My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Villa Pinggir Laut


__ADS_3

Ze memperhatikan dua orang lelaki sangar yang sedang duduk di samping kanan dan kirinya. Wajah kedua lelaki itu terlihat sangat mengerikan, seperti monster yang siap menerkam mangsanya.


Namun, rasa takut Ze tiba-tiba sirna. Entah apa sebabnya, Ze pun tidak tahu. Yang pasti ia yakin orang-orang berwajah sangar itu tidak akan menyakiti dirinya. Hanya satu yang ada di pikirannya saat ini. Apa tujuan orang-orang itu membawa dirinya bersama mereka.


Ze melirik seseorang yang sedang duduk di sisi kanannya dengan serius. Lelaki itu menyadarinya, ia menoleh kepada Ze kemudian tersenyum hangat.


"Kalian ini siapa dan mau apa, ha? Hati-hati lo ya, kalau suamiku tahu ... kalian akan di-ngeek!" tanya Ze dengan wajah menekuk kesal.


Bukannya takut mendengar ancaman Ze, semua lelaki sangar itu malah tergelak. Ze semakin kesal dibuatnya. Ternyata ancamannya sama sekali tidak berhasil menakuti orang-orang tersebut.


"Sialan, mereka malah tergelak lagi!" kesal Ze.


"Eh, jangan salah, Nona. Malah sebaliknya, itulah yang kami inginkan. Kami sangat merindukan saat-saat di mana lelaki itu mengamuk dan melumpuhkan semua musuh-musuhnya," jawab lelaki itu di sela gelak tawanya.


"Kenapa kalian bicara seperti itu? Apa kalian mengenal suamiku?" tanya Ze heran.


"Tentu saja kami kenal. Bahkan kami sangat mengenali bagaimana dan seperti apa lelaki itu yang sebenarnya," jawab lelaki sangar itu lagi.


Ze terdiam, ia semakin bingung memikirkan hubungan seperti apa yang terjalin antara Jimmy dan para lelaki sangar tersebut. Ze ingin sekali mempertanyakannya, tetapi ia tidak siap mendengar jawaban yang mungkin akan membuat dirinya kesal dan kecewa.


Selang beberapa lama, akhirnya mobil para komplotan itu pun tiba di sebuah Villa yang terletak di pinggir laut. Pemandangan lautan yang luas dan berwarna biru, membuat mata enggan memgalihkan padangan.

__ADS_1


Bahkan Ze pun sempat terpesona, tetapi setelah ingat akan posisinya yang masih dalam bahaya, wanita itu tidak berani berlama-lama mengagumi keindahan di tempat tersebut.


Satu hal lagi yang membuat Ze bingung. Tempat itu memang indah, bahkan pemandangan di sekitar Villa pun tampak menakjubkan. Namun, sayang tak satupun manusia yang tampak di sana selain para komplotan berwajah sangar tersebut.


"Mari, Nona. Ikuti saya," ucap lelaki sangar yang tadi duduk di samping kanan Ze dan memerintahkan wanita itu untuk keluar dari mobil kemudian mengikutinya.


Perlahan Ze pun keluar dari mobil tersebut. "Sebenarnya tempat apa ini dan kenapa kalian membawaku ke sini?" tanya Ze.


"Ini Villa Tuan Harold dan jika Anda bertanya siapa Tuan Harold, maka pertanyaan Anda sebentar lagi akan terjawab. Dan mengenai kenapa Anda dibawa ke sini, baiklah akan saya jelaskan sedikit. Sebenarnya Anda di sini hanyalah sebagai umpan--"


Belum habis lelaki itu menjelaskan kepada Ze, Ze sudah memekik ketakutan setelah mendengar bahwa dirinya hanya dijadikan sebagai umpan.


"Apa, umpan?! Umpan apa? Jangan bilang kalian memelihara seekor singa lapar dan ingin menjadikan aku sebagai daging segarnya, ya!" Ze memundurkan langkahnya ke belakang dengan wajah memucat.


Ze membalikkan badannya dengan cepat kemudian mencoba keluar dari Villa tersebut. Namun, sayang Ze dicegat oleh beberapa orang lelaki yang mengikutinya dari belakang. Mereka memegangi tubuh Ze agar ia tidak bisa kabur kemana-mana.


"Jadi ... saat ini Anda sedang hamil, Nona?" tanya lelaki sangat yang tadi mengajaknya bicara.


"Ya, Tuan! Saat ini saya sedang hamil dan saya mohon lepaskan saya," sahut Ze dengan wajah memelas.


Lelaki itu tersenyum sambil memperhatikan perut Ze yang memang terlihat lebih besar dari pada perut wanita pada umumnya.

__ADS_1


"Maafkan saya, Nona. Sebenarnya Anda salah paham. Kami sama sekali tidak ada niatan untuk menyakiti Anda. Anda adalah orang yang paling spesial bagi Tuan Jimmy, itu artinya Anda pun orang yang spesial buat kami. Jadi, tidak mungkin kami berani menyakiti Anda," tutur lelaki itu.


Ze menautkan kedua alisnya heran. "Lalu itu tadi, kenapa tadi kamu bilang aku hanya sebagai umpan?"


Lelaki sangat itu tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Makanya Nona, lain kali dengarkan dulu orang bicara hingga selesai agar tidak terjadi kesalahpahaman. Maksud saya, Anda di sini sebagai umpan agar Tuan Jimmy bersedia menemui kami di sini. Tuan Harold sangat merindukan sosok Tuan Jimmy, Nona. Begitu pula kami," tutur lelaki itu.


"Heh, aku kok penasaran ya ... sebenarnya apa hubungan kalian dengan suamiku. Merindukannya? Jangan bilang kalau Mas Jimmy ...." Tiba-tiba Ze berpikiran aneh. Ia membulatkan matanya sambil menutup mulut dengan kedua tangan.


"Apa yang ada pikirkan, Nona?" tanya lelaki itu balik sambil menatap Ze dengan wajah serius.


Melihat wajahnya yang semakin tampak mengerikan ketika menatapnya, nyali Ze pun mendadak menciut.


"Ah, tidak-tidak! Bukan apa-apa," jawab Ze sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Krruukkk ...!!!


Baru saja lelaki itu ingin meneruskan langkahnya, tiba-tiba perut Ze berbunyi dengan keras. Selama ia hamil, ia mudah sekali merasa lapar. Bahkan barat badan Ze pun meningkat dengan cepat.


Ya, seperti sekarang ini. Ze kembali merasa lapar bahkan perutnya itu tidak kenal situasi dan kondisi. Kalau sudah lapar, ia pasti akan berbunyi, tidak peduli nyawanya dalam bahaya sekalipun.


Lelaki sangar itu kembali menoleh kepada Ze. "Anda lapar, Nona?" tanyanya.

__ADS_1


Ze mengangguk pelan sambil tersenyum konyol. Ia benar-benar malu sekaligus takut saat itu.


***


__ADS_2