
Beberapa minggu kemudian.
Di kediaman Bu Lidya, Ze tengah duduk di kursi yang ada di dapur sembari membantu memotong beberapa macam sayuran yang nanti akan di masak oleh Bu Lidya. Sedangkan Bu Lidya sendiri sedang sibuk mempersiapkan alat-alat memasaknya.
"Bu," sapa Ze, sesekali melirik Ibunya tersebut.
"Hmm," gumam Bu Lidya.
"Boleh aku bertanya sesuatu? Tapi janji ya, Ibu tidak boleh marah-marah sama aku," ucap Ze sambil tersenyum tipis.
"Tanya apa? Dan kenapa Ibu mesti marah?" tanya Bu Lidya sambil menautkan kedua alisnya.
"Sini deh, Bu." Ze meraih tangan Bu Lidya kemudian mengajaknya untuk duduk bersama. Bu Lidya pun menurut saja kemudian duduk di samping Ze.
"Apa?"
"Begini, Bu. Aku itu 'kan suka sekali memperhatikan Om Harold. Entah kenapa setiap kali ia bertemu Ibu, aku merasa ada yang berbeda darinya," tutur Ze.
__ADS_1
"Berbeda bagaimana maksudmu?" Bu Lidya menautkan kedua alisnya sembari memperhatikan Ze dengan seksama.
"Cara Om Harold menatap Ibu, caranya memperhatikan Ibu, dan cara bersikapnya pun terlihat berbeda, Bu. Dia terlihat manis ketika bersama Ibu. Aku rasa Om Harold suka sama Ibu, deh," jelas Ze.
Ternyata ekspresi Bu Lidya diluar dugaan Ze. Bukannya marah, wanita itu malah tertawa pelan dan wajahnya terlihat merona saat itu. "Ya ampun, Ze. Kamu memperhatikan orang kok sampai sedetail itu," ucap Bu Lidya di sela tawanya.
"Tapi, itu benar 'kan? Om Harold memang menyukai Ibu, 'kan?" tanya Ze yang kini semakin penasaran.
"Ehm, entahlah kalau sekarang. Tapi dulu, ya. Om Harold sama Ayahmu dulu sama-sama menyukai Ibu," sahut Bu Lidya sambil tersipu malu.
"Wah, serius?!" pekik Ze. "Mereka rebutan gitu, trus yang menang Ayah, begitu kah?" Rasa penasaran Ze semakin menjadi. Ia bahkan sampai melupakan tugasnya memotong-motong sayuran untuk mereka masak hari ini.
"Trus, apa yang terjadi pada Om Harold setelah Ibu memilih mendiang Ayah? Apa dia kecewa sama Ibu?" Ze semakin banyak bertanya dan membuat Bu Lidya menekuk wajahnya.
"Ish, kamu ini, Ze! Sudah seperti wartawan aja, pertanyaan gak ada habisnya. Sudah, lanjutkan potong sayurnya. Kamu ingin makan sup ayam buatan Ibu, nggak?" sahut Bu Lidya.
"Iya-iya, deh. Tapi, sambil cerita ya, Bu. Aku penasaran soalnya. Kalo nanti Ibu tidak menceritakannya, aku takut dede tampanku ileran."
__ADS_1
Bu Lidya mencebikkan bibirnya. "Mana ada yang seperti itu? Itu sih maunya kamu. Tapi baiklah, akan Ibu ceritakan," jawab Bu Lidya.
"Asyik, begitu donk, Bu." Ze kembali melanjutkan tugasnya, memotong-motong sayuran yang berjejer di atas meja sambil memasang telinganya dengan baik.
"Saat itu Ibu memang dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Ibu tahu konsekuensinya, jika Ibu memilih mendiang Ayahmu, Harold pasti akan sangat kecewa dan begitu pula sebaliknya. Setelah berpikir panjang, akhirnya Ibu memilih mendiang Ayahmu. Harold sangat kecewa setelah mengetahui hal itu. Harold mendadak menjadi pendiam dan setelah hari pernikahan kami, Harold menghilang tanpa kabar," tutur Bu Lidya dengan wajah sendu. Terlihat gurat penyesalan di wajahnya saat itu.
"Hingga akhirnya Om Harold menjadi seperti sekarang ini ya, Bu? Wah, itu artinya Om Harold menjadi seorang mafia karena Ibu, donk," celetuk Ze tanpa disaring terlebih dahulu.
Satu biji wortel yang sudah dibersihkan, masuk ke dalam mulut Ze. Ze tergelak karena saat ini Ibunya terlihat kesal kepadanya. "Kamu itu ya, Ze. Ngomong suka ceplas-ceplos," gumam Bu Lidya.
"Lah, 'kan benar itu. Om Harold putus asa kemudian memilih masuk ke dalam dunia hitam setelah Ibu memutuskan menikahi Kakaknya, benar 'kan?"
"Eh, mana ada. Orang mereka berdua memang sudah gelap dari sononya," celetuk Bu Lidya sambil mencebikkan bibirnya.
"Lah, kok bisa?!" pekik Ze. "Jadi, Om Harold dan mendiang Ayah memang sudah masuk ke dalam dunia itu bahkan sebelum mengenal Ibu?" tanya Ze dengan mata membulat.
"Ya, seperti itulah. Tapi Ayahmu memilih berhenti setelah kami menikah. Namun, sayangnya itu pun hanya sementara saja," Lirih Bu Lidya.
__ADS_1
...***...