Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Cincin dan Liontin


__ADS_3

Syam sedang menyuapi Syifa untuk dia bawa bertemu dengan Naina, mungkin dengan membawa Syifa dia bisa lebih dekat dengan Naina.


” Mas, kamu mau bawa Syifa kemana?” tanya Fatma.


” Enggak usah banyak tanya” jawab Syam sinis.


” Astaghfirullah mas, kamu kok masih kayak begitu sih sama aku. Di depan Syifa lagi, gak baik mas”


Syam tidak menghiraukan apa yang dikatakan Syam, dia membawa Syifa pergi.


” Ibu, aku mau sama ibu” kata Syifa berontak ingin turun dari gendongan ayahnya." Ayah aku mau sama ibu, ayah"


” Ikut ayah sebentar” kata Syam sambil melotot agar Syifa mau, Syifa takut dan akhirnya diam. Fatma memperhatikan kepergian keduanya dan dia khawatir, Fatma mengambil jaket dan kunci mobilnya untuk mengikuti kemana Syam membawa Syifa pergi.


****


Di toko Naina, Naina sedang merapihkan semua dagangannya yang baru datang. Dia lupa semuanya, dari mana dia belanja, kemana dia menjual, dia tidak tahu dan Ai yang senantiasa memberitahunya.


” Mbak Ai, Alika demam mbak” seru pegawai toko Ali dan Ai terkejut mendengarnya. Ai berjalan setengah berlari untuk melihat Alika yang tadinya tidur dan baik-baik saja, Ali juga sedang tidak ada. Dia baru berangkat ke luar kota dan tidak mungkin bisa Ai hubungi. Naina mengikuti Ai dari belakang. Bersamaan dengan mobil Syam yang sampai, Dita dan Mia memperhatikan mobil Syam dengan seksama.


” Astaghfirullah sayang” imbuh Ai merasa sedih lalu mendekap tubuh kecil Alika. Naina menempelkan punggung tangannya ke kening Alika.


” Panas banget, ayo Ai kita bawa Alika ke rumah sakit” ajak Naina.


” Mas Ali lagi gak ada mbak, aku juga gak punya uang”


” Uang aku ada, pakai aja dulu. Ayo" ajak Naina, Ai melepaskan pelukannya dan Naina yang mendekap tubuh Alika kini. Alika terus mengigau, cuaca memang tidak bersahabat akhir-akhir ini. Kadang hujan, kadang panas dan banyak yang jatuh sakit. Ai menyiapkan pakaian Alika, lalu Naina menggendong Alika dan ketiganya turun dari lantai dua ruko tersebut. Dari kejauhan, Syam yang menggandeng tangan Syifa kebingungan. Syifa terus menangis pilu. Dia ingin pulang, dan Syam mencubitnya berulangkali agar diam. Ai yang membawa motor dan Naina yang menggendong Alika di belakang. Hari sudah sore, Dita dan Mia menutup toko dan berinisiatif untuk menyusul Naina dan Ai. Takut-takut Naina terkena masalah, keduanya juga yang repot.


Sesampainya di rumah sakit Alika langsung mendapatkan penanganan.


” Yang sabar ya Ai, kamu harus tenang. Alika butuh kamu” tutur Naina.


” Iya mbak” lirih Ai, dia usap air matanya dan Naina mengusap-usap bahunya.


Ai bangkit saat dokter keluar.


” Pasien harus di rawat untuk sementara sampai kondisinya membaik" tutur dokter.


” Rawat saja dokter, saya mohon lakukan yang terbaik untuk anak kami" kata Naina dan merangkul bahu Ai, Ai terus menangis. Dokter mengangguk mengiyakan, dan akhirnya Alika akan dipindah. Setelah Alika dipindahkan, Naina pamit untuk mencari makanan ke luar rumah sakit. Dari kejauhan Naura sedang duduk sembari mengayunkan kedua kaki mungilnya, dia sedang bersama Fatin. Naura harus di periksa lagi, setelah beberapa waktu lalu dia sempat sakit.


” Saya minta maaf” Naina tidak sengaja menabrak seorang wanita.


Naura menoleh saat mendengar suara yang tidak asing baginya, secepat kilat Naura turun dari kursi bahkan hampir terjatuh dan berlari mengejar Naina dan Dita. Fatin yang sedang memainkan ponselnya terkejut saat Naura tidak ada di sebelahnya.


” Naura" Fatin panik. Bisa habis dia jika Naura hilang.


” Mamah!" jerit Naura memanggil Naina, Naina sama sekali tidak menoleh. Naura terus berlari dan menyenggol beberapa orang yang dia lewati.” Mamah hiks,," mulai menangis.


Naina sampai di luar rumah sakit, cuaca mendung dan gerimis saat ini. Dari kejauhan Naura terus berlari, dan dia senang saat melihat Naina. Namun, Naina menyeberang jalan untuk membeli nasi Padang di seberang sana. Naura yang tidak mengerti apa-apa berlari ke tengah jalan, dia terjatuh kasar dan Naina menoleh saat beberapa pengendara menekan klakson berkali-kali.


” Anak siapa itu?"


” Anak terpisah dari ibunya”


Seru semua orang, Naina memperhatikan Naura dan dia melangkah mendekat.


” Nak” lirih Naina dan melihat lampu hijau akan segera menyala.


” Mamah hiks,,, mamah” imbuh Naura terus-menerus, bajunya basah karena gerimis. Naina menatap tangan mungil Naura yang menarik-narik jari telunjuknya.


” Ayo sayang” kata Naina yang tidak tega, dia gendong Naura dan membawanya pergi dari tengah jalan. Naina membawa masuk Naura ke warung nasi Padang. Dia usap wajah Naura yang basah. Naina memangku Naura di kedua pahanya..


” Anak cantik, siapa namanya hemm?" tanya Naina, entah berapa umur anak yang sedang dia pangku itu. Naura diam dan tangannya bergerak membelai wajah cantik ibunya yang tidak mengenalinya. Kedua mata Naina berair, dia melihat sorot mata kesedihan di mata anak kecil itu. Tiba-tiba Naura menarik kalung nya dengan liontin yang terukir namanya di sana.


” Naula" kata Naura yang tidak bisa menyebutkan huruf R dengan jelas, Naina menyentuh kalung Naura dan dia terdiam sejenak.


” Naura, nama yang sangat cantik” puji Naina, tiba-tiba dia teringat dengan anak kecil yang bernama Naura yang diceritakan Ai. Naura tersenyum dan memeluk tubuh Naina erat.


” Mamah” lirihnya begitu jelas.


” Mamah kamu dimana sayang?"


” Mamah” hanya itu yang Naura katakan, wajahnya tenggelam di dada ibunya itu. Naina mencium rambut Naura, dia menutup matanya dan merasakan sesuatu yang berbeda. Di rumah sakit, Bi Astri dan Fatin kebingungan mencari Naura kemana-mana.

__ADS_1


” Bibi ini gimana?” tanya Fatin.


” Kamu di suruh jagain Naura, maka main hape terus. Gak ada pilihan lain, kita harus menelepon bos” kata bi Astri seraya mengeluarkan ponselnya. Tapi Fatin menyambarnya.


” Aku bisa di pecat bi, kita cari aja dulu” kata Fatin. Dan bi Astri merebut ponselnya.


” Kamu cari di sana, saya cari kesana” titah Bi Astri dan Fatin mengangguk lalu pergi.


” Siapa anak kecil tadi, di jalan sendirian untung ada yang nolongin” imbuh seorang bapak-bapak yang sedang berjalan bersama istrinya.


” Mungkin itu ibunya”


” Ibunya? ibunya masa ninggalin anaknya gitu aja”


” Mereka mirip, bisa jadi benar ibu sama anak” kata istrinya lagi. Bi Astri yang mendengar meraih tangan wanita tersebut.


” Permisi, apa kalian melihat anak kecil, rambutnya sedikit keriting, rambutnya di ikat, memakai jaket pink dan celana jeans abu-abu. Apa kalian melihatnya?"


” Anak yang tadi, di bawa sama seorang wanita ke warung nasi Padang. Saya kira itu ibunya” tutur wanita tersebut.


” Warung nasi Padang dimana ya Bu?"


” Di seberang rumah sakit"


” Baik, baik terima kasih banyak" Bu Astri tersenyum, dan sepasang suami istri itu mengangguk. Bi Astri yakin itu Naura, dia berlari keluar dari rumah sakit dan takut Naura di culik. Sesampainya di warung nasi Padang, Bi Astri mengedarkan pandangannya.


” Naura!” berteriak." Naura, ini bibi” seru Bu Astri.


Naina menoleh dan Naura masih dalam pangkuannya, Naura tersenyum kepada Bi Astri tapi tidak dengan bi Astri. Bibi terdiam melihat Naura sedang duduk bersama siapa. Kedua mata Bi Astri berair, dia yang sudah lama tidak melihat majikan perempuan dalam keadaan sadar merasa apa yang dia lihat adalah sebuah mimpi, Bi Astri terus melangkah mendekat.


” Naura mengikuti saya, saya tahu namanya dari kalung yang dia pakai” tutur Naina.


” Dia, gak kenal aku?" gumam bi Astri, Bi Astri duduk dan memperhatikan Naura yang terlihat senang. Bi Astri meletakkan tas nya dan menekan kamera perekam di sana, dia abadikan momen langka tersebut dan untuk dia perlihatkan kepada Uwais nanti. Setelah bertemu dengan Naura, Naina tetap saja tidak mengingat apa-apa.


” Ibu gak ingat sama saya?" tanya Bi Astri, Naina terdiam tidak paham dengan ucapannya.


” Iya, maaf?" Naina bingung.


” Saya merasa pernah bertemu dengan ibu” tutur Bi Astri, dia tidak bisa memaksakan Naina untuk ingat segalanya sekarang.


” Oh” singkat Naina sambil tersenyum.


” Mbak, ini. Semuanya 90 ribu” seru pegawai warung nasi Padang sambil membawa kantong plastik berisi makanan yang Naina pesan, dan Naina juga membeli susu kotak untuk Naura. Naina membayar semuanya dan menerima kembalian juga. Naina hendak menurunkan Naura tapi Naura menolak dan membuat Bi Astri dan Naina saling menatap.


” Ibu harus pergi nak, jangan pergi sendirian lagi. Oke?” Naina tersenyum.


” Gak mau, mamah” kata Naura menolak. Bi Astri tidak tega melihatnya.


” Ayo Naura" ajak Bi Astri dan mengambil Naura lalu menggendongnya, tapi Naura menarik baju Naina agar Naina tidak pergi.


” Sayang, jadi anak yang baik ya" bujuk rayu Naina agar Naura mau melepaskannya tapi Naura tidak mau, Bi Astri melepaskan genggaman tangan kuat Naura dan Naina memperhatikan Naura semakin histeris. Naina benar-benar tidak tega, dia letakkan makanannya lalu menggendong Naura lagi. Naina menepuk-nepuk punggung dan rambut Naura lembut agar Naura tertidur, Naura terus menangis tidak mau Naina pergi.


” Tidur nak, tidur sayang.” Kata Naina dan terus mondar-mandir ke kanan kiri agar Naura tertidur, Bi Astri tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. 30 menit kemudian, Naura tertidur pulas. Naina lumayan merasa pegal karena ternyata Naura berat tidak seperti kelihatannya. Naina memberikan Naura kepada Bi Astri.


” Terima kasih, maaf ngerepotin” ucap Bi Astri dan Naina mengangguk.


” Saya permisi, assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam”


Bi Astri menatap kepergian Naina, Naina berpapasan dengan Fatin. Fatin terkejut melihat istri dari majikannya itu.


” Bahaya kalau bos ketemu sama istrinya, kesempatan aku bakal hilang. Udah lupa ingatan, nyusahin. Ngapain juga sih balik ke Jakarta” gumam Fatin kesal.


***


Uwais sedih.


Bi Astri menceritakan segalanya, saat Naura bertemu dengan ibunya tapi Naina tidak bereaksi apa-apa. Naina sama sekali tidak ingat dengan Naura, Uwais menyenderkan kepalanya dengan mendongak ke atas menatap langit-langit ruangan kerjanya itu.


” Naura sedang marah kepada semua orang, dan gak mau makan bos" tutur Bi Astri.


” Biar saya yang ajak Naura makan nanti, bibi boleh keluar” titah Uwais dan Bi Astri mengangguk, setelah Bi Astri pergi. Uwais memperhatikan video Naina dan Naura, dia tersenyum lebar merasa bahagia karena keinginan Naura untuk melihat Naina terwujud, walaupun Naina belum juga ingat siapa anak yang dia gendong tadi. Uwais menutup laptopnya, dia keluar dari ruangan kerjanya dan pergi untuk menyuapi Naura makan. Fatin yang tidak diizinkan Naura masuk diam di luar sambil membawa mangkuk, berisi bubur untuk Naura.

__ADS_1


” Kemari” titah Uwais dan Fatin menoleh.


” Ada apa bos?” tanya Fatin begitu gemulai.


” Enggak usah macam-macam kamu” ketus Uwais lalu merebut makanan Naura dan Fatin mendelik sebal, Uwais baru saja pulang. Dia pulang malam hari ini, pria itu masih memakai pakaian formal nya. Celana hitam dan kemeja putih, rambutnya selalu tersisir rapi. Uwais mengetuk pintu lalu masuk.


” Ini papah sayang” kata Uwais dan Naura menoleh. Naura sangat senang papahnya sudah pulang.


” Papah” Naura bangkit dan memeluk kaki panjang Uwais. Uwais tersenyum lebar. Uwais memperhatikan kamar yang menjadi tempat bermain Naura, begitu berantakan padahal itu adalah tanggung jawab Fatin untuk membereskan dan menjamin kebersihan kamar bermain putrinya. Kamar tersebut penuh dengan boneka, dan mainan yang lainnya.


” Makan ya, papah suapin” kata Uwais dan mengajak Naura duduk, Naura mengangguk dan dia duduk.” Bismillahirrahmanirrahim” suapan pertama masuk, Naura mengusap rambut panjangnya berulangkali. Uwais mengambil ikatan rambut di laci dan mengikat rambut Naura. Uwais memperhatikan leher Naura dengan seksama, kalung anaknya itu hilang.


” Kemana kalung kamu sayang?”


Naura menggeleng kepala tidak tahu.


” Fatin!” teriak Uwais. Fatin masuk dan berdiri.


” Ada apa bos?”


” Kamu jual kemana kalung anak saya?” tuduh Uwais dan Fatin panik.


" Saya gak tahu apa-apa bos, sumpah”


” Awas kamu kalau bohong” ancam Uwais dan melirik pintu meminta Fatin keluar, Fatin akhirnya keluar.


Brug! Naura terjatuh.


” Papah!” berteriak.


” Naura, Astaghfirullah” Uwais panik dan menghampiri Naura. Naura memegang lututnya dan Uwais meniupnya.” Anak papah jagoan, jangan nangis”


” Iya papah”


” Anak pintar, ayo makan lagi. Habis makan Naura minum obat”


” Sama papah”


” Iya sama papah nak”


****


Naina pulang ke ruko, Ai ditemani Rosa di rumah sakit. Naina melepaskan jaketnya dan menggantungnya, belum sempat dia melangkah Naina menoleh lagi. Dia melihat sebuah kalung tersangkut di resleting jaketnya.


” Ini kalung Naura” kata Naina dan menarik jaketnya dari gantungan baju, Naina berusaha menarik kalung tersebut tapi tidak bisa. Dia goyangkan jaketnya malah liontin kalung tersebut yang berada di Hoodie jaketnya terjatuh.


” Astaghfirullah, ini punya Naura.” Naina mengambil liontin kalung tersebut dan merusak resleting jaketnya agar bisa melepaskan kalung Naura. Naina bingung harus mengembalikannya kepada siapa. Dia simpan kalung Naura di atas meja dan terus memperhatikannya. Naina menatap jadi manisnya, kenapa model liontin kalung Naura sangat sama dengan model dan warna cincin nya. Entah cincin darimana dia pun tidak tahu, Naina berusaha menarik cincin tersebut sekuat tenaga sampai jarinya sakit.


” Auw, auw” meringis.


” Kenapa susah sekali”


Naina melangkah ke kamar mandi, dia lumasi jarinya dengan sabun tapi tetap tidak bisa. Saking penasarannya Naina mengambil minyak goreng dan melumasi jarinya dengan minyak goreng, Naina menarik paksa cincin nya dan akhirnya cincin nya terlepas dan dia tersenyum. Naina membersihkan cincin nya dan melangkah mendekati kalung Naura tadi, dia letakkan cincin nya di sana dan benar saja, ukiran cincin dan liontin kalung Naura sangat serupa.


” Harus kemana aku mengembalikannya” imbuh Naina dan meraih liontin kalung Naura, Naina memperhatikan liontin tersebut lalu membaliknya, wajahnya terlihat tegang melihat ukiran nama lain di belakang liontin tersebut.


” Kenapa namaku disini?” lirih Naina, ada namanya di belakang nama Naura. Naina menyambar cincin nya di atas meja, dia semakin terkejut ada nama Naura di bagian dalam cincin nya.


” Siapa anak ini hiks,, siapa aku? siapa dia?" Naina tiba-tiba menangis, dia menjatuhkan cincin dan liontin dari tangannya. Naina terjatuh kasar ke atas kasurnya.” Siapa aku?" terus bertanya-tanya.


****



Naina



Naura



di bilang duda bukan, di bilang punya istri bingung....

__ADS_1


__ADS_2