My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Ala Snow White


__ADS_3

"Kenapa kalian berpakaian aneh seperti itu? Dan ... di mana kalian menyembunyikan Istriku?" Jimmy ingin tertawa melihat penampilan konyol teman-temannya tersebut. Namun, rasa kesalnya tidak bisa membuat Jimmy tertawa. Jangankan tertawa, tersenyum pun Jimmy tidak mampu.


"Tenanglah, Tuan Jimmy. Lagi pula saat ini istri cantik Anda baik-baik saja dan ia sedang beristirahat di kamar tamu. Dan tolong jangan sakiti kami, kami hanya komplotan inem cantik yang baru saja dikerjai oleh istri Anda," jawab salah satu dari ketiga lelaki tersebut sambil mengerlingkan matanya kepada Jimmy.


Nick sejak tadi hanya bisa tergelak. Bahkan mata lelaki itu sampai berair akibat terus tertawa, menertawakan tingkah konyol ketiga sahabatnya itu.


"Sudah, jangan bercanda! Tidak lucu," gerutu Jimmy.


"Ya, sudah kalau begitu." Salah satu dari ketiga lelaki berpakaian Inem tersebut berjalan mendahului Jimmy. Jalannya yang terlihat gagah, membuat Nick kembali terbahak.


"Sudah cukup menertawakanku, Nick! Seandainya ini bukan perintah Tuan Harold yang meminta kami untuk menuruti semua perintah Nona Ze, mungkin kami tidak akan pernah melakukannya," kesal lelaki berpakaian Inem tersebut.


"Jadi kalian bersikap konyol seperti ini atas perintah Tuan Harold?" tanya Jimmy yang akhirnya bisa menyunggingkan senyuman di wajah tampannya.


"Ya! Atas perintah Tuan Harold, mau tidak mau kami harus menuruti semua perintah Bumil itu. Tuan Harold tidak peduli walaupun permintaan istrimu itu benar-benar sangat aneh. Istrimu itu memang benar-benar ... ish!" kesalnya.


Sementara itu di dalam kamar Ze.


Ze terbangun dari tidurnya ketika samar-samar ia mendengar suara ribut-ribut dari luar ruangan. Entah kenapa insting wanita itu mengatakan bahwa Jimmy lah yang datang dan ingin menyelamatkan dirinya.


"Aku yakin itu pasti Mas Jimmy! Sebaiknya aku berpura-pura tidur saja," gumam Ze yang kemudian mengatur posisinya dan memejamkan matanya rapat.


Akhirnya Jimmy, Nick dan lelaki berpakaian Inem tersebut tiba di depan kamar Ze. Lelaki itu membuka pintu kamar tersebut dan mempersilakan Jimmy untuk masuk.


Mata Jimmy langsung tertuju pada Ze yang masih terbaring di atas tempat tidur. "Ze!" pekik Jimmy yang kemudian berlari ke tempat itu.

__ADS_1


Jimmy duduk di tepian tempat tidur sambil memeriksa kondisi istrinya. Benar kata mereka, Ze tidak mengalami luka sedikitpun. Tubuhnya masih mulus sama seperti sebelumnya.


"Sayang, bangunlah. Ini aku," ucap Jimmy sembari menggoyang-goyangkan tubuh Ze.


Beberapa kali Jimmy menggoyangkan tubuh istri kecilnya itu, tetapi Ze tetap tidak bangun juga. Sementara Jimmy mencoba membangunkan Ze, Nick dan lelaki berpakaian Inem tersebut hanya memperhatikan dari belakang Jimmy.


Karena Ze tidak juga bangun, Jimmy akhirnya panik, ia menggoyangkan tubuh Ze lebih cepat lagi dengan wajah panik sekaligus cemas. "Ze, kamu kenapa? Apa kamu dengar aku?! Ze," panggil Jimmy.


Tiba-tiba Ze membuka matanya dengan wajah menekuk. "Ah, Mas Jimmy menyebalkan! Tidak ada manis-manisnya! Seharusnya dicium kek, seperti cerita di Snow White. Ini malah di goncang-goncang!"


"Oh, syukurlah!" pekik Jimmy yang kemudian memeluk tubuh Ze dengan erat.


"Ulang!" ucap Ze ketika Jimmy melerai pelukannya.


Jimmy menautkan kedua alisnya heran. "Apanya?"


Nick dan lelaki berpakaian Inem tersenyum saling tatap kemudian tertawa pelan.


"Hush! Sudah diam, apa kamu mau di tembak sama Jimmy karena berani mentertawakannya?!" bisik Nick kepada lelaki itu.


"Ternyata mantan mafia yang tidak kenal takut, takut juga sama istrinya," balas lelaki berpakaian Inem.


"Eh, salah! Apa kamu sudah lupa, Jimmy takut jarum suntik!" bisik Nick.


"Ah, ya! Kamu benar."

__ADS_1


Karena permintaan Ze, Jimmy pun terpaksa memgulang adegan itu. Ia mengajak serta dua lelaki yang masih berdiri di belakangnya agak ikut mengulang adegan tersebut. Setelah Jimmy dan kedua orang itu keluar dari kamarnya, Ze pun segera bersiap.


"Ok, aku sudah siap!" teriak Ze sembari membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur tersebut dengan mata terpejam. Sedangkan Jimmy serta kedua lelaki itu masih berdiri di depan pintu kamar.


"Di mana kamu mendapatkan wanita ini, Jimmy?" celetuk Nick sambil mengulum senyum.


"Di hotel, puas! Semoga saja setelah ini kamu yang kena," gerutu Jimmy dengan wajah malas menatap Nick. "Dan kamu, kenapa tidak kamu lepas saja seragam Inem-mu itu? Mataku gatal melihatnya," lanjut Jimmy kepada lelaki berpakaian Inem tersebut.


"Apa kamu tahu, Jimmy! Istrimu meminta kami agar terus mengenakannya hingga ia pulang, gila 'kan?!"


Nick kembali tergelak. "Lah, kenapa bisa begitu?"


"Katanya dia mual dan tidak mau makan kalo yang menyiapkan makanan dan minumannya adalah seorang pria sangar dan mengerikan seperti kami. Jadi, dia bersedia makan dan minum dengan syarat kami harus terlihat lebih feminim. Dan ta-daaaa! Jadilah kami yang seperti ini, bagaimana? Aku cantik 'kan, Nick!" tutur lelaki itu sembari mencolek dagu Nick dan membuat tubuh Nick bergidik ngeri.


"Semoga istriku kelak tidak segila ini, amin!" celetuk Nick.


Jimmy kesal kemudian menjitak kepala sahabatnya itu. "Sialan, memangnya istriku kenapa? Lagi pula ia itu spesies langka, kamu tidak tidak akan menemukan yang seperti ini lagi di belahan dunia manapun," jawab Jimmy.


Tiba-tiba terdengar lagi suara teriakan dari dalam kamar. "Sayang, aku bilang aku sudah siap!"


Jimmy dan kedua lelaki itu saling tatap. "Kalian dengar itu? Kalian tidak akan pernah menemukan istri yang semacam ini," ucap Jimmy sembari membuka pintu kamar tersebut kemudian memasukinya.


Perlahan Jimmy duduk di tepian tempat tidur kemudian melabuhkan sebuah ciuman hangat di bibir berwarna merah muda tersebut. "Bangunlah, Ze sayang. Mas sudah ada di sini," ucap Jimmy.


Ze pun tersenyum lebar kemudian segera memeluk tubuh besar itu. Ia puas karena sudah berhasil mengerjai suaminya tersebut.

__ADS_1


...***...


__ADS_2