
Akhirnya pasangan pengantin baru itu pun tiba di kediaman Mommy Martha. Mommy Martha, Evan dan para pekerja di kediaman mewah tersebut menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Ehm, sebenarnya kata 'hangat' tersebut tidak berlaku untuk Evan.
Evan bahkan begitu malas menyambut kedatangan mereka. Namun, Mommy Martha memaksa cucu lelakinya itu untuk ikut bersamanya dan mau tidak mau, Evan pun dengan terpaksa mengikuti keinginan Oma-nya tersebut.
"Selamat datang, Sayang!" ucap Mommy Martha sembari merentangkan tangannya untuk Ze dan Jimmy secara bergantian kemudian memeluk mereka.
"Terima kasih, Mommy," sahut Ze.
Mommy Martha menatap Evan dengan mata membulat. Ia ingin cucu lelakinya itu segera menyambut kedatangan Ze sebagai anggota keluarga baru mereka. Apa lagi status Ze di sini adalah Aunty muda untuk Evan.
Lagi-lagi Evan harus mengalah. Ia berjalan menghampiri Ze dan kini berdiri tepat di hadapan gadis itu. Jantung Ze berdetak dengan cepat dan ia benar-benar grogi ketika Evan berada di dekatnya.
"Selamat datang, Aunty," sapa Evan dengan kepala tertunduk.
Ia sama sekali tidak ingin bertatap mata dengan gadis itu, apa lagi dengan Jimmy. Nyali Evan sudah cukup menciut setelan insiden pemukulan yang dilakukan oleh Jimmy dan ia tidak ingin hal itu terulang kembali.
"Te-terima kasih," jawab Ze dengan terbata-bata.
__ADS_1
"Sudahlah, Mom. Kami sudah lelah, sebaiknya biarkan kami istirahat sekarang, ya," sela Jimmy yang sudah mulai jenuh dengan keadaan di sekitarnya.
"Oh, baiklah-baiklah. Mari masuk, Ze sayang," ajak Mommy Martha dan diikuti oleh para pelayan serta Evan yang berada jauh di belakang mereka.
Setelah tiba di ruang utama, tepatnya di dasar tangga, Mommy meminta Jimmy untuk membopong tubuh Ze, menaiki tangga menuju kamar yang akan mereka tempati nantinya.
"Ayolah, Jimmy! Masa pengantin baru tidak ada romatis-romantisnya, sih?!" protes Mommy Martha.
"Aduh, Mommy. Tubuhku rasanya sakit semua, masa aku harus membopong tubuh istriku pula? Lagi pula dia punya dua kaki dan masih berfungsi dengan baik. Benar 'kan, Ze?" celetuk Jimmy.
"Ah, pokoknya Mommy tidak mau tahu! Dulu mendiang Daddy saja melakukan hal itu untuk Mommy! Masa kamu kalah sama mendiang Daddy kamu, Jimmy," kesal Mommy Martha dengan wajah menekuk.
Jimmy menghembuskan napas berat kemudian ia pun mengangkat tubuh kecil Ze dengan mudahnya. Ze sontak terkejut dan segera mengalungkan tangannya ke leher Jimmy untuk berpegangan agar tidak terjatuh.
"Baiklah, mari kita honneymoon, Sayang!" ucap Jimmy sembari melangkah menaiki anak tangga dengan membopong tubuh Ze.
"Hah?!" pekik Ze dengan mata membulat menatap wajah Jimmy yang berada begitu dekat dengannya.
__ADS_1
Namun, Jimmy tidak mempedulikan bagaimana reaksi Ze saat itu. Ia mengatakan hal itu agar Mommy Martha senang ketika mendengarnya. Benar saja, Mommy sangat senang mendengarnya. Ia bahkan menepuk pundak perawat yang berada di samping tubuhnya dengan gemas.
"Moga aku cepat dikasih cucu! Aku sudah tidak sabar ingin menimang cucu baru. Kalau Evan, dia sudah tua! Gak bisa ditimang-timang lagi," celetuk Mommy Martha sembari memperhatikan Jimmy yang membawa serta istrinya ke lantai atas, di mana kamar mereka berada.
"Amin!" jawab Sang Perawat sembari mengelus pundaknya yang sakit akibat pukulan Mommy Martha.
Setibanya di depan kamarnya, tanpa melepaskan tubuh Ze, Jimmy membuka pintu kamar tersebut kemudian memperhatikan ruangan itu dengan seksama. Ruangan itu telihat sangat berbeda dan terkesan sangat romantis.
"Ya ampun, Mommy!" gumam Jimmy yang melangkahkan kakinya menuju tempat tidur.
"Berapa berat badanmu, Ze? Tubuhmu terasa ringan sekali," gumam Jimmy seraya meletakkan tubuh mungil Ze ke atas tempat tidur yang kini penuh dengan kelopak bunga mawar berbagai warna.
"Ish, masa sih, Om?" kesal Ze dengan wajah menekuk.
Jimmy mencebikkan bibirnya kemudian mulai melepaskan satu-persatu kancing jas yang masih ia kenakan. Ze gemetar ketika menyaksikan lelaki itu melepaskan pakaiannya. Walaupun ia pernah melihat Jimmy dengan setengah telanjangg. Namun, tetap saja hal itu membuat Ze ketakutan.
***
__ADS_1