
"Heh, Pak! Jangan bilang-bilang kalau kita barusan dari kantor polisi, ya. Awas lo!" ancam Bu Lidya kepada tukang ojek yang sedang memboncengnya.
"Ya, Bu Lidya. Tenang saja, buat tutup mulutnya ada?" goda tukang ojek tersebut.
"Sapu ijukku, mau?" kesal Bu Lidya.
"Eh, gak jadi!"
Setibanya di depan rumah sederhana mereka, Ze bergegas masuk ke dalam dan menghempaskan tubuhnya ke sebuah kursi kayu yang ada di ruang depan. Wajah gadis itu masih tampak kusut memikirkan nasibnya yang akan segera dinikahi oleh lelaki bujang lapuk.
"Kenapa nasibku gini amat ya, Bu?" gumam Ze dengan tatapan menerawang menatap langit-langit rumahnya.
"Heh, Kenapa tanya Ibu? Seharusnya itu Ibu yang bertanya sama kamu, Markonah!" kesal Bu Lidya sambil melempar sapu ijuk kesayangannya ke salah satu sudut ruangan.
"Kamu sudah membohongi Ibu, bilangnya mau ke pesta diajakin teman. Lah, kenapa malah ketemunya di Hotel, mana sama Om-Om pula," gerutu wanita itu tidak habis pikir.
"Ze tidak bohong kok, Bu. Tadi malam Ze memang pergi ke pesta peluncuran produk terbaru perusahaan furniture milik teman Ze dan kebetulan acaranya memang di hotel itu. Tapi, yang Ze bingung kenapa Ze bisa berada di kamar itu," tutur Ze dengan wajah kusut.
"Lah, kamu aja bingung, apalagi Ibu, Non?! Nasi sudah jadi bubur, sekalian aja kasih kerupuk sama suiran ayam biar enak! Huft!" kesal Bu Lidya.
"Jangan lupa kasih kecap sama sambal yang banyak ya, Bu," sambung Ze dengan mata berkaca-kaca.
"Hhh, masih sempat-sempatnya saja dia bercanda," ucap Bu Lidya sambil mendengus kesal.
Sebenarnya Bu Lidya benar-benar kecewa saat itu. Namun, menghukum Ze pun tidak ada gunanya. Semuanya sudah terjadi dan satu-satunya harapan Bu Lidya hanya satu yaitu Jimmy.
Ia sangat berharap lelaki itu benar-benar bertanggung jawab terhadap anak gadisnya. Terlepas itu benar ataupun tidak, setidaknya Jimmy dapat menyelamatkan mereka dari gunjingan para tetangga.
__ADS_1
Ze masih termenung, ia mengingat kejadian tadi malam di mana dia sudah dibohongi dan dipermainkan oleh Evan, seorang pengusaha muda sukses, pemilik perusahaan furniture yang sudah tidak asing lagi di telinga semua orang.
Flash Back On
(Maaf ya, Readers ... jika Flash backnya kepanjangan 🙏🙏🙏)
Seorang lelaki tampan berusia 22 tahun, Evan Hardy Wiliam, sedang berjalan menuju sebuah mobil mewah yang terparkir di halaman depan perusahaannya.
Perusahaan milik mendiang Sang Ayah yang harus ia kelola sebisa mungkin di usianya yang tergolong masih sangat muda. Perusahaan yang bergerak di bidang penjualan furniture terbesar di negaranya, bahkan produknya sudah terkenal hingga ke luar negeri.
Setelah memasuki mobil, Evan pun segera melaju menuju sebuah Mall, di mana Ze bekerja menjadi seorang Cleaning Service di tempat itu. Sebuah Mall terbesar yang ada di kota tersebut. Lelaki itu sudah berjanji akan bertemu dengan kedua sahabatnya.
Karena jarak Mall dan perusahaannya tidak terlalu jauh, ia pun tiba di pusat perbelanjaan terbesar itu hanya dalam beberapa menit saja. Setelah memarkirkan mobil mewahnya, Evan segera memasuki Mall tersebut dengan langkah cepat.
Ternyata dua orang temannya yang bernama Aldi dan Daniel sudah lama menunggu kedatangan Evan di tempat itu. Kedua lelaki itu menunggu di sebuah Mini Cafe yang ada di Mall tersebut sambil menyeruput secangkir kopi yang sudah mereka pesan sebelumnya.
"Sorry, Bro! Aku terlambat," Evan yang baru tiba di tempat itu segera mengulurkan tangan kepada kedua lelaki itu sambil melemparkan sebuah senyuman hangat.
"Kamu benar-benar sangat keren, Van!" Daniel menimpali.
Evan tersipu malu mendengar ucapan teman-temannya. Setelah selesai menyalami kedua sahabat baiknya itu, ia menarik sebuah kursi kemudian duduk di sana sembari melepaskan penat.
"Van, sebentar lagi Aldi akan segera melangsungkan pernikahan, lah kamu sebagai lelaki paling tampan, masa kalah cepat sama Aldi?" goda Daniel sembari tertawa pelan.
"Menikahlah kalian lebih dulu, aku masih ingin fokus pada karirku." Evan tersenyum sembari menatap kedua wajah sahabatnya secara bergantian.
"Jangan lupa datang ya, Van, dan jangan lupa hadiah furniture-nya," goda Aldi.
__ADS_1
"Beres, satu rumah full aku kasih!" sahut Evan.
Mereka pun tertawa bersama dan melanjutkan bincang-bincang mereka. Namun, tiba-tiba mata Daniel tertuju pada seorang gadis CS yang sedang bekerja membersihkan lantai tak jauh dari tempat mereka bersantai. Sebuah ide gila muncul di otaknya yang rada 'sableng' tersebut.
"Hai, hai, kalian! Apakah kalian tidak ingin mengulang masa lalu kita ketika di sekolah dulu?" ucap Daniel.
"Apa?" tanya Aldi heran.
"Mencuri hati seorang gadis," lanjut Daniel sambil menyeringai licik.
Aldi tertawa pelan sembari menggelengkan kepalanya. "Maaf, aku tidak ikut. Bisa-bisa aku tidak jadi menikah jika ketahuan oleh calon istriku."
"Wah, Aldi cemen, Bro!" Daniel tergelak bersama Evan. "Lalu, bagaimana denganmu, Van? Apa kamu juga ingin mengundurkan diri sama seperti Aldi?" lanjut Daniel.
"Memangnya apa yang harus aku lakukan dan hadiah apa yang akan aku dapatkan?!" tanya Evan sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Mengambil hati seorang gadis kemudian menjalin hubungan dengannya selama satu bulan. Bagaimana?!" sahut Daniel.
Evan mencebikkan bibirnya sambil tersenyum. "Soal itu kecil! Tapi apa yang akan aku dapatkan jika aku berhasil merebut hati gadis itu? Tidak mungkin 'kan cuma traktiran makan siang selama satu bulan, sama seperti saat sekolah dulu."
Daniel melemparkan kunci mobilnya ke atas meja. "Mobilku!"
Evan dan Aldi membulatkan mata mereka menatap kunci mobil sport milik Daniel. Evan tersenyum lebar kemudian ikut melemparkan kunci mobilnya ke atas meja. "Baiklah, aku setuju!"
"Deal?!" Daniel mengulurkan tangannya kepada Evan dan lelaki itu pun dengan cepat menyambutnya. "Deal!" balas Evan.
"Baiklah, sekarang siapa target kita?" tanya Evan.
__ADS_1
Daniel tersenyum tipis sembari menunjuk ke arah Ze yang sedang melakukan pekerjaannya. "Gadis itu!"
***