
Keesokan paginya.
Ze baru saja terbangun dari tidurnya dan ternyata Jimmy sudah berpakaian rapih. Lelaki itu terlihat tampan, sama seperti biasanya. Rambutnya tersisir rapi dan setelan kemeja yang ia kenakan saat itu semakin menyempurnakan penampilannya.
Ze melirik jam yang tergantung di dinding kamar mereka. Ia menautkan kedua alisnya karena saat ini masih terlalu pagi untuk pergi ke tempat gym. Jimmy tidak,menyadari bahwa saat itu Sang Istri sudah terbangun dari tidurnya.
"Mas," sapa Ze.
Jimmy terperanjat dan segera menoleh ke arah Ze. Lelaki itu tersenyum hangat kemudian berjalan menghampiri tempat tidur dan duduk di tepiannya.
"Kamu sudah bangun?" Jimmy mengelus puncak kepala Ze lalu melabuhkan sebuah ciuman seperti yang selalu ia lakukan.
"Mas mau kemana pagi-pagi begini? Bukankah ini masih terlalu pagi pergi ke tempat gym?" tanya Ze dengan wajah heran menatap Jimmy.
"Ehm ... sebenarnya hari ini aku ingin pergi ke kota A untuk menemui teman lamaku. Tapi, aku berjanji padamu, Sayang. Aku tidak akan lama-lama di sana. Setelah urusan kami selesai, aku pun akan segera kembali," ucap Jimmy.
Bibir Ze masih tertutup rapat, tetapi tatapannya menohok tajam ke arah lelaki itu. Ada rasa cemburu yang menyelimuti hatinya saat ini. Ze curiga, seseorang yang akan ditemui oleh Jimmy saat ini adalah orang yang sama, yang menghubunginya tadi malam.
Jimmy kembali bangkit dari posisinya. Ia masih belum selesai merapikan kemeja serta celana yang sedang ia kenakan. Namun, baru saja Jimmy ingin beranjak dari tempat tidur, Ze menangkap tangannya dengan secepat kilat dan menahan lelaki itu.
"Temanmu itu laki-laki atau perempuan, Mas?" tanya Ze dengan wajah serius. Benar-benar serius.
Jimmy terkekeh pelan melihat reaksi Ze saat itu. Lelaki itu kembali duduk di samping Ze kemudian menjawab pertanyaan istri kecilnya itu.
"Memangnya kenapa jika temanku seorang perempuan. Apa kamu cemburu?" sahut Jimmy sembari mengelus pipi kanan Ze dengan lembut.
__ADS_1
"Ya iyalah, Mas! Siapa sih yang tidak cemburu jika suaminya ketemuan sama seorang cewek dengan pakaian se-keren ini. Ya, walaupun dengan alasan bahwa cewek itu adalah teman lamanya," kesal Ze sambil mencebikkan bibirnya.
Jimmy tergelak mendengar jawaban Ze. Ia senang karena wanita itu mau mengakui bahwa dirinya tengah cemburu. "Tidak, Sayang. Teman lamaku laki-laki. Semuanya laki-laki, tidak ada perempuan," jawab Jimmy sembari menenangkan Ze yang sedang kesal.
"Jangan bohong!"
"Aku bersumpah. Aku tidak bohong, Sayang," jawab Jimmy lagi.
"Aku tidak percaya! Lalu siapa yang menghubungi Mas tadi malam? Apakah dia orang yang sama dengan seseorang yang ingin Mas temui hari ini?" tanya Ze penuh selidik.
Jimmy menghembuskan napas berat. "Ya, kamu benar. Lelaki yang ingin aku temui hari ini adalah lelaki yang menghubungiku tadi malam," jawab Jimmy.
"Siapa?" tanya Ze yang masih penasaran.
"Ta-tapi kenapa?" tanya Ze lagi.
"Ehm, sudahlah. Sebaiknya aku berangkat dulu, soalnya perjalanan yang akan aku tempuh lumayan jauh," ucap Jimmy yang kemudian bersiap untuk beranjak dari kamar tersebut.
Ze bergegas bangkit dan kembali menghampiri Jimmy yang sudah berada di ambang pintu kamar dengan wajah kusutnya. Bahkan rambutnya pun masih terlihat acak-acakan saat itu. Kini Ze berdiri tepat di hadapan Jimmy sambil merentangkan kedua tangannya.
"Maafkan aku, Mas Jimmy. Tapi aku tidak mengizinkanmu pergi," tegas Ze dengan wajah serius menatap Jimmy.
Jimmy menghembuskan napas berat. "Tapi kenapa, Ze? Percayalah padaku bahwa aku hanya menemui teman lamaku dan dia seorang laki-laki," jawab Jimmy, mencoba meyakinkan Ze sekali lagi.
"Aku tidak tahu, pokoknya aku tidak mau Mas pergi, titik!" Ze menghambur ke pelukan Jimmy kemudian memeluk tubuh lelaki itu dengan sangat erat.
__ADS_1
Bukan hanya Ze, Jimmy pun sebenarnya enggan berangkat dan menemui lelaki itu lagi. Namun, jika ia tidak menemuinya, ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya.
"Jika kamu bersikeras untuk berangkat, maka aku harus ikut!" tegas Ze yang masih menyandarkan kepalanya di dada bidang Jimmy.
"Tidak bisa, Ze. Kumohon, percayalah padaku dan biarkan aku pergi hari ini," ucap Jimmy.
Tepat di saat itu, Mommy Martha tidak sengaja melewati kamar mereka. "Ze kenapa?" tanya Mommy Martha heran ketika melihat Ze yang tengah bersedih di pelukan Jimmy.
"Bu--" Perkataan Jimmy terhenti ketika Ze menyela ucapannya.
Ze melerai pelukannya bersama Jimmy kemudian menatap Mommy Martha. "Mas Jimmy ingin pergi menemui salah satu teman lamanya, Mom. Tapi dia tidak mau mengajak Ze," lirih Ze sambil memelas kepada Ibu mertuanya tersebut.
Mommy Martha tampak terkejut. Ia menatap Jimmy dengan tatapan seriusnya. "Teman lama? Apa kamu ingin menemui lelaki itu lagi, Jimmy?!" pekik Mommy Martha.
Jimmy tampak serba salah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memasang wajah kusut, sama seperti Ze. "Ya, Mom!" jawab Jimmy.
"Tidak! Mommy tidak mengizinkanmu, Jimmy! Apa kamu mau Mommy kembali seperti dulu, ha?! Kamu senang melihat Mommy menderita, iya?!" pekik Mommy Martha dengan mata berkaca-kaca.
Jimmy menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Mom! Tidak," jawab Jimmy yang kemudian memeluk tubuh Mommy Martha dengan erat.
"Sebaiknya lupakan mereka, Jimmy. Lagi pula, apa kamu sudah lupa? Sebentar lagi kamu akan punya anak dan anakmu lebih membutuhkan dirimu dari pada mereka," lirih Mommy Martha.
Ze yang tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, hanya bisa diam dan memperhatikan mereka.
...***...
__ADS_1