My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Trypanophobia


__ADS_3

"Tidak, tidak! Ku mohon, percayalah padaku. Aku baik-baik saja, sumpah!" ucap Jimmy mencoba meyakinkan Ze bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak butuh pengobatan dari Dokter tersebut.


"Ah, nungguin Jimmy bersedia diperiksa oleh Dokter, sampe matahari menangis pun rasanya mustahil," gerutu Mommy Martha.


"Mei, panggil para penjaga keamanan untuk masuk!" titah Mommy Martha.


"Astaga, Mommy!" pekik Jimmy dengan wajah kesal.


"Baik, Nyonya!" Mei bergegas keluar dari ruangan itu kemudian menghampiri para penjaga keamanan yang sudah berjaga-jaga di depan kamar Jimmy dan Ze.


Hanya dalam hitungan detik, beberapa orang penjaga keamanan bertubuh tambun berkumpul di dalam kamar Jimmy untuk mengamankan lelaki itu. Namun, sebelum para keamanan beraksi, Jimmy sudah menjauh dan kini berdiri di atas tempat tidurnya sambil mengancam mereka.


"Jangan ada yang mendekat atau kalian akan menyesal nantinya!"


"Sudah, jangan hiraukan perkataannya! Cepat, tangkap dan tahan tubuh besarnya itu agar Dokter bisa memeriksanya," titah Mommy kepada para penjaga keamanan.


"Baik, Nyonya!" Walaupun mereka takut akan ancaman Jimmy. Namun, mereka lebih takut membantah perintah Nyonya besar mereka.


"Mau apa kalian, ha?! Jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu kepada kalian, ya!" ancam Jimmy sambil memasang kuda-kuda ketika para penjaga keamanan itu mendekat ke arahnya.


"Jangan takut! Aku yang akan bertanggung jawab terhadap kalian. Sekarang kalian lakukan saja tugas kalian," ucap Mommy Martha mencoba meyakinkan para penjaga keamanan yang hatinya mulai gentar setelah mendengar ancaman dari lelaki itu.


Perlahan para penjaga keamanan pun mulai mengelilingi tempat tidur milik Jimmy dan bersiap menangkap lelaki itu. Benar saja, ternyata bukan hanya sekedar ancaman belaka. Jimmy benar-benar menyerang para penjaga keamanan yang mencoba mengamankannya dengan sisa-sisa kekuatan yang ada.


Ze, Mommy, Mei dan Dokter itu hanya bisa terpelongo melihat adegan yang terjadi di hadapan mereka. Hanya dalam hitungan menit, para keamanan yang berusaha menangkap Jimmy, terjengkang di lantai sambil meringis kesakitan.


"Hayo, siapa lagi yang mau melawanku," ucap Jimmy sambil memperhatikan keempat orang yang sedang memperhatikan dirinya dengan mata membulat.

__ADS_1


"Dasar anak kurang aj*r! Kamu menantang Mommy ternyata, hah!" kesal Mommy Martha sembari menghampiri Jimmy kemudian menjewer telinganya.


"Aduh ... ampun, Mom!" pekik Jimmy.


"Sudah, turuti saja apa kata Mommy, Jimmy! Jangan seperti anak kecil," kesal Mommy lagi.


"Baiklah-baiklah. Tapi biarkan Ze menemaniku," ucap Jimmy sambil memelas.


Mommy melepaskan telinga Jimmy kemudian membiarkan Ze menghampiri suaminya yang mengalami Trypanophobia, di mana ia memiliki ketakutan yang berlebihan akan tindakan medis atau tindakan yang berhubungan dengan jarum suntik dan itu sudah terjadi sejak ia masih kecil hingga sekarang.


"Maafkan Jimmy ya, Dok," ucap Mommy Martha kepada Dokter yang masih mematung di tempatnya berdiri dengan mata membulat.


Dokter itu menganggukkan kepalanya pelan. Namun tiba-tiba saja bayangan kejadian dulu terlintas lagi di pikirannya, di mana ia pernah mencoba menyuntik Jimmy yang sedang sakit demam.


Dokter itu malah jatuh tersungkur di lantai kamar Jimmy dengan jarum suntik yang tertancap di bahu kanannya. Kejadian itu terjadi begitu cepat. Bahkan Dokter pun tidak tahu persis bagaimana Jimmy refleks menendangnya dan tiba-tiba jarum suntik itu berpindah tangan hingga akhirnya tertancap di bahunya sendiri.


"Mas Jimmy tidak usah takut. Ada Ze di sini," ucap Ze sambil tersenyum. "Biarkan Dokter itu memeriksamu, ya?" bujuknya lagi.


Perlahan Jimmy menganggukkan kepalanya. Ia merasa sedikit lebih tenang setelah melihat senyuman hangat dari istri kecilnya itu. "Baiklah, tapi temani aku, ya. Aku takut," jawabnya.


"Ya. Sini, biar aku peluk, Mas Jimmy."


Ze memeluk tubuh besar itu dengan erat sedangkan Jimmy menenggelamkan kepalanya di pundak Ze dengan mata tertutup. Ia tidak ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Dokter terhadap tubuhnya.


Melihat kesempatan itu, Dokter pun segera datang menghampiri dan kemudian mulai memeriksa kondisi kesehatan Jimmy saat itu. Baru saja Dokter ingin memasangkan Tensimeter ke lengan kekarnya, Jimmy sudah berteriak histeris dan membuat Ze terkejut.


Aaakkhhh! teriaknya.

__ADS_1


"Astaga, Mas Jimmy! Dokter baru memasang alat tensi darah, bukan ingin menyuntikmu," ucap Ze.


Dengan tangan yang gemetar, Dokter mengecek tekanan darah Jimmy saat itu dan ternyata, hasilnya Jimmy memang sedang mengalami tekanan darah rendah, yaitu di bawah 90/60 mmHg.


Setelah mendapatkan hasil dari pemeriksaannya, Dokter pun akhirnya bisa menyimpulkan obat apa yang harus ia berikan kepada lelaki bertubuh besar itu.


Tanpa banyak bicara, Dokter mempersiapkan alat suntik dan perlahan membuka sedikit celana lelaki itu. Jimmy tahu bahwa saat itu ia akan segera disuntik oleh Dokter. Ia mempererat pelukannya kepada Ze dan membuat wanita itu kesusahan bernapas dibuatnya.


Dokter meletakkan kapas yang sudah diberi alkohol ke bokong lelaki itu. Tubuh Jimmy menegang, bokongnya terlihat berkedut-kedut karena saking takutnya.


"Jangan tegang, Mas! Rileks ...." Ze mencoba menenangkan Jimmy yang kembali diserang panik.


"Aku takut!" Tubuh Jimmy bergetar hebat di dalam pelukan Ze.


"Tidak akan apa-apa kok, Mas! Mas masa kalah sama aku, Mas menyuntikku dengan alat suntik yang berpuluh-puluh kali lipat lebih besar dari itu dan aku biasa saja," ucap Ze dengan setengah berbisik.


"Kata siapa kamu biasa saja? Buktinya kamu demam, 'kan?" kesal Jimmy sambil menahan rasa takutnya.


"Sudah selesai!" ucap Dokter sambil menghela napas lega karena akhirnya ia tidak mengalami kejadian buruk itu lagi.


"Nah, kan! Sudah selesai," ucap Ze yang juga merasa lega.


"Saya sengaja memilihkan jarum dengan ukuran yang paling kecil agar Tuan Jimmy tidak merasa kesakitan," tutur Dokter.


"Bukan tentang sakit, Dok! Aku takut, hanya takut!" sahut Jimmy.


...***...

__ADS_1


__ADS_2