My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Nyatakan Cinta


__ADS_3

Akhirnya makan malam mereka pun selesai. Kini Ze dan Evan bersantai sejenak di tempat tersebut. Namun, tiba-tiba saja seorang waitress datang menghampiri Evan dengan membawa buket bunga mawar mewar yang terlihat sangat cantik.


"Ini, Tuan." Waitress itu menyerahkan buket bunga tersebut sambil tersenyum hangat kepada Evan.


"Oh, ya! Terima kasih," jawab Evan seraya menyambut buket bunga tersebut dengab cepat.


Setelah Waitress tersebut pergi, Evan segera bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menghampiri kursi Ze sambil menyunggingkan senyuman manisnya kepada gadis itu.


Ze tampak kebingungan melihat Evan yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya dengan memegang buket bunga mawar yang sangat cantik tersebut. Ia memperlihatkan Evan bahkan tanpa berkedip sedikitpun.


"Ze," ucap Evan seraya berjongkok di hadapannya. "Maukah kamu menjadi kekasihku?!" sambung Evan sembari menyerahkan buket bunga mawar tersebut di hadapan Ze.


Apa yang dilakukan oleh Evan saat itu sempat menjadi pusat perhatian para pengunjung lainnya. Namun, hanya sebentar dan mereka pun kembali fokus pada meja mereka. Walaupun masih ada beberapa yang memperhatikan kejadian itu dengan seksama karena mereka penasaran dengan jawaban dari gadis itu.


Ze terkejut bukan main setelah mendengar penuturan Evan saat itu. Ia tidak percaya bahwa ternyata lelaki itu sedang menyatakan cinta kepadanya. "Ka-kamu serius, Evan?" tanya Ze dengan terbata-bata, sebenarnya gadis itu masih ragu dengan apa yang terjadi di hadapan mata kepalanya.


"Ya, Ze! Aku serius. Maukah kamu menjadi kekasihku?" ucap Evan sekali lagi, mencoba meyakinkan Ze saat itu.

__ADS_1


Aldi dan Daniel tertawa pelan, menertawakan aksi Evan yang terlihat konyol menurut mereka. Sedangkan Evan setengah mati menahan malu, walaupun begitu ia tidak menyerah sebelum ia berhasil memenangkan taruhan mereka.


"Ucapkan selamat tinggal kepada mobilmu, Daniel!" goda Aldi kepada Daniel.


Daniel masih fokus pada kamera ponselnya yang sedang merekam kejadian unik sekaligus langka di hadapan mereka. Ia sempat menekuk wajahnya ketika mendengar ocehan Aldi soal mobil sport miliknya yang akan segera melayang ke tangan Evan.


"Sialan kamu, Aldi!" gerutunya, tetapi mata lelaki itu tetap fokus pada layar ponselnya.


"Sudahlah, ikhlaskan saja!" sambung Aldi sembari menepuk pelan pundak Daniel.


"Aku masih punya waktu satu bulan untuk memenangkan taruhan ini," sahut Daniel.


Tanpa berpikir panjang, Ze pun akhirnya menganggukkan kepalanya dengan cepat walaupun sebenarnya saat itu ia masih tidak yakin dengan apa yang ucapkan oleh Evan kepadanya.


"Ya, aku mau!" jawab Ze sambil tersipu malu.


"Yess!" seru Evan dengan wajah semringah karena langkahnya menuju kemenangan, tinggal sedikit lagi.

__ADS_1


"Ini untukmu, terimalah." Evan menyerahkan buket bunga mawar tersebut kepada Ze dan segera disambut oleh gadis itu.


"Terima kasih, Evan." Ze begitu bahagia walaupun yang ia dapatkan saat itu hanyalah sebuah buket bunga mawar. Namun, buket bunga tersebut tetap terasa sangat spesial bagi Ze karena benda cantik itu pemberian lelaki pujaan hatinya selama ini.


Ze dan Evan kembali berbincang-bincang di tempat itu untuk beberapa saat hingga akhirnya Evan menyampaikan sesuatu yang di luar dugaan Ze.


"Ze, maafkan aku. Aku tidak bisa mengantarkanmu pulang." Evan melirik jam tangan mewah yang sedang ia kenakan.


"Aku ada janji dengan klienku untuk bertemu di sini, beberapa menit lagi. Tapi kamu tenang saja, aku sudah pesankan taksi online untukmu. Jadi, kamu tinggal tunggu saja di depan dan taksi tersebut akan mengantarkanmu hingga ke rumahmu. Sekali lagi, maafkan aku," tutur Evan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ia mengelus tangan Ze yang mengulur di atas meja sambil tersenyum kecut.


Kecewa? Ya, tentu saja! Ze sangat kecewa setelah mendengar ucapan Evan saat itu. Namun, ia tidak bisa memaksa lelaki itu untuk mengantarkannya kembali ke rumah dan mau tidak mau, Ze pun harus setuju dengan keputusan lelaki itu.


"Baiklah, tidak apa-apa, Evan. Lagi pula aku sudah terbiasa naik angkutan umum," lirih Ze.


Ze bangkit dari tempat duduknya kemudian pamit kepada Evan saat itu sambil menyunggingkan senyuman manisnya. "Bye, Evan. Terima kasih untuk makan malam serta buket bunganya," ucap Ze.


"Ya, sama-sama. Sekali lagi, maafkan aku karena tidak bisa mengantarkanmu kembali," sahut Evan sembari melambaikan tangannya kepada Ze yang sudah melangkahkan kakinya menjauh dari meja mereka.

__ADS_1


Ze mengangguk pelan kemudian meneruskan langkah gontainya menuju halaman depan restoran mewah tersebut dengan hati 'galau'.


...***...


__ADS_2