
Baru saja Ze memasuki ruangan itu, ia sudah disuguhi oleh pemandangan yang membuat mata terbelalak. Para lelaki-lelaki berotot dan wanita-wanita yang memiliki body 'kece badai' bertebaran menghiasi setiap sudut ruangan itu.
Ada yang sedang berlari di treadmill, ada yang latihan angkat beban sambil rebahan manja, ada yang latihan angkat beban sambil bercermin memperhatikan otot-otot mereka, dan banyak lagi.
Mata Ze bahkan sulit untuk diajak berkedip setelah melihat kesempurnaan bentuk tubuh mereka. Di tengah-tengah rasa takjubnya, tiba-tiba ekspresi wajah Ze berubah. Ia menekuk wajahnya tatkala mengingat kata-kata yang sering dilontarkan oleh Jimmy soal bodynya yang rata.
"Hmm, pantas saja Mas Jimmy selalu bilang aku body rata. Lah, yang dia lihat setiap hari yang seperti ini?!" gumam Ze sambil memperhatikan wanita-wanita yang sedang melakukan latihan gym di sana.
Para wanita-wanita cantik itu menggunakan pakaian ketat dan memperlihatkan keindahan bentuk tubuh mereka yang menonjol-nonjol dan berlekuk-lekuk. Ze menoleh ke salah satu cermin yang ada di ruangan itu kemudian memperhatikan bayangan dirinya di sana.
Ze mengkerutkan bibirnya. Ia merasa seperti sebuah remahan di antara banyaknya wanita cantik yang bertebaran di tempat itu. Di saat Ze sedang asik memperhatikan tempat itu, tiba-tiba salah seorang personal trainer di tempat itu menghampiri Ze.
"Mbak orang baru, ya?" tanyanya.
Ze menoleh kemudian memperhatikan lelaki bertubuh six pack di hadapannya itu dengan seksama. Ia mengenali lelaki itu, dia adalah salah satu sahabat Jimmy yang kemarin hadir di acara pesta pernikahannya. Namun, sayangnya lelaki itu tidak mengebali Ze. Maklum lah, lelaki itu pertama kali melihat Ze saat Ze berhias sebagai pengantin.
"Ya, aku orang baru di sini," sahut Ze tanpa berkeinginan memperkenalkan dirinya sebagai istri dari pemilik tempat itu.
__ADS_1
"Oh, pantas saja aku tidak mengenalimu. Ehm, butuh bantuan?"
"Aku ingin lihat-lihat dulu, nanti kalau aku butuh bantuan, aku pasti akan memanggilmu," jawab Ze.
"Okelah kalau begitu!" Lelaki itu tersenyum kemudian pergi meninggalkan Ze dan kembali ke pekerjaannya.
Ze kembali memperhatikan setiap sudut ruangan itu dengan seksama hingga akhirnya matanya tertuju pada sosok yang sangat ia kenali. Jimmy yang terlihat begitu gagah dengan pakaian serba ketat berdiri di salah satu sudut ruangan.
Lelaki itu terlihat sedang asik berbincang dengan seseorang. Sayangnya, Ze tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang sedang di ajak bicara oleh lelaki itu karena terhalang oleh tubuh besarnya.
"Itu 'kan Mas Jimmy!" gumam Ze sembari melangkahkan kakinya menuju ke arah lelaki itu. Namun, tiba-tiba saja langkah Ze terhenti setelah melihat dengan jelas siapa yang sedang di ajak bicara oleh lelaki itu.
Hati Ze panas dan seandainya ia berada di dunia animasi, mungkin kepala Ze sudah memgeluarkan gumpalan api besar dan siap meluluh lantakkan tempat itu. "Dasar genit!" gerutu Ze sambil memicingkan matanya menatap kebersamaan kedua orang itu.
Ze berdiri di samping alat treadmill dan bersandar di sana sambil terus memperhatikan suaminya dan wanita itu. Hingga lelaki yang tadi menghampirinya, datang lagi dan menyapa Ze untuk kedua kalinya.
"Butuh bantuan?" Lagi-lagi lelaki itu menawarkan bantuannya untuk Ze yang ia anggap sebagai pelanggan baru mereka.
__ADS_1
"Aku ingin menggunakan alat ini!" ucap Ze sambil menepuk treadmill tersebut dengan tatapan yang masih tertuju pada suaminya.
"Oh, baiklah kalau begitu. Apa kamu sudah tahu bagaimana cara menggunakannya? Kalau belum, biar aku bantu untuk mengaturnya, bagaimana?" ucap lelaki itu sambil memperhatikan Ze yang masih menatap tajam ke arah dua orang tersebut.
"Ya, terserah kamu," sahut Ze asal.
Lelaki itu mulai mengatur alat itu untuk Ze sambil mengajaknya berbincang. "Kamu mengenali wanita itu?" tanyanya. "Dia adalah salah satu pelanggan terbaik kami," lanjut lelaki itu.
"Kenapa bukan kamu saja yang menemaninya latihan?" tanya Ze sembari menaiki alat tersebut.
Lelaki itu terkekeh pelan mendengar ucapan Ze tersebut. Entah apa yang menurutnya lucu padahal saat itu ekspresi wajah Ze terlihat dingin dan tidak sedang bercanda ketika mengucapkannya.
"Dia sudah nyaman bersama Jimmy dan sejak awal dia datang ke tempat ini, Jimmy lah yang selalu membantunya," jawab lelaki itu.
Jawaban lelaki itu membuat Ze semakin kesal, sangat-sangat kesal. Namun, Ze mencoba menutupinya dengan tersenyum. Ya, walaupun terlihat dengan sangat jelas bahwa senyum itu adalah senyum yang dipaksakan.
Ze menikmati alat treadmill yang sedang berjalan pelan sambil memperhatikan dua orang yang sedang asik berbincang tak jauh dari posisinya saat ini. Sedangkan lelaki yang tadi membantunya, pamit karena ada salah seorang temannya memanggil.
__ADS_1
...***...