
"Saya akan memberikan obat untuk mengurangi bengkak serta rasa perih yang Nona Ze rasakan saat ini, tapi Tuan Jimmy pun harus dikasih tau, agar ia tidak menyentuh Nona untuk beberapa hari ke depan biar 'itu' nya Nona bis kembali seperti semula," tutur Mei sambil terkekeh melihat ekspresi wajah polos Ze.
"Harus dikasih tau, ya? Tapi ... aku malu," lirih Ze dengan kepala tertunduk.
Mei meraih tangan Ze kemudian mengelusnya dengan lembut. "Tidak usah khawatir, Nona. Tuan Jimmy pasti akan mengerti karena kalian 'kan sama-sama baru jadi wajarlah," sahut Mei.
Ze menatap lekat kedua bola mata Mei tersebut kemudian ia pun menganggukkan kepalanya dengan perlahan. "Baiklah kalau begitu, Mbak."
"Nah, begitu donk, Nona." Mei pun kembali tersenyum kemudian melepaskan tangan Ze yang sejak tadi ia pegang.
Ketika Mei sedang asik menulis sebuah resep obat untuk Ze, Ze kembali berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Mbak Mei. Mbak sudah menikah?" tanya Ze.
"Iya, sudah donk, Non," jawab Mei singkat sambil tersenyum.
"Lalu di mana sekarang suaminya Mbak Mei?" tanya Ze lagi. Ze baru tahu bahwa ternyata Mei sudah menikah. Ia mengira Mei seorang jomblo akut sama seperti Tuannya si Jimmy William itu.
"Dia tinggal di rumah bersama dua anak saya, Nona. Jaraknya lumayan jauh jika saya harus bolak-balik dari sini. Itulah sebabnya kenapa saya memilih menginap di sini dan pulang seminggu sekali untuk menjenguk mereka. Saya merasa sangat beruntung mendapatkan majikan seperti Nyonya Martha. Selain baik, Nyonya juga sudah menganggap saya seperti keluarganya sendiri," tutur Mei dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ya, kamu benar, Mbak. Mommy benar-benar baik. Aku pun merasa beruntung mendapatkan Ibu mertua seperti Mommy," jawab Ze.
"Ya, Nona. Nona harus bersyukur punya Ibu mertua sebaik Nyonya. Nyonya begitu menyayangi Anda sama seperti ia menyayangi Tuan Jimmy," tutur Mei.
Setelah selesai menulis resep obat yang akan ia berikan kepada Ze, Mei pun pamit kepada gadis itu.
"Sebaiknya Nona Ze istirahat saja, saya akan minta salah seorang pelayan untuk segera membeli obat yang sudah saya tulis di sini. Obat untuk mengurangi pembengkakan serta obat demam untuk Anda. Dan soal Tuan Jimmy, nanti saya akan kasih tahu dia tentang hal ini. Saya yakin Tuan Jimmy pasti akan mengerti," tutur Mei sebelum ia keluar dari kamar tersebut.
"Baiklah, Mbak," lirih Ze.
Setelah Mei keluar dari ruangan itu, Mei langsung dicecar berbagai pertanyaan dari Mommy Martha dan Jimmy yang juga sama penasarannya.
Mei memperhatikan ekspresi cemas di wajah kedua orang tersebut dengan seksama. "Sebaiknya kita bicarakan di bawah, soalnya saya harus memberikan resep ini kepada salah seorang pelayan untuk menebusnya," sahut Mei dengan wajah serius, membalas tatapan kedua orang tersebut.
"Ah ya, kamu benar," sahut Mommy setuju.
Sementara Mei meminta salah seorang pelayan untuk menebus resep obat tersebut, Jimmy mengambil kimono mandi milik Mommy Martha untuk menutupi tubuhnya yang tidak sedang berpakaian.
Kini ketiga orang tersebut sudah berkumpul di ruang utama dengan wajah serius. Jimmy dan Mommy Martha tidak sabar menunggu penjelasan dari Mei yang baru saja selesai memeriksa kondisi Ze.
__ADS_1
"Ayo, Mei! Cepat katakan padaku bahwa istriku baik-baik saja," ucap Jimmy, membuka percakapan mereka di ruangan itu.
"Saya minta maaf sebelumnya jika nanti pernyataan saya kurang enak untuk di dengar, tetapi saya hanya mewakili Nona Ze yang tidak berani mengatakannya langsung kepada Anda, Tuan Jimmy," sahut Mei.
"Ish, Mei! Kamu ini bisa saja," celetuk Mommy Martha dengan wajah menekuk menatap perawatnya itu.
"Saya serius, Nyonya Martha. Saya hanya ingin mewakili Nona Ze yang tidak berani berkata lamgsung kepada Tuan Jimmy soal keadaannya saat ini. Saat ini kondisi Nona Ze memang kurang baik. Akibat 'ehem-ehem' tadi malam, 'itu' nya Nona Ze mengalami pembengkakan dan sampai saat ini ia merasakan perih di bagian itunya," tutur Mei sambil memperhatikan ekspresi terkejut kedua orang yang sedang duduk di hadapannya.
"Oleh sebab itu saya beritahukan kepada Anda, Tuan Jimmy agar tidak menyentuh Nona Ze untuk beberapa hari ke depan. Agar 'itunya' Nona Ze bisa kembali seperti semula dan juga untuk mengurangi rasa ketakutannya yang berlebihan. Beruntung Nona Ze tidak trauma, kalau trauma 'kan bisa berabe," lanjut Mei, membuat Ibu dan anak tersebut semakin cemas.
"Ish, kamu ini, Mei! Jangan bikin kami takut," sahut Mommy.
"Beneran loh, Nyonya. Saya tidak sedang menakut-nakuti kalian," ucap Mei lagi.
Jimmy yang sejak tadi hanya diam sambil mendengarkan penjelasan dari Mei tiba-tiba membuka suaranya. "Sebentar, aku yakin sekali bahwa semua ini ada hubungannya dengan kalian. Benar, 'kan? Oleh sebab itu kalian pun harus ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Ze!"
"Lah, kok kami?!" pekik Mommy Martha dan Mei yang saling tatap dengan mata membulat.
...***...
__ADS_1