
Daniel yang berencana menjebak Ze dengan minuman yang sama seperti milik Evan, kebingungan ketika mendapati gadis itu sudah mabuk duluan. Ia memperhatikan Ze dari belakang sambil tersenyum kecut.
"Hmm, gadis ini mempermudah rencanaku. Tanpa aku berikan minuman ini, dia sudah sempoyongan begitu," gumam Daniel.
Daniel meninggalkan minuman itu disalah satu sudut ruangan kemudian berjalan menghampiri Ze yang sudah kehilangan akal sehatnya akibat minuman memabukkan tersebut.
"Nona, kamu kenapa? Sini, biar aku bantu," ucap Daniel seraya meraih tangan Ze kemudian menuntunnya ke kamar VIP milik Evan.
"Anda siapa?" tanya Ze seraya menatap Daniel di antara sadar dan tidak.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, Nona. Yang pastinya aku akan menyelamatkanmu malam ini dan suatu saat nanti kamu pasti akan berterima kasih padaku," jawab Daniel.
Ze tertawa renyah mendengar penuturan lelaki itu dan terus membiarkan orang itu menuntunnya. "Apa kamu lihat itu, Tuan? Ada banyak bintang-bintang beterbangan di atas kepalaku. Apa Anda juga melihatnya?" racau Ze sambil memukul-mukulkan tas selempangnya ke depan wajahnya.
Daniel mendengus kesal karena tas selempang Ze beberapa kali mengenai wajahnya. "Sudah cukup, Nona. Itu hanya perasaanmu saja. Tidak ada bintang-bintang di sini!" sahut Daniel.
Di saat Daniel tampak kesal, tiba-tiba ponselnya berdering. Aldi yang sudah cemas menunggu di depan kamar Evan, segera menghubungi sahabat 'lucknut' nya itu.
"Ya, Di?"
__ADS_1
"Daniel, kamu di mana? Aku sudah menunggumu di depan kamar Evan. Cepatlah, obat itu sudah bereaksi dan dia sudah masuk ke dalam kamarnya. Aku khawatir nanti dia malah mengunci kamarnya dan rencana kita pun pasti akan gagal!" ucap Aldi dengan nada cemas.
"Ya, ya! Ini aku sedang menuju ke sana!" balas Daniel.
"Ingat, kamar nomor 267! Jangan sampai salah," kata Aldi mencoba mengingatkan sahabatnya itu.
"Ya, aku sudah tahu!" jawab Daniel.
Daniel memutuskan panggilan Aldi tersebut kemudian kembali fokus menuntun Ze menuju ruangan itu. "Jalannya yang cepat, Nona!" gumam Daniel dan yang diajak bicara malah tertawa lepas.
Karena merasa khawatir rencananya gagal, Daniel membopong tubuh Ze agar mereka bisa tiba di ruangan itu dengan lebih cepat. Ze tampak berontak dengan sisa-sisa tenaganya. Namun, perlawanan Ze saat itu tidak berarti sama sekali bagi Daniel.
Hingga akhirnya Daniel tiba di depan kamar VIP milik Evan. Aldi menghembuskan napas lega setelah melihat Daniel tiba dengan membopong tubuh gadis itu.
"Ayo, Daniel! Cepat masuk, sepertinya Evan sudah berada di atas tempat tidurnya."
Daniel yang masih membopong tubuh Ze, segera masuk ke dalam ruangan itu mengikuti langkah Aldi yang berjalan di depannya. Cahaya lampu tidur yang temaram, membuat kedua lelaki itu salah kaprah. Mereka meyakini bahwa lelaki yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidur tersebut adalah Evan.
"Cepat, taruh gadis itu di samping Evan," titah Aldi dengan setengah berbisik.
__ADS_1
Daniel pun mengikuti perintah Aldi. Ia meletakkan tubuh Ze ke atas tempat tidur tepat di samping tubuh Jimmy yang tertutup selimut. Daniel mengajak Aldi untuk segera beranjak dari kamar tersebut. Tanpa Aldi dan Daniel sadari, Evan yang sesungguhnya sedang memperhatikan gelagat mereka di samping pintu kamar sambil menyeringai licik.
"Ya, Tuhan! Lihatlah, betapa bodohnya kalian," gumam Evan dalam hati.
Setelah keluar dari ruangan itu, Daniel dan Evan tertawa pelan sembari memikirkan rencana penggerebekan besok pagi di kamar tersebut. "Tinggal menunggu esok pagi dan semuanya beres!" celetuk Daniel.
"Aku sudah tidak sabar menunggu besok pagi," sahut Aldi.
"Kamu kenapa, Di?" tanya Daniel yang melihat perilaku aneh Aldi pada saat itu.
"Entahlah, tapi lihatlah senjataku! Sejak tadi dia terus menegang, apakah ini karena efek menjebak sahabat sendiri?" sahut Aldi seraya memperlihatkan senjatanya yang masih terbalut celana tersebut kepada Daniel.
"Ish, menjijikkan!" Daniel membuang muka sambil menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya aku harus melakukan pelepasan, Daniel. Tapi, aku harus melakukannya dengan siapa? Tidak mungkin 'kan bersama sabun colek milik Emak?" ucap Aldi yang masih bisa bercanda padahal obat itu sudah bereaksi pada tubuhnya.
"Bukan dengan sabun colek, tetapi dengan shampoo anti kutu biar burungmu itu tidak gatal! Dasar ganjen," celetuk Daniel sembari melenggang pergi meninggalkan Aldi.
"Eh, apa kamu tidak ingin mendengarkan permainan panas mereka, Daniel?! Akh, ukh, akh, ukh!" sahut Aldi seraya mengejar Daniel yang sudah berada jauh di depannya.
__ADS_1
"Hhh, sialan kamu," kesal Daniel.
...***...