk makanan itu ke dalam perutnya. Ze terus menyuapi lelaki itu sampai beberapa kali suapan hingga akhirnya Jimmy menyerah dan menutup mulutnya rapat.


"Sudah, Sayang. Cukup! Aku menyerah, perutku terasa mual sekarang," ucap Jimmy sambil menggelengkan kepalanya dan wajahnya terlihat masam saat itu.


"Ya, sudah kalau begitu," sahut Ze sambil mengerucutkan bibirnya. Setelah Jimmy menyerah, Ze melanjutkan sarapannya dan ia tidak sadar bahwa dirinya sudah beberapa kali menambah porsi makannya.


"Ze, apa aku tidak salah lihat atau ini memang perasaanku saja?" ucap Jimmy tiba-tiba sambil memperhatikan istri kecilnya itu.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Ze dengan ekspresi polosnya.


"Kamu sudah berapa kali nambah, Sayang. Apa perutmu tidak terasa penuh?" tanya Jimmy heran.


Ze memperhatikan piringnya sambil berpikir. "Aku tidak tahu," sahut Ze yang juga merasa bingung. Entah kenapa ia begitu bersemangat menikmati sarapannya dan nafsuu makan wanita itu benar-benar tidak seperti biasanya.


"Sudah, jangan dipikirkan. Makan saja, Nak. Mommy senang liatnya," sela Mommy Martha yang malah menyerahkan berbagai menu ke hadapan Ze.


"Ish, jangan lagi, Mom. Nanti bisa-bisa isteriku susah bernapas karena kekenyangan," sahut Jimmy sembari mengembalikan piring-piring berisi lauk pauk itu ke tempat asalnya.


Evan yang tadinya enggan menoleh pun, akhirnya melirik Ze yang tampak lahap menikmati sarapannya. Evan menyunggingkan sebuah senyuman tipis di wajahnya ketika melihat Ze yang tampak menggemaskan ketika mengunyah makanannya.


"Apa mungkin ini efek minuman herbal itu, Mom? Makanan apa saja yang masuk ke dalam kerongkonganku semuanya terasa sangat enak," tutur Ze.


Ze menganggukkan kepalanya sedangkan Mommy Martha tersipu malu mendengar pertanyaan Jimmy tersebut.


"Memangnya tidak apa Ze terus meminum minuman herbal itu, Mommy? Apa tidak ada efek yang akan ditimbulkannya nanti?" tanya Jimmy khawatir.


"Eh, Jimmy. Minuman itu terbuat dari bahan-bahan herbal. Dulu sewaktu masih muda Mommy hampir tiap hari meminumnya dan tidak terjadi apa-apa pada Mommy. Dan ya, kamu memang benar. Memang ada efek jangka panjang ketika khasiat minuman itu sudah bereaksi. Kamu mau tau itu apa?"


"Apa?" Jimmy semakin khawatir mendengar ucapan Sang Mommy.

__ADS_1


"Perut Ze akan membesar dan terus membesar hingga sembilan bulan sepuluh hari. Bayangkan itu!" tutur Mommy Martha dengan wajah serius membalas tatapan Jimmy.


Setelah Jimmy mengerti apa yang dimaksudkan oleh Mommy Martha, ia pun tergelak. "Mommy bisa saja," jawab Jimmy sambil merangkul pundak Ze.


"Tapi, semoga saja. Aku sudah tidak sabar ingin menjadi seorang Ayah," lanjut Jimmy sambil mengelus perut Ze yang sedikit membesar karena pagi ini ia makan terlalu banyak.


"Amin, harapan Mommy pun sama." Kini tatapan Mommy beralih kepada Evan. "Benar 'kan, Evan? Kamu pun pasti menginginkan rumah ini ramai dengan tangis dan tawa bayinya Om Jimmy, 'kan?" tanya Mommy Martha kepada Evan yang sejak tadi hanya diam tak bicara sepatah kata pun.


"Ya, Oma. Aku pun ingin." Evan tersenyum getir, kemudian meletakkan sendok dan garpu yang masih ia pegang ke atas piring. Ia menyudahi sarapannya dan segera bangkit dari posisinya saat itu.


"Oma, aku berangkat dulu. Sepertinya aku sudah terlambat," ucap Evan sembari meraih tangan Mommy Martha kemudian melabuhkan ciuman di sana.


"Baiklah, hati-hati ya, Sayang. Bilang sama Pak Sopir, jangan ngebut." Mommy Martha tersenyum sembari mengelus puncak kepala Evan dengan lembut.


Setelah Evan berangkat, Jimmy pun segera menyusul. Ia pun ingin segera berangkat ke tempat kerjanya karena hari ini ada beberapa hal penting yang harus ia lakukan. Kebetulan saat itu Ze pun sudah menyelesaikan sarapannya.


"Jangan berani macam-macam lagi ya, Mas! Aku punya CCTV yang akan terus mengintai gerak-getikmu di sana!" ucap Ze sambil terkekeh pelan.


"Sekali aku berjanji, aku tidak akan pernah mengingkarinya. Percayalah padaku," sahut Jimmy sembari mengelus pipi Ze dan melabuhkan ciuman hangatnya di sana.


Ze mengerutkan bibirnya dengan pipi yang terlihat merona malu. "Janji, ya!"

__ADS_1


"Ya, janji!" sahut Jimmy.


...***...


__ADS_2