
Naina menatap semua barang-barangnya di atas mobil bak terbuka untuk dibawa ke ruko baru, Naina memberikan alamat kepada supir dan dia akan menyusul nanti. Naina akan menyusul menggunakan motor bersama Ai. Ai yang sedang duduk di atas motor terkejut melihat kedatangan Syam.
” Mbak” panggil Ai dan Naina menoleh.
” Apa?” Naina menatap Ai dan Ai melirik Syam dengan ekor matanya, Naina menoleh dan ekspresi wajahnya langsung berubah setelah melihat laki-laki yang membuat kehidupannya tersiksa. Naina langsung membuang muka.
” Jangan dilihat, biarin aja" kata Naina kepada Ai dan Ai memalingkan wajahnya, Ai dan Naina tidak perduli dengan keberadaan Syam. Syam yang sadar diacuhkan melangkah cepat mendekati Naina, wajahnya begitu kusut, tidak terlihat ada tanda-tanda bahwa dia bahagia setelah menceraikan Naina. Hidupnya malah semakin buruk dan melampiaskannya dengan mabuk-mabukan.
” Mas Syam!” bentak Ai saat melihat Syam meraih tangan Naina dan menariknya, Naina terkejut dan tubuhnya menempel di tubuh Syam. Naina mundur tapi punggungnya di tekan oleh Syam.
” Lepas!” bentak Naina, air matanya menetes deras dan dia langsung mendorong tubuh Syam.” Berani sekali kamu mas, pergi” usir Naina.
” Kamu kemana aja? aku nyariin kamu. Kenapa pindah? ini toko kamu Naina”
” Bukannya kamu yang meminta aku buat pindah” lirih Naina kesal lalu mengusap air matanya, Syam mengernyit heran. Bukan Syam yang mengirimkan pesan kepada Naina agar Naina pergi dari toko tapi Amira yang mengirimkan pesan, Amira tidak sudi ada harta benda Syam yang dinikmati Naina.
” Aku gak pernah meminta kamu buat pergi dari Ruko, ini punya kamu” berusaha menyentuh Naina tapi Naina mundur menjauh.
” Maaf mas, jangan sentuh aku sembarangan. Urusan kita sudah selesai” tegas Naina dan Syam menundukkan kepalanya.
” Aku ingin bicara sama Naina sebentar” kata Syam kepada Ai agar menjauhinya dan Naina. Naina menatap Ai dan mengangguk, Ai akhirnya melangkah pergi dan memperhatikan keduanya dari kejauhan.
” Kamu kemana aja sih Nai? kita ketemu cuma di pengadilan doang. Aku udah bilang, aku mau rujuk sama kamu. Kamu malah menghindar, kamu kemana selama ini?” Syam menatap Naina lekat, tatapan penuh rindu dan cinta. Naina hadir di pengadilan, semuanya sudah selesai. Naina bahkan berhenti dari pekerjaannya yaitu seorang guru. Dia berulangkali cuti, merasa tidak enak hati dan akhirnya berhenti. Mungkin Naina akan mencoba melamar kembali ke sekolah yang sama ataupun ke sekolah lain.
” Kita gak bisa rujuk mas”
” Harus menikah lagi, itu kan syaratnya? aku akan carikan laki-laki baik yang mau menikahi kamu, tanpa menyentuh kamu. Terus kita bisa menikah lagi Naina kalau kamu cerai”
” Kamu keterlaluan mas, pernikahan bukan permainan. Jadikan ini pelajaran untuk kamu, supaya tidak main-main dengan kata talak” ketus Naina dan mengunci toko. Naina melangkah pergi meninggalkan Syam dan Syam menatap kepergiannya sambil menangis. Naina berusaha menahan air matanya, kedua matanya sudah merah. Dia pergi ke rumah saudaranya, dan Syam tidak bisa menemuinya kecuali di pengadilan.
*****
Keputusan Ali.
Ta'aruf sudah berjalan tiga bulan, Ali dan Rosa belum menunjukkan kecocokan malah sering bertengkar. Ali terpaut jauh dari segi umur begitu juga dengan pemikirannya, dan Rosa ingin Ali seperti laki-laki remaja kasmaran, selalu memujanya dan ada waktu untuknya.
” Pekerjaan saya memang tidak terikat dengan waktu, tapi bukan berarti saya bisa santai.” Kata Ali sambil mengemudi, dia jarang bertemu dengan Rosa, bertemu hanya ketika Ali datang ke rumah Rosa.
” Aku mau nonton film di bioskop, teman-teman aku sama pacarnya. Aku juga mau mas” Rosa merengek.
” Saya gak bisa membawa anak orang keluar dari rumahnya, kita ta'aruf. Dan ta'aruf sangat jauh berbeda dengan pacaran. Saya gak bisa” Ali menolak, Ali selalu menolak ketika Rosa mengajaknya berkencan. Seorang santri di ajak pacaran, mustahil. Kecuali yang lemah iman.
” Mas Ali kok gitu sih, ya udah aku mau bilang sama Ayah”
” Silahkan!”
__ADS_1
” Mas Ali sebenarnya serius gak sih sama aku?”
” Saya serius, cuma kamu yang bermain-main dengan saya Rosa.”
Rosa terdiam, dia mengira Ali bisa dia andalkan. Sudah lama Rosa memendam rasa, namun nyatanya Ali bukan pria yang mudah ditaklukkan. Secantik apapun gadisnya, jika tidak membuatnya nyaman, tidak bisa menghargainya, jangankan menikah. Ta'aruf saja tidak akan benar, Ali bukan hanya sekedar mencari istri, tapi dia menginginkan seorang wanita yang mau berjuang bersama-sama dengannya ke surga bersama-sama.
” Oke, kalau mas Ali maunya kayak begitu. Ta'aruf kita sampai sini aja, nanti aku bilang sama bapak. Gak usah telepon aku lagi”
” Kamu yang nelepon saya terus”
Tut... Panggilan terputus.
” Wa'alaikumus Salaam” imbuh Ali lalu melepaskan headset dari telinganya.
****
Ai dan Naina sudah sampai di ruko baru, Rizal tersenyum dan melangkah mendekati Naina. Naina tersenyum saat melihat Asil. Naina melangkah dan Rizal mengira Naina melangkah padanya, namun Naina melewatinya dan berpelukan dengan Asil.
” Cih” Rizal berdesis.
” Mbak apa kabar?”
” Aku baik Nai, aku senang kamu balik ke ibukota. Kamu kemana aja Naina? aku kangen sama kamu, kami semua kangen sama kamu” Asil menatap tubuh Naina yang terlihat sangat kurus sekarang.
” Aku mau bantuin Naina disini, dadah mbak. Pergi ya pergi ya" kata Rizal seraya menggerakkan tangannya, mengusir kakak iparnya.
” Iya deh kamu disini aja, bantuin Naina jangan ngerepotin.” Asil tersenyum lalu mengusap bahu Naina.” Aku pergi, nanti aku kesini lagi. Assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam” jawab Naina dan Rizal.
Naina menoleh dan menatap Rizal lekat, pemuda itu sudah lulus SMA dan sedang memulai persiapan untuk kuliah. Sibuk memantaskan diri agar bisa bersanding dengan Naina.
” Pergi sana!" usir Naina seraya masuk ke dalam ruko. Rizal sudah kebal dan dia berjalan berlenggak-lenggok masuk menyusul Naina.
Ali keluar dari mobilnya, dia lepas kacamata hitamnya saat melihat ruko di seberang ruko miliknya sudah ada yang mengisi. Semakin ramai dan Ali tersenyum, Ali melangkah ke ruko nya yang sudah di buka dan dijaga dua laki-laki, pegawainya.
Naina memindahkan barang-barang yang bisa dia pindahkan. Ali yang sedang menyapu di depan ruko nya terdiam saat melihat Naina. Naina menoleh dan dia juga diam.
” Naina?” lirih Ali yang sudah lama tidak melihat Naina, ada rasa lega di hatinya melihat Naina baik-baik saja. Toko Naina buka tanpa kehadiran Naina selama ini.
” Bu, yang mana lagi yang harus aku masukkan?” Rizal bertanya dan mendekati Naina, Naina menoleh dan Rizal cemberut saat melihat Ali.
Brak! Naina menjatuhkan semua barang-barang dari tangannya, dan Ali melepaskan sapi dari tangannya lalu melangkah mendekati Naina dan Rizal. Rizal membantu Naina membereskan semuanya dan juga Ali.
” Minggir!” bentak Rizal mendorong tubuh Ali.
__ADS_1
” Rizal” Naina menarik bajunya agar berhenti.” Kamu ngapain?” Naina berbisik.
” Dia selalu ada dimana pun ibu berada, apalagi kalau bukan dia mengikuti ibu” kata Rizal kesal, Rizal juga baru melihat dan bertemu Naina sejak lama. Sekitar 6 bulan Naina tidak bertemu dengan keduanya.
” Jangan nuduh orang sembarangan, diam Rizal” Naina berbisik dan terus menarik baju Rizal.
” Kamu kemana saja? semua orang mencarimu” kata Ali dan Naina hanya tersenyum.
” Aku ada, hanya bapak dan ibuku yang tahu aku dimana selama ini. Bagaimana kabar kamu mas?”
” Alhamdulillah, aku baik. Biar aku bantu sekiranya ada yang bisa aku bantu” kata Ali dan Naina mengangguk.
” Terima kasih mas,”
” Sama-sama, kita tetanggaan sekarang. Kamu bisa datang jika butuh sesuatu” Ali membawa barang-barang di tangannya masuk dan Naina melangkah di sebelahnya, dari belakang Rizal memperhatikan keduanya dengan tangan terkepal kuat. Semua barang-barang berat sudah masuk tinggal barang-barang kecil dan yang lainnya yang harus di rapihkan. Ali naik ke atas bangku, dan memasangkan poster toko Naina. Naina mengarahkannya dan Ali tersenyum.
” Kurang tinggi?”
” Enggak mas, sudah pas segitu”
Setelah semuanya selesai, Naina membeli makanan untuk semua orang.. Semuanya duduk di atas tikar, Naina duduk di antara Ai dan Rizal. Ali hanya diam tidak banyak bicara, Naina merasa bersyukur banyak yang membantunya dan pekerjaannya bisa selesai dengan cepat.
” Mas Ali apa tempat disini aman? mbak Naina akan sekaligus tinggal di ruko soalnya” kata Ai.
” Disini aman, tidak terlalu berisik juga. Aku juga tidur di ruko ku. Jangan khawatir”
” Kamu sengaja akan menginap di ruko mu karena Naina juga menginap di rukonya?” tuduh Rizal penuh rasa cemburu.
” Aku sudah mengontrak ruko satu tahun yang lalu, rumah ku jauh dan aku lebih suka tidur di ruko” Ali kesal dan saling menatap tajam dengan Rizal.
” Emm minum minum” Naina berucap dan membuat pandangan kedua laki-laki itu mengarah padanya. Naina menatap keduanya bergantian dan Rizal membuang muka.
****
Malam hari tiba, Naina sudah berbaring di atas kasur. Air matanya menetes dan di luar ruko Syam memperhatikan lampu menyala di lantai dua ruko tersebut. Dari ruko nya Ali memperhatikan Syam.
Naina menoleh saat ponselnya berdering.
” Halo assalamu'alaikum pak”
” Wa'alaikumus Salaam, gimana kabar kamu? pindahan kamu hari ini gimana nak?”
” Alhamdulillah lancar, bapak gak usah khawatir. Alhamdulillah banyak yang bantuin Naina disini”
” Alhamdulillah kalau begitu, yang betah di sana. Kunci pintu, jangan terlalu dekat dengan siapapun”
__ADS_1