
"Buka pintunya, Nona!" titah seorang lelaki sangar yang sedang berdiri di depan pintu, yang terletak di samping tubuh Ze.
Tubuh Ze bergetar hebat, apalagi ketika lelaki sangar itu mengancamnya sambil menodongkan sebuah pistol ke arah kaca mobil. Ze yang tadinya berniat menghubungi Jimmy, malah mengurungkan niatnya dan malangnya lagi ponsel itu terjatuh ke bawah jok.
"Sialan!" umpat Ze sembari mencari keberadaan ponsel tersebut dengan menggunakan kakinya.
"Eh, Non! Cepat buka pintunya, kalau tidak ingin peluru yang ada di dalam senjata ini menembus kaca dan melukai dirimu!" ancamnya lagi.
"Ah, iya-iya, baiklah!" jawab Ze panik dan segera membuka pintu mobilnya tersebut.
Setelah pintu terbuka, lelaki sangar itu malah tersenyum sambil membungkuk hormat kepada Ze. Namun, anehnya senjata api yang dipegang oleh lelaki itu tetap tertuju pada Ze.
"Mari ikut kami, Nona. Kami berjanji tidak akan menyakiti Nona, asalkan Nona bersedia ikut kami tanpa melakukan perlawanan," ucap lelaki sangar tersebut.
Ze memperhatikan Pak Sopir yang ternyata juga sedang diancam oleh para komplotan tersebut. Karena tidak ingin terjadi sesuatu yang dapat membahayakan janinnya, Ze pun terpaksa mengikuti perintah lelaki sangar tersebut.
"Jangan, Nona Ze! Jangan ikut mereka, aku mohon!" lirih Pak Sopir dengan wajah cemas. Bagaimana tidak cemas, menantu kesayangan majikannya tersebut dalam kondisi bahaya. Apa lagi saat ini wanita itu tengah mengandung cucu yang sudah lama dinanti-nantikan oleh Nyonya Martha.
"Aku akan baik-baik saja, percayalah!" sahut Ze, sembari masuk ke dalam mobil lelaki sangar tersebut.
Para komplotan itu tidak menyakiti siapapun, baik itu Ze maupun Pak Sopir pribadi Mommy Martha. Mereka meninggalkan sopir tersebut begitu saja dan membawa Ze bersama mereka.
Sementara itu di tempat gym.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, Jimmy? Sejak tadi aku perhatikan kamu terlihat tidak tenang dan gelisah," tanya salah satu sahabatnya.
"Entahlah. Sejak tadi aku terus kepikiran istriku," jawab Jimmy sembari meraih ponselnya dan berniat menghubungi nomor ponsel Ze.
"Ciee ... yang sebentar lagi bakal jadi seorang Ayah," goda lelaki itu.
Jimmy tidak menghiraukan sahabatnya itu dan masih berusaha menghubungi nomor ponsel Ze yang tidak juga menerima panggilan darinya.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia terus mengacuhkan panggilanku?" gumam Jimmy.
Jimmy tidak menyerah dan terus mencoba menghubungi nomor ponsel milik Ze. Hingga akhirnya panggilan Jimmy pun diterima oleh Pak Sopir yang tidak sengaja menemukan ponsel milik Ze di bawah jok belakang.
"Tuan Jimmy! Tolong Nona Ze," lirih Pak Sopir dengan bibir bergetar karena ketakutan.
"Nona Ze dibawa oleh beberapa orang pria sangar, Tuan. Saya tidak bisa melawan karena mereka bersenjata," jawab Pak Sopir itu lagi.
Jimmy mendengus kesal. Ia tahu siapa yang sudah berani menculik istrinya. "Tidak salah lagi! Ini pasti mereka," gumamnya dengan rahang mengeras.
Jimmy bergegas menuju ruang pribadinya kemudian menghampiri sebuah brankas yang tersembunyi di balik dinding ruangan tersebut. Setelah memasukkan kode rahasianya, Jimmy pun berhasil membuka brankas tersebut yang ternyata isinya begitu mengejutkan.
Tampak beberapa macam senjata api di antara tumpukan uang dan barang berharga miliknya. Jimmy sengaja menyimpan benda itu di tempat gym karena tidak ingin Mommy Martha memgetahuinya.
"Mereka memang harus diberi pelajaran!" gumam Jimmy sembari mengisi senjata tersebut dengan beberapa butir peluru.
__ADS_1
Setelah selesai mempersiapkan senjatanya, Jimmy pun segera keluar dari ruangan itu. Tanpa mempedulikan bagaimana ekspresi teman-temannya, Jimmy terus melangkah dengan cepat hingga ke tempat parkir.
"Jimmy kenapa?" tanya salah satu sahabatnya yang sedang memperhatikan Jimmy tanpa berkedip sedikitpun. Bahkan hingga lelaki itu menghilang dari balik pintu.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi, apa kalian tidak sadar bahwa Jimmy memang terlihat aneh sejak tadi pagi?" jawab yang lainnya.
Para lelaki bertubuh besar itu pun saling tatap dengan pikiran mereka masing-masing.
Sementara Jimmy melajukan mobilnya menuju markas para lelaki sangar itu. Pak Sopir yang tadi mengantarkan Ze, memilih kembali ke kediaman mewah Mommy Martha.
"Kamu kenapa Pak? Kenapa wajahmu memucat seperti itu?!" pekik Mommy Martha ketika sopir pribadinya datang menghampirinya.
"E-ehm, Nyonya Martha ... ma-maafkan saya!" ucap Pak Sopir dengan terbata-bata.
"Maaf kenapa, Pak?" Mommy Martha mulai merasa cemas. Ia yakin ini pasti ada hubungannya dengan menantu kesayangannya, Ze.
"Nona Ze ... Nona Ze diculik," jawab Pak Sopir dengan kepala tertunduk menghadap lantai.
"Apa?!" pekik Mommy Martha lagi.
Tiba-tiba saja tubuh Mommy Martha melayang hingga akhirnya ia pun jatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri. Beruntung Mei selalu setia berada di samping Mommy Martha. Mei segera bertindak agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada wanita paruh baya tersebut.
...***...
__ADS_1