
"Aduh, Mommy ada-ada saja! Selama perut ini tidak membuncit, aku rasa Mommy tidak akan pernah berhenti mengerjaiku," gumam Ze sembari kembali menuju kamarnya. Ze merasa lelah dan ingin beristirahat sejenak setelah puas berbincang bersama Mommy dan Mei di ruang utama.
Setelah menutup pintu kamar, Ze meraih ponsel miliknya dan ternyata ada sebuah pesan chat dari Jimmy. Seperti yang dikatakan olehnya tadi pagi bahwa dirinya akan segera mengingatkan Ze soal minum obat.
"Ah, Mas Jimmy makin hari semakin manis saja," gumam Ze.
Sementara itu di kamar Evan.
Evan tampak uring-uringan. Moodnya mendadak buruk, apa lagi setelah melihat Ze dan Jimmy yang semakin hari semakin lengket. Di tengah kegalauannya, tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata panggilan dari salah seorang temannya.
Evan meraih ponsel itu kemudian menerima panggilan tersebut dengan malas-malasan. "Ya?" jawab Evan.
"Van, aku punya kabar buruk!" pekik lelaki itu dari seberang telepon.
Ekspresi Evan yang tadinya terlihat malas-malasan, sekarang mendadak lebih serius. Ia mendengarkan ucapan lelaki itu dengan seksama. "Kabar buruk apa?" tanya Evan.
"Daniel mengalami kecelakaan dan sekarang dia sedang dirawat di Rumah Sakit Sejahtera," sahut lelaki itu.
"Apa, Daniel kecelakaan? Tapi, bagaimana bisa?!" Evan bangkit dari tempat tidur kemudian berjalan menghampiri jendela kamarnya.
Lelaki itu menjelaskan bagaimana kronologi kecelakaan yang menimpa Daniel dan Evan mendengarkannya dengan sangat serius.
__ADS_1
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Evan lagi.
"Sebaiknya kamu lihat sendiri saja, Evan."
"Baiklah. Aku akan segera ke sana," sahut Evan.
Setelah panggilan itu diputuskan, Evan pun segera bersiap-siap. Ia mengganti pakaian serta merapikan rambutnya yang terlihat berantakan. Setelah penampilannya terlihat lebih baik, Evan pun bergegas keluar dari kamar dan berlari kecil menuju halaman depan.
"Loh, Van? Kamu mau kemana? Katanya masih tidak enak badan," ucap Mommy Martha ketika melihat Evan yang tergesa-gesa melewati ruang utama.
"Aku ingin menjenguk salah satu temanku, Oma! Sebentar saja," sahutnya dengan setengah berteriak.
"Pak, tolong antar aku ke Rumah Sakit Sejahtera," titahnya sambil membuka pintu mobil tersebut.
"Baik, Tuan," sahut lelaki itu dan dengan tergesa-gesa ia memasuki mobil tersebut kemudian segera melajukannya ke tempat yang ingin dituju oleh Evan.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh lima menit, mobil yang dikemudikan oleh lelaki itu pun tiba di depan halaman Rumah Sakit Sejahtera.
"Bapak tunggu di sini, ya! Aku tidak akan lama," ucap Evan kepada sopir pribadinya tersebut.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Evan bergegas masuk ke lobby Rumah Sakit dan menanyakan di mana ruangan Daniel dirawat kepada Resepsionis. Resepsionis memberitahukan di ruangan mana Daniel di rawat dan setelah itu Evan pun segera menuju ruangan tersebut.
Dengan langkah cepat, Evan melewati lorong-lorong Rumah Sakit tersebut hingga akhirnya ia tiba di sebuah ruangan VIP di mana Daniel sedang dirawat. Perlahan Evan membuka pintu ruangan itu dan tatapannya langsung tertuju pada tempat tidur pasien, di mana Daniel berselonjor di sana dengan tubuh penuh balutan perban.
"Daniel," sapa Evan ketika memasuki ruangan itu.
Daniel mengangkat kepalanya perlahan dan melihat ke arah Evan yang kini mendekat kepadanya. Ia tersenyum kecut kemudian membalas sapaan lelaki itu.
"Hai, Evan. Terima kasih sudah bersedia menjengukku," ucapnya sambil meringis kesakitan.
Evan memperhatikan kondisi sahabatnya itu dengan tatapan sedih. Bagaimana tidak, Daniel tampak menyedihkan dengan banyaknya perban yang menempel di seluruh bagian tubuhnya yang terluka.
"Bagaimana penampilanku? Aku terlihat seperti Mummy yang berkeliaran di gurun pasir kan?" lanjut Daniel sambil terkekeh pelan.
Evan menggelengkan kepalanya pelan kemudian duduk di samping tempat tidur Daniel. "Bagaimana hal ini bisa terjadi, Daniel?" tanya Evan sambil menautkan kedua alisnya.
Lagi-lagi Daniel terkekeh pelan. "Ceritanya panjang, Van."
"Ceritakan lah, aku siap mendengarkannya," sahut Evan.
...***...
__ADS_1