My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Mobil Mencurigakan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


"Hai, Sayang. Jangan nakal, ya! Jangan buat Mommy-mu susah, oke?!" ucap Jimmy sambil mengelus lembut perut Ze yang masih rata.


"Siap, Daddy!" jawab Ze sembari menirukan suara anak kecil.


Jimmy pun bergegas masuk ke dalam mobilnya kemudian bersiap melaju bersama benda beroda empat tersebut menuju tempat kerjanya.


"Oh ya, Mas. Mas tidak lupa 'kan bahwa hari ini aku akan berkunjung ke rumah Ibu?" tanya Ze kepada Jimmy yang sedang menghidupkan mesin mobilnya.


Jimmy mengangguk pelan sambil tersenyum hangat. "Ya, tentu saja. Nanti sore setelah pulang kerja, aku akan menjemputmu sekalian," jawab Jimmy.


"Ya, Mas. Ehm, hati-hati di jalan ya, jangan ngebut-ngebut!" Ze melambaikan tangannya setelah Jimmy melajukan mobil tersebut keluar dari halaman yang luas itu.


Setelah Jimmy pergi, Ze pun segera bersiap-siap. Namun, sebelum berangkat ke kediaman Bu Lidya, Ze sempat meminta izin kepada Mommy Martha terlebih dahulu dan setelah mendapatkan izin, ia pun segera berangkat bersama sopir pribadi Ibu mertuanya tersebut.


"Kenapa perasaanku tidak enak begini ya, Mei. Tapi, semoga saja Ze tiba dengan selamat hingga ke tujuan," ucap Mommy Martha kepada Mei yang selalu setia berada di sampingnya.


"Amin. Sudah lah, Nyonya. Jangan terlalu dipikirkan. Nona Ze pasti akan baik-baik saja, kok. Lagi pula jarak rumah Bu Lidya dan tempat ini 'kan tidak terlalu jauh dan Nona Ze juga sudah terbiasa bolak-balik dari tempat ini ke kediaman Bu Lidya," tutur Mei.


"Ya, kamu benar," jawab Mommy Martha. Ya, walaupun di raut wajahnya masih terlihat jelas kekhawatiran itu.

__ADS_1


Sementara itu di perjalanan.


Sejak pertama keluar dari gerbang rumah mewah milk Mommy Martha, Ze terus memperhatikan sebuah mobil berwarna silver yang sedang melaju di belakangnya. Entah kenapa Ze curiga bahwa seseorang di dalam mobil tersebut tengah mengikuti mobilnya.


"Pak, coba lihatlah mobil berwarna silver yang sedang melaju di belakang kita. Apa ini hanya perasaanku saja atau mobil itu memang sedang membuntuti kita?" Ze menepuk jok yang diduduki Pak Sopir kemudian menunjuk ke arah mobil tersebut.


Pak Sopir melirik dari kaca spion mobil. Ia memperhatikan mobil berwarna silver itu sekilas kemudian tersenyum tipis. "Mungkin itu hanya perasaan Nona saja. Tidak mungkin mereka mengikuti kita," jawab Sopir tersebut.


Ze menautkan alisnya kemudian kembali memperhatikan mobil yang sedang mengekor di belakang mobilnya tersebut. Wanita itu mencoba mempercayai kata-kata Pak Sopir. Ya, walaupun sebenarnya ia masih yakin bahwa mobil berwarna silver tersebut memang sedang mengikuti mobil mereka.


"Sudahlah, Nona Ze. Anda tidak usah cemas. Saya yakin bahwa mereka tidak memiliki niat jahat. Mungkin saja mereka ingin mendahului kita, tetapi karena tidak ada kesempatan untuk menyalip, akhirnya mereka hanya bisa mengikuti kita dari belakang," tutur Pak Sopir yang ternyata menyadari kegundahan Ze saat itu.


"Ya, mungkin Bapak benar," sahut Ze.


Pak Sopir terus melajukan mobil tersebut hingga akhirnya mereka tiba di jalanan yang cukup lenggang. Pak Sopir menurunkan kecepatan mobilnya dan memberikan kesempatan untuk mobil berwarna silver tersebut agar bisa melaju mendahului mereka. Mobil berwarna silver itu pun bergegas mendahului mobil yang ditumpangi oleh Ze.


"Nah, benar 'kan, Nona. Sebenarnya mereka ingin mendahului kita. Hanya saja ia tidak berani menyalip. Ya, mungkin sopirnya baru belajar mengemudi," ucap Pak Sopir kepada Ze ketika mobil berwarna silver tersebut melewati mobil mereka.


Pada awalnya Ze percaya. Namun, keyakinannya tiba-tiba sirna ketika mobil berwarna silver tersebut berhenti tepat di hadapan mobil yang ia tumpangi.


"Awas, Pak! Awas!" pekik Ze sambil menutup kedua matanya rapat.

__ADS_1


Beruntung Pak Sopir gesit dan bisa menghentikan mobilnya tepat waktu hingga tabrakan pun bisa dihindari.


"Fiuh!" Pak Sopir menghembuskan napas lega karena berhasil menghindari tabrakan tersebut.


Jantung Ze berdetak dengan cepat dan sekarang ia yakin bahwa orang yang sedang mengemudikan mobil berwarna silver tersebut memiliki niat yang tidak baik.


"Kenapa mereka berhenti mendadak, Pak? Aku takut," ucap Ze dengan wajah memucat.


"Tenang, Nona Ze. Kita berdoa saja semoga mereka tidak memiliki niat buruk terhadap kita," jawab Pak Sopir yang mulai khawatir.


Baru saja Pak Sopir berkata seperti itu, tiba-tiba pintu mobil berwarna silver tersebut terbuka. Beberapa orang laki-laki sangar dengan wajah menakutkan keluar dari dalam mobil tersebut.


Yang lebih mengerikan lagi, orang-orang itu malah berjalan menghampiri mobil yang ditumpangi oleh Ze. Di tengah-tengah kegugupannya, Ze masih sempat-sempatnya menghitung jumlah laki-laki bertubuh besar tersebut.


"Satu ... dua ... tiga ... empat! Lihatlah, Pak. Mereka hanya berjumlah empat orang. Aku yakin Bapak pasti bisa mengalahkan mereka. Semangat, Pak! Temui mereka dan hajar," titah Ze sembari menundukkan kepalanya agar tidak terlihat oleh orang-orang tersebut.


Tubuh Pak Sopir bergetar hebat. Jangankan menghajar para lelaki bertubuh besar tersebut, melihat wajah sangar mereka saja, nyali Pak Sopir sudah menciut.


"Yang benar saja, Non. Nyali Bapak tidak se'gede itu," jawab Pak Sopir dengan tubuh bergetar.


"Lah, trus bagaimana, donk?" tanya Ze semakin panik.

__ADS_1


"Entahlah, Non. Bapak juga tidak tahu," jawab Pak Sopir.


...***...


__ADS_2