My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Bersiap Ke Pesta


__ADS_3

"Bagaimana caranya aku minta izin kepada Ibu, ya?" Ze tampak kebingungan.


Ia mondar-mandir di dalam kamarnya sambil berpikir bagaimana caranya meminta izin kepada Sang Bunda. Ia ingin sekali datang ke pesta peluncuran produk terbaru milik Evan malam ini di sebuah hotel mewah yang ada di tengah kota.


Setelah berpikir keras, akhirnya Ze memutuskan untuk menghampiri Ibunya yang sedang bersantai di ruang depan sambil menonton acara kesukaannya. Perlahan Ze ikut duduk di samping Ibunya yang sedang menghayati cerita sinetron kesukaannya sambil marah-marah tidak jelas.


"Hhh! Dasar bodoh, cakar saja wanita itu!" celetuknya dengan wajah kesal.


Huft! Ze membuang napas berat.


Saat ini Ibunya tidak bisa diganggu gugat. Kalau sudah urusan acara kesukaannya, wanita 40 tahun itu tidak bisa diganggu-gugat. Cukup lama Ze mendengarkan ocehan tidak jelas Bu Lidya hingga akhirnya iklan pun tiba. Ini adalah kesempatan emas untuk Ze menyampaikan keinginannya kepada Sang Ibu.


"Bu," sapa Ze.


Bu Lidya menoleh kemudian menatap lekat kedua bola mata Ze. "Apa, sih?"


"Ehm, malam ini Ze ingin minta izin pergi ke pesta teman, boleh 'kan, Bu?" ucap Ze dengan ragu-ragu. Sebenarnya Ze tidak yakin Bu Lidya mengizinkannya karena ia sudah pernah ingkar janji serta membohongi Ibunya tersebut.


Bu Lidya masih menatap Ze dengan wajah serius. "Temanmu itu laki atau perempuan?"

__ADS_1


Tidak mungkin kali ini Ze membohongi Bu Lidya lagi. Bisa-bisa ia tidak akan pernah dipercaya lagi oleh wanita itu. "Laki-laki, Bu. Yang dulu pernah menjemput Ze dengan menggunakan mobil mewah. Boleh ya, Bu!" sahut Ze dengan wajah memelas.


Kalau Ze sudah memasang ekspresi wajah yang seperti itu, Bu Lidya pasti luluh dan ia pun bersedia mengikuti keinginan anak semata wayangnya itu. "Baiklah, tapi ingat jangan pulang larut malam. Mengerti?"


Ze pun menganggukkan kepalanya dengan cepat sambil menyunggingkan senyuman manisnya. "Oh Ibu, terima kasih banyak! Makin sayang deh sama Ibu," ucap Ze sembari memeluk tubuh Ibunya dengan erat.


"Eh, sudah-sudah! Lepaskan Ibu, sinetron kesukaan Ibu sudah mulai, minggir-minggir!" sahut Bu Lidya seraya melerai pelukannya bersama Ze.


"Oke, Bu!" ucap Ze yang kemudian mencium puncak kepala Ibunya dengan lembut.


Ze bergegas kembali ke kamarnya. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah memilih pakaian yang cocok untuk dikenakan ke pesta malam ini. Setibanya di kamar, langkah Ze langsung mengarah ke lemari pakaiannya.


Ia membuka pintu lemari pakaian kemudian memperhatikannya dengan seksama. Ada beberapa koleksi pakaian milik Ze yang menggantung di dalam lemari tersebut dengan menggunakan hanger.


Sudah satu jam lebih Ze mengobrak-abrik lemari pakaiannya untuk mencari pakaian yang tepat ia kenakan untuk malam ini dan pilihan terakhirnya jatuh pada selembar dress selutut berwarna cream.


Dress yang sangat sederhana, tetapi paling nyaman saat digunakan menurut gadis itu. "Ya, sudah, yang ini sajalah," gumannya seraya meraih dress tersebut kemudian meletakkannya di atas tempat tidur.


Setelah selesai memilih dress tersebut, sekarang Ze menuju kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya biar terlihat lebih segar. Selesai mandi, gadis itu segera meraih dress yang ia letakkan di atas tempat tidurnya kemudian mengenakannya.

__ADS_1


Ze menatap bayangannya di cermin dengan menggunakan dress yang terlihat sangat sederhana tersebut dengan seksama. Ada gurat kesedihan di wajahnya saat itu, apalagi saat ia membayangkan berdiri bersama Evan yang gagah dan keren, yang selalu menggunakan tuxedo mahalnya.


"Kehidupanku dan lelaki itu bagai langit dan bumi. Mungkinkah takdir menyatukan kami?" gumam Ze.


Tiba-tiba ia tersadar dari lamunannya dan teringat akan pesta itu. Ze pun duduk di depan cermin kemudian berdandan seadanya dengan alat yang seadanya pula. Walaupun begitu, Ze tetap terlihat manis.


"Selesai! Sekarang saatnya berangkat," gumam Ze sambil tersenyum manis menatap bayangannya.


Ze meraih tas selempang kecil yang ia gunakan untuk menyimpan dompet serta ponselnya. Setelah itu ia pun segera berpamitan kepada Bu Lydia.


"Bu, Ze berangkat dulu, ya." Ze meraih tangan Bu Lidya kemudian menciumnya.


"Ingat ya, Ze. Jangan pulang larut malam," ucap Bu Lidya seraya mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut. Ia memperhatikan penampilan Ze saat itu sambil tersenyum.


"Kamu terlihat sangat cantik, Ze."


"Ah, tentu saja donk, Bu. Tapi, sayang cantiknya hanya di mata Ibu," jawab Ze sambil tertawa pelan. Ze memperhatikan jam tangannya. "Ya, sudah. Ze berangkat, ya."


Ze melambaikan tangan kepada Bu Lidya sembari keluar dari rumahnya. "Bye, Bu!"

__ADS_1


"Bye, Ze!"


...***...


__ADS_2