My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Rencana Licik Evan


__ADS_3

Sementara itu.


Seorang laki-laki dewasa nan rupawan dan bertubuh kekar melangkahkan kakinya memasuki ballroom tersebut dengan gagahnya. Setelan jas yang membalut erat di tubuh besarnya, membuat penampilan lelaki itu semakin sempurna tanpa cela.


Para tamu undangan di pesta tersebut seolah tersihir dengan pesona lelaki itu. Bahkan hampir semua wanita yang ada di ruangan tersebut memperhatikan dirinya tanpa berkedip sedikitpun.


Hanya Ze yang tampak biasa-biasa saja karena ia memang tidak sempat melihat wajah lelaki itu. Lelaki dewasa tersebut memilih sebuah meja kosong jauh di depan meja Ze dan duduk dengan posisi membelakangi gadis itu.


"Siapa sih lelaki itu? Kenapa semua orang memperhatikan dirinya? Apakah dia seorang artis terkenal, hingga semua orang tampak terpana seperti itu?" gumam Ze.


Beberapa kali Ze mencoba mengintip wajah lelaki itu, tetapi tetap saja tidak bisa. Akhirnya Ze menyerah dan melupakan rasa penasarannya.


Menyadari kedatangan lelaki itu, Evan pun segera menghampiri mejanya. Dari kejauhan Evan sudan menyunggingkan sebuah senyuman. Ia begitu senang karena tidak mudah mengajak lelaki itu untuk ikut bergabung di acara yang seperti ini. Lelaki itu bukan pencinta bisnis, ia selalu menghidar jika di hadapkan dengan persoalan dunia bisnis.


"Om Jimmy! Aku sangat senang karena Om mau berhadir ke acara ini," ucap Jimmy seraya duduk di salah satu kursi yang ada di meja tersebut. Sementara itu, MC sudah memulai pesta peluncuran produk terbaru milik Evan.

__ADS_1


Jimmy tersenyum tipis. "Tapi Om hanya sebentar, Van. Malam ini Om merasa kurang fit dan Om butuh istirahat," sahut Jimmy.


Evan pun tersenyum. "Ehm, bagus! Kebetulan sekali, pucuk dicintai ulam pun tiba," gumam Evan dalam hati.


"Ehm, Om. Pihak hotel memberikan aku sebuah suiteroom untuk malam ini. Mungkin Om mau menggunakannya," ucap Evan sembari menyerahkan sebuah Cardlock ke hadapan Jimmy.


"Kenapa malah kamu serahkan kepadaku?" tanya Jimmy tampak heran.


"Bukan begitu, Om. Sebenarnya maksudku baik, bukankah tadi Om bilang tidak enak badan dan butuh istirahat? Jadi, Om bisa menggunakan kamar itu untuk beristirahat tanpa harus kembali ke rumah, 'kan? Lagipula jarak rumah ke hotel ini lumayan jauh, Om. Lebih baik Om istirahat di sini saja dan Om bisa pulang besok pagi," tutur Evan.


"Om tenang saja, Om bisa menggunakannya karena aku sudah mendapatkan hak istimewa dari pihak hotel malam ini. Lagi pula, manager hotel ini sahabatku. Namun, itu hanya berlaku untuk malam ini, tidak untuk malam-malam berikutnya. Kalau Om ingin menginap malam berikutnya, Om harus bayar sendiri dan atas nama sendiri," sahut Evan sambil tertawa renyah.


Jimmy meraih cardlock tersebut kemudian memperhatikannya dengan seksama. Walaupun ia ragu, tetapi ia mengambil benda tersebut kemudian menyimpan benda tersebut ke dalam saku celananya.


Evan tersenyum puas setelah Jimmy meraih Cardlock tersebut. "Oh ya, Om. Aku ingin menemui rekan bisnisku. Om nikmati saja pestanya dan kalau butuh sesuatu, Om bisa temui aku di sana," ucap Evan seraya menunjuk salah satu sudut ruangan di mana ia dan rekan bisnisnya berkumpul.

__ADS_1


Baru saja Evan ingin melangkahkan kakinya meninggalkan Jimmy, lelaki dewasa itu kembali memanggil Evan. "Ehm, Evan! Jika aku sudah tidak ada di kursi ini, itu artinya aku sudah pulang."


"Oke, Om!" sahut Evan yang kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan meja Jimmy.


Setibanya di tempat yang ia tuju, Evan mengajak bicara salah satu orang kepercayaannya. "Lakukan tugasmu, pastikan Om Jimmy menggunakan kamar itu!"


"Baik, Tuan."


Lelaki itu memasukkan sebuah obat tidur berdosis tinggi ke dalam sebuah minuman kemudian membawa minuman tersebut ke meja Jimmy.


"Kalian lihat Daniel, Aldi! Tidak mudah menjebakku, aku sudah menjalankan aksiku, tinggal menunggu kalian menjalankan aksi kalian," gumam Evan dengan seringaian licik memperhatikan orang kepercayaannya menyerahkan minuman itu kepada Jimmy.


"Maafkan aku, Om. Aku terpaksa melakukannya. Lagipula aku menyelamatkanmu dari yang cibiran orang-orang yang selalu menyebutmu 'bujang karatan' dan aku yakin setelah ini Om akan berterima kasih padaku," ucap Evan sambil tertawa kecil.


...***...

__ADS_1


__ADS_2