
Dengan sabar Tuan Harold menunggu kedatangan Nick kembali ke kamarnya. Ia meraih kopi yang tadi dibawakan oleh Nick kemudian menyeruputnya.
"Akhhh, nikmat!" ucapnya setelah menyeruput kopi hitam tersebut.
Tidak berselang lama, Nick kembali demgan membawa sesuatu di tangannya. Sebuah benda yang entah itu apa, Tuan Harold pun tidak tahu. Lelaki itu tersenyum lebar saat mendekatinya.
"Coba lihat apa yang saya bawa untuk Anda, Tuan Harold. Anda bisa menggunakan benda ini agar kemeja serta celana Anda bisa digunakan lagi," tutur Nick, masih dengan senyuman konyolnya.
Tuan Harold memperhatikan benda itu sambil menautkan kedua alisnya. "Benda apa itu?"
"Ini namanya korset, Tuan Harold. Benda ini biasa digunakan oleh para wanita untuk mendapatkan perut langsing dan rata," tutur Nick.
"Heh, kamu sudah gila ya? Itu 'kan untuk wanita, kenapa kamu malah ingin aku yang menggunakannya? Dan satu pertanyaanku, dari mana kamu mendapatkan benda ini? Jangan-jangan ini bekas punya kekasihmu lagi," pekik Tuan Harold setelah tahu apa fungsi benda itu sebenarnya.
Nick tergelak. "Jangan bertanya dari mana saya mendapatkan benda ini, Tuan Harold. Yang penting benda ini bisa membantu Anda menggunakan kemeja serta celana Anda yang sudah tidak muat itu," jawab Nick.
Tuan Harold tampak berpikir keras hingga akhirnya ia pun setuju. Demi penampilannya hari ini. "Baiklah, tapi hanya untuk hari ini saja," ucap Tuan Harold.
"Nah, begitu donk!"
Nick menghampiri Tuan Harold dan meminta pria itu untuk menarik napasnya kembali agar ia bisa memasang benda itu ke perutnya.
"Tarik napas Anda seperti tadi, Tuan Harold," ucap Nick. Tuan Harold pun kembali mengikuti perintah anak buahnya tersebut. Ia menarik napasnya sama seperti sebelumnya.
__ADS_1
Setelah perut Tuan Harold terlihat datar, Nick pun bergegas memasangkan korset tersebut hingga menutupi perut buncitnya. Setelah selesai ia pun tersenyum puas.
"Bagaimana, Tuan Harold?" tanya Nick.
Perlahan Tuan Harold menghembuskan napasnya. Namun, kali ini perutnya tetap terlihat datar karena benda ketat itu menahan perut buncitnya.
Walaupun terasa sesak, tetapi Tuan Harold tampak puas karena perutnya tidak lagi membuncit seperti sebelumnya. "Sepertinya ini berhasil, Nick."
"Haha, benar 'kan apa kata saya, Tuan Harold," jawab Nick dengan bangga.
"Baiklah-baiklah, sekarang ambilkan kembali kemejaku tadi," titah Tuan Harold.
"Sebentar, Tuan. Kemeja Anda perlu dijahit dulu. Bukankah ada beberapa kancingnya yang terlepas?"
"Okelah kalau begitu. Kalau hanya menjahit bagian kancing mah, tidak masalah," jawab Nick yang kemudian segera membawa kemeja itu keluar dan membawanya ke kamarnya.
Walaupun Nick memiliki jiwa seorang mafia, tetapi lelaki itu masih memiliki sisi manis. Buktinya banyak pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh seorang wanita, bisa dilakukan oleh seorang Nick, salah satunya menjahit.
Setelah selesai menjahit kancing kemeja milik Tuan Harold, Nick pun segera mengembalikan kemeja tersebut kepada pria itu. Tuan Harold begitu bahagia melihat kemejanya kembali seperti semula. Ia menepuk pundak Nick sembari berterima kasih.
"Terima kasih, Nick. Aku tidak tahu harus bagaimana jika seandainya tidak ada kamu di sini," ucap Tuan Harold.
"Sama-sama, Tuan. Mari, saya bantu pasangkan kemejanya," sahut Nick sembari menghampiri pria tersebut dan membantunya mengenakan kemeja itu.
__ADS_1
"Nah, sekarang kemejanya sudah bisa digunakan lagi 'kan! Kini, tinggal celananya," ucap Nick setelah selesai membantu Tuan Harold mengenakan kemeja tersebut.
"Ya, kamu benar." Tuan Harold meraih celana formal miliknya, kemudian segera mengenakannya.
"Oh ya, Tuan. Anda masih belum menjawab pertanyaan saya. Sebenarnya Anda ingin kemana dengan penampilan keren seperti ini? Nge'date, ya?!" goda Nick sambil memperhatikan Tuan Harold.
Setelah selesai mengenakan celananya, lelaki itu meraih sebuah kotak perhiasan berwarna merah dari dalam laci lemarinya.
"Lihatlah ini," ucap Tuan Harold sembari memperlihatkan sebuah cincin emas bertahtakan berlian kepada Nick.
Nick membelalakkan matanya. "I-ini ' kan cincin kawin? Untuk siapa cincin ini, Tuan?" pekik Nick.
"Untuk seseorang yang istimewa," jawabnya sambil merapikan rompi serta jas yang kini sudah melekat di tubuhnya.
"Bu Lidya?" Tiba-tiba saja nam wanita itu terlintas dipikiran Nick, karena setelah pertemuan mereka waktu itu, sikap Tuan Harold tampak berubah. Terlihat lebih manis dan lebih hangat dari sebelumnya.
Tuan Harold tidak menjawab. Namun, senyuman pria itu sudah menjawab semuanya dengan jelas.
"Wah, jadi benar bahwa wanita itu adalah Bu Lidya?!" pekik Nick lagi.
"Hush! Bisakah mulutmu itu sedikit lebih tenang, Nick!" kesal Tuan Harold sambil menghembuskan napas berat karena korset yang ia kenakan benar-benar membuat napasnya terasa sesak.
"Baiklah, Tuan!" sahut Nick sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
***