My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Yess, Berhasil!


__ADS_3

"Kamu sudah siap? Jika kamu masih belum siap, maka aku tidak akan melanjutkannya," tanya Jimmy menatap lekat kedua bola mata Ze yang kini sedang berada di bawah kungkungannya.


Ah, mana bisa! Di bawah pengaruh pil setan yang sedang bereaksi di tubuhnya, Jimmy masih bisa mengatakan hal itu. Yang benar saja, yang ada Jimmy akan bermain dengan sabun mandi di kamar mandi jika Ze menolaknya.


"Ya, ya! Aku siap!" jawab Ze mantap sambil menganggukkan kepalanya.


Jimmy tersenyum lega setelah mendengar jawaban Ze yang penuh keyakinan tersebut. Jimmy lega karena akhirnya ia tidak harus mengakhiri permainannya di kamar mandi. Ia meraih kedua tangan Ze kemudian meletakkannya ke samping kepala gadis itu dan menahannya.


Jimmy takut Ze akan melakukan sesuatu yang tidak terduga saat Anacondanya ingin memasuki ke dalam lubang sempit miliknya. Dengan hati berdebar-debar, Jimmy menggagahi Anaconda-nya kemudian perlahan mengarahkannya ke sarang Anaconda yang sepertinya sudah siap untuk dijenguk.


Ada rasa takut, cemas, khawatir dan penasaran yang Ze rasakan saat itu. Namun, rasa penasaran sepertinya lebih mendominasi dari semua rasa yang ia rasakan saat itu. Sebagai seorang pemula, ia begitu penasaran bagaimana rasanya melakukan 'hal itu'.


"Aku takut!" gumam Ze ketika merasakan ada sebuah benda keras yang sedang menggerayangi sarangnya, mencoba mencari celah sempit di antara bulu-bulu halus yang tumbuh di sana.


"Tidak apa-apa, percayalah padaku!" sahut Jimmy dengan mantap, masih mengarahkan 'Anaconda' yang sudah berliur itu ke lubangnya. "Setelah berhasil menerobos terowongan itu, rasa sakit itu akan menghilang. Wusssh!" lanjutnya sambil terkekeh pelan.


Jimmy bersikap seolah-olah sudah berpengalaman. Padahal ia pun sama seperti Ze, masih buta tentang 'begituan'. Namun, ia tidak ingin dianggap menyedihkan karena di usianya yang sudah 35 tahun, masih berstatus perjaka ting-ting.


Ze percaya-percaya saja akan pernyataan Jimmy, bahwa sakit yang akan ia rasakan hanya sekilas saja. Perlahan rasa takutnya pun mulai berkurang setelah mendengar pernyataan itu. Ia mempersiapkan dirinya lahir batin menyambut kedatangan 'Anaconda berbisa' milik Jimmy.


Hingga ...

__ADS_1


"Akhhh!" pekik Ze ketika tiba-tiba Jimmy memaksa masuk 'Anaconda' besarnya ke dalam lorong sempit itu.


Jimmy menutup mulut Ze dengan sebelah tangannya agar tidak kembali berteriak seperti tadi atau mungkin nantinya akan lebih parah lagi. Sebenarnya Jimmy tidak tega melihat Ze sampai menitikkan buliran air mata menahan rasa sakit. Namun, ia sudah tidak bisa menahan gelora hasrat yang sudah berada di puncak kepalanya dan meminta untuk segera dituntaskan.


"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menghentikannya karena ini sudah kepalang tanggung! Maafkan aku, Ze!" ucap Jimmy yang kembali mencoba menerobos lorong sempit itu.


"Tahan sedikit lagi, ya! Sedikit lagi," bujuk Jimmy sambil menatap lekat Ze yang tengah memejamkan matanya dengan erat.


"Dasar! Katanya cuma sakit sedikit, tapi ini bukannya sedikit! Tubuhku sampai gemetar begini," batin Ze.


Ya, saat itu tubuh Ze sampai bergetar ketika kepala Anaconda milik Jimmy berhasil menyelinap masuk. Itu pun baru kepalanya, belum badan sampai ekornya.


Jimmy memejamkan matanya dan menghentakkan tubuhnya untuk terakhir kali. Hingga akhirnya Anaconda berbisa tersebut berhasil masuk ke dalam sarangnya yang nyaman dan hangat tersebut.


Fiuh! Jimmy menghela napas lega, sedang Ze membulatkan matanya dengan sempurna ketika benda keras, besar dan panjang tersebut berhasil melewati lorong sempitnya. Ia merasakan benda itu menusuk hingga ke kerongkongannya.


"Sudah selesai?" tanya Ze dengan bibir bergetar.


Jimmy menggelengkan kepalanya pelan. "Belum, ini baru permulaan. Anacondaku bahkan belum menyemburkan bisanya. Apa kamu ingin aku meneruskannya?"


"Teruskan ... teruskan ...." Jimmy menunggu Ze mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Baiklah, lanjutkan," lirih Ze sambil menutup matanya rapat, mencoba menahan rasa sakitnya.


Jimmy senang bukan kepalang. Ia mengecup kening Ze sambil mengucapkan terima kasih. Dengan penuh semangat Jimmy menarik ulur anaconda dari sarangnya tersebut dan kini terciptalah suasana panas di ruangan itu.


Udara dingin yang keluar dari pendingin ruangan, tidak mampu mengalahkan suasana panas keduanya. Ze dan Jimmy bahkan bermandikan keringat di ruangan itu.


"Akh ... ugh ... akh ... ukh ...." terdengar dessahan yang keluar dari bibir keduanya secara bergantian bahkan tanpa sadar suara mereka terdengar samar-samar hingga keluar kamar.


Sementara itu di luar kamar tersebut.


"Asli tidak itu, Mei? Aku takut mereka hanya berpura-pura seperti malam itu. Aku dikibuli oleh mereka, asem 'kan?!" celetuk Mommy Martha dengan berbisik. Saat ini Mommy Martha sedang menempelkan telinganya di daun pintu bersama Mei.


Mei terkekeh pelan mendengar penuturan majikannya tersebut. "Sepertinya ini asli, Nyonya! Serius," jawab Mei dengan berbisik pula.


"Benarkah? Ah, semoga saja! Kalau masih gagal, besok kita kerjai lagi saja mereka," jawab Mommy Martha sembari meraih tangan Mei dan mengajak perawatnya itu kembali ke kamarnya.


"Nyonya, kenapa tidak sampai selesai? Aku 'kan penasaran," protes Mei ketika Mommy Martha membawanya menjauh dari kamar tersebut.


"Hhh, mana boleh! Nanti kalo kamu tetiba ingin, bagaimana? Suamimu 'kan tidak ada di sini," celetuk Mommy Martha dengan wajah menekuk.


...***...

__ADS_1


__ADS_2