
"Baiklah, ajak aku ke sana. Aku ingin pastikan bahwa kamu tidak sedang membohongiku, Leonard." Jimmy menyeringai dan membuat nyali Leo sedikit menciut.
Namun, Leonard berusaha tetap tenang dan menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuk lelaki dewasa tersebut. "Tentu saja, Tuan Jimmy. Dengan senang hati," ucapnya.
Leonard memang terlihat sangat tenang dan pandai menyembunyikan kegugupannya saat itu. Namun, sepandai-pandainya Leonard menyembunyikan kebohongannya, ternyata Jimmy lebih pandai lagi menyingkap kebohongan di mata lelaki itu.
Setibanya di ruang control, Leonard segera mengajak Jimmy menghampiri salah satu petugas di ruangan tersebut.
"Coba Anda tanyakan saja kepada mereka, mereka yang lebih tahu tentang masalah itu. Benar 'kan?" ucap Leonard sembari menepuk pelan puncak salah seorang petugas di ruangan itu.
Petugas itu menoleh kepada Leonard dan Leonard membalas tatapan petugas tersebut dengan lekat seolah memberi isyarat agar petugas itu mengikuti permainannya. Ternyata petugas tersebut mengerti dan ia pun menganggukkan kepalanya.
"Ya, itu benar, Tuan."
Lagi-lagi Jimmy menyadari akan hal itu. Ia menatap Leonard dan petugas tersebut secara bergantian. Untuk beberapa saat Jimmy masih bisa bersabar dan mengikuti permainan kedua orang itu.
__ADS_1
Namun, kesabaran Jimmy pun ada batasnya. Akhirnya lelaki itu lelah mengikuti permainan mereka. "Ayolah, Leonard! Aku bukanlah anak kecil yang masih berusia 5 tahun. Yang akan percaya dengan kebohongan kalian berdua."
Jimmy menghampiri Leonard dan kini berdiri di hadapan lelaki itu dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan Leonard bisa mendengar dengan jelas deru napas lelaki dewasa tersebut. Jimmy menatap Leonard dengan tatapan mengintimidasi.
Leonard ketakutan, bahkan sangat ketakutan. Entah mengapa tatapan Jimmy saat itu terlihat sangat mengerikan dan membuat nyalinya benar-benar menciut. Bahkan ia tidak berani menyunggingkan senyuman hangatnya lagi untuk lelaki itu.
"Sebaiknya lakukan saja apa yang aku perintahkan, Leonard. Dari pada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi hari ini, di tempat ini," ucap Jimmy dengan tatapan dingin menatap Leonard yang begitu ketakutan.
"Ba-baiklah, Tu-tuan Jimmy. Maafkan saya, saya sudah membohongi Anda. Sa-saya terpaksa melakukannya karena saya sudah berjanji membantu Evan dan teman-temannya untuk tidak memberitahu Anda soal rekaman CCTV tersebut," tutur Leonard dengan wajah memucat.
Jimmy tersenyum tipis kemudian merapikan jas yang sedang dikenakan oleh Leonard. "Begitu lebih baik karena saat ini aku benar-benar tidak ingin membuat masalah, Leonard."
Leonard mengajak Jimmy untuk duduk di sebuah kursi milik petugas di ruang control tersebut. Setelah Jimmy duduk di kursi tersebut, Leonard pun ikut duduk di samping Jimmy.
"Apa yang dikatakan oleh Evan kepadamu? Kali ini aku berharap kamu berkata dengan jujur, Leo," tegas Jimmy, masih memasang wajah dingin menatap lelaki itu.
__ADS_1
Dengan sangat terpaksa, Leonard pun akhirnya menceritakan semuanya. Semua yang diceritakan oleh Evan kepadanya tentang kejadian di malam itu. Di mana Evan dan kedua sahabatnya melakukan penjebakkan yang berakhir dengan penggerebekan tersebut.
Jimmy yang tadinya tampak tenang, setelah mendengar penuturan Leonard saat itu, tiba-tiba saja ekspresinya berubah. Ia kesal, bahkan sangat kesal dan juga merasa sangat kecewa atas perbuatan Evan yang benar-benar sangat memalukan.
"Evan sudah sangat keterlaluan!" pekik Jimmy dengan wajah memerah.
"Coba tunjukkan rekaman CCTV yang terjadi pada malam itu, di sekitar kamar tersebut dan juga di sekitar ballroom," titah Leonard kepada petugas di ruang control tersebut.
"Baik, Tuan."
Petugas tersebut mulai melakukan tugasnya. Ia membuka hasil rekaman yang terjadi pada malam itu. Mulai di sekitar tempat acara hingga ke suite room yang di tempati oleh Jimmy dan Ze.
Jimmy menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan konyol serta menjijikkan ketiga lelaki itu dari layar monitor. Ia tidak menyangka bahwa Evan yang selalu dibangga-banggakan oleh Mommy-nya (Oma dari Evan) bisa melakukan hal bodoh seperti itu.
"Ya ampun, Evan! Aku yakin jika seandainya mendiang Daddy-mu masih hidup, dia pasti akan sangat malu mengakuimu sebagai anaknya," gumam Jimmy sembari memijit pelipisnya.
__ADS_1
Setelah mengetahui semuanya, Jimmy mengucapkan terima kasih kepada Leonard karena sudah bersedia membantunya dan Ia pun segera pamit dan kembali ke kediamannya.
...***...