
Fatma dan Syam kesiangan pagi ini, mereka sudah pindah ke rumah Syam lagi namun semua bibi yang tidak tahu kepulangan mereka malah ingin pulang kampung mendadak, akhirnya Syam mengizinkan mereka. Syam sedang menidurkan Syifa sementara Fatma sedang mencuci pakaian. Syam menoleh melihat ponsel Fatma terus bergetar. Syam bangkit setelah yakin Syifa tidur lalu dia melangkah untuk melihat ponsel istrinya, belum sempat dia melihat Fatma sudah datang seraya menyambar ponselnya itu dan Syam menoleh. Syam menatap istrinya penuh curiga.
” Pipa air di rooftop patah mas, aku gak bisa benerin” imbuh Fatma lalu meletakkan ponselnya setelah diam-diam dia mematikkan ponselnya itu. Syam mengangguk dan melihat celana Fatma basah. Keduanya akhirnya pergi untuk melihat pipa air di rooftop yang Fatma maksud. Sesampainya di rooftop Syam berusaha menahan air karena jika dibiarkan air toren akan habis. Fatma mendekat dan membantunya, pipa malah semakin patah dan keduanya sama-sama basah.
” Tahan, tahan” titah Syam.
” Gak bisa mas" seru Fatma.
” Tahan dulu, aku ambil kain” kata Syam tapi tangan Fatma yang kecil tidak sanggup menahan pipa lebih lama. Air keluar tidak terkendali membasahi sekujur tubuh Fatma, Fatma tidak bisa melihat karena wajahnya terus tersiram air, Syam mendengus sebal lalu mendekat dan memeluk istrinya. Menghalangi air ke tubuh istrinya, fatma terdiam dan matanya terbuka lalu mendongak menatap suaminya lekat. Keduanya saling menatap lekat dengan begitu dalam, Syam tiba-tiba hanyut dalam angan-angan dan memandang bibir istrinya lama. Syam mendekatkan bibirnya ke bibir Fatma, Fatma diam dan menutup matanya saat Syam mencium nya begitu lembut dan sangat berbeda dengan waktu itu. Keduanya hanyut dalam kenikmatan tersebut. Setelah merasa cukup keduanya sama-sama melepaskan ciuman mereka. Syam menempelkan keningnya di kening istrinya. Fatma mendongak lagi dan keduanya saling menatap lekat.
” Aku minta maaf, aku tahu pernikahan ini bukan seperti pernikahan yang kamu inginkan. Aku kasar, arogan, dan inilah aku Fatma. Aku bukan pria baik-baik, aku minta maaf karena selalu kasar sama kamu” lirih Syam, suaranya lirih dan tatapannya begitu menghanyutkan. Fatma merasa rendah diri, dia yang bukan istri baik-baik dia yang sudah beberapa kali tidur dengan pria lain selain suaminya.
” Enggak mas, apa yang kamu lakukan karena kita kurang berkomunikasi. Kamu pria baik-baik mas, aku percaya itu” imbuh Fatma seraya mengelus pipi suaminya lembut dan Syam tersenyum mendengarnya. Syam meraih tangan Fatma lalu mencium nya, dia memang masih belum melupakan Naina namun dia juga mulai sadar dan takut rumah tangganya dengan Fatma juga kandas jika dia tak kunjung berubah.
” Kita mulai semuanya, ingatkan aku pelan-pelan kalau aku salah. Dan jangan pergi keluar rumah sembarangan, seburuk apapun aku tolong hargai aku” pinta Syam dan Fatma mengangguk, ada yang berbeda dengan Syam saat ini. Dan Fatma mulai merasakan sentuhan lembut suaminya yang membuatnya nyaman. Sesaat dia lupa dengan Kabir, Syam suaminya. Syam mengajak Fatma pergi dan meminta satpam mencari orang untuk segera membetulkan pipa di rooftop. Fatma tunduk saat Syam mengajaknya untuk menghabiskan waktu bersama di kamar lain. Keduanya kembali melakukan ritual suami istri yang sudah lama tidak keduanya lakukan. Fatma benar-benar merasakan sentuhan yang berbeda dari Syam. Syam melakukannya dengan hati-hati mengingat Fatma pasti pasti ketakutan karena kejadian waktu itu.
*****
Di puncak.
Naina menikmati sarapannya, yaitu soto babat bersama suaminya. Di pinggir jalan, Naina dan Uwais memakai jaket tidak kuat dengan udara di puncak yang sangat dingin terlebih semalam hujan deras.
” Mas kita foto buat maternity kapan? mending pagi-pagi ya jangan terlalu sore aku takutnya hujan” kata Naina.
” Kita jadikan dua hari saja, besok kita foto untuk maternity indoor dan besoknya yang outdoor. Kamu gak boleh capek-capek, kalau semuanya dilakukan dalam satu hari aku malah gak tenang sama kondisi kamu” tutur Uwais dan Naina mengangguk setuju.” Aku yang akan mengurus semuanya, kamu cukup bergaya dan harus menempel saat foto nanti sama aku”
” Hemmm” kedua mata Naina membulat.” Jangan macam-macam ya mas nanti, banyak orang kan malu kalau kamu berlebihan”
” Aku mau satu foto, saat kita lagi kissing”
” Idih enggak mas" Naina menggeleng kepala cepat.
” Tapi aku mau” Uwais tersenyum.
” Enggak aku gak mau, malu. Ngapain di umbar, lebih spesial cuma kita aja yang tahu” kata Naina dan Uwais tergelak mendengarnya.
” Haha, iya sayang enggak. Aku cuma bercanda, jangan cemberut terus jelek tahu”
” Biarin”
Uwais menahan tawanya dan memperhatikan Naina yang kesal padanya. Setelah sarapan selesai keduanya pergi dan mencari minimarket, cemilan adalah yang utama. Naina membuka laci dan melihat rokok di sana.
” Mas kamu ngerokok?”
” Itu punya Zidan sayang”
” Pak Zidan merokok? kamu jangan sampai tergoda ya mas”
” Aku juga pernah merokok dulu” ucap Uwais berbohong. Dan kedua mata Naina membulat.
” Kapan mas?”
” Sebelum ketemu sama kamu, setelah ketemu sama kamu aku berhenti apalagi setelah kita menikah, tapi kayaknya aku mau merokok lagi sayang” Uwais tersenyum simpul dan menoleh sekilas melihat raut wajah panik Naina.
” Jangan mas, ngapain sih kamu ngerokok”
” Ya enggak apa-apa, emangnya gak boleh?”
” Enggak boleh, jangan cium cium kalau kamu ngerokok” ancam Naina dan Uwais yang terkejut sekarang.
” Kalau aku ngerokok gak boleh cium cium?”
Naina mengangguk dan mendelik sinis.
__ADS_1
” Janji deh aku gak ngerokok, sebagai gantinya satu batang rokok satu ciuman. Kalau enggak aku ngerokok lagi nanti” ancam Uwais merasa mendapat kesempatan untuk membodohi istrinya.
” Satu hari satu ciuman satu batang rokok, begitu?” tanya Naina bingung.
” Kok sekali, aku kalau ngerokok sehari 3 bungkus satu bungkusnya 12 batang di kali 3 bungkus, satu hari 36 kali ciuman itu gak termasuk kalau aku minta nambah. Catet!” kata Uwais tegas dan menahan tawanya.
” Enggak!" ketus Naina.
” Oh berarti aku ngerokok lagi, sekalian beli rokok ya nanti di minimarket”
” Ih kamu...” Naina kesal.
” Kamu apa?” Uwais tersenyum.
” Iya” singkat Naina.
” Iya apa? yang jelas” titah Uwais seraya mencolek dagu istrinya.
” Iya yang tadi, awas aja kalau mau coba-coba ngerokok lagi. Aku juga lagi hamil, kalau anak kita udah lahir juga sama. Bilangin pak Zidan jangan ngerokok kalau aku ada”
Uwais mengangguk setuju, dia berhasil membodohi Naina dan menang banyak. Uwais menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket, Naina hendak membuka pintu mobil tapi Uwais mengunci pintu mobil kembali lalu Naina menoleh.
” Di mulai dari sekarang” imbuh Uwais seraya menunjuk bibirnya dan bibir Naina.
cup kiss.... Naina menciumnya.
Uwais tersenyum lalu membalas ciuman istrinya berulangkali di bibir, Naina mendorong dadanya agar berhenti dan akhirnya Uwais berhenti.
*****
Kumpul keluarga.
Di kampung, di rumah orang tua Naina semua kerabat berkumpul untuk membuat kue untuk acara 7 bulanan Naina nanti. Naina sebentar lagi juga ulangtahun, kue kesukaan Naina adalah kue kering.
” Ya tetap aja ibu sama bapak pengen bikin walaupun gak banyak, buat nambah-nambah” kata Bu Ratna.
” Kabir bagaimana kabarnya Bu Ratna?" tanya tetangga yang ikut serta membantu membuat kue, begitulah di kampung. Satu rumah ada hajatan atau ada acara dan perlu bantuan mereka berbondong-bondong saling membantu.
” Tadi pagi nelepon, tapi sebentar soalnya mau kerja. Dia baik, Alhamdulillah” Bu Ratna tersenyum.
” Alhamdulillah ya Naina udah nikah lagi, suaminya juga baik, Kabir udah kerja, Husna udah punya anak Bu Ratna sama pak Fahmi pasti sudah merasa tenang sekarang.” Seru tetangga.
” Yang namanya anak, mau masih kecil ataupun sudah dewasa dan berkeluarga rasa khawatir orang tua gak ada bedanya bu” Bu Ratna tersenyum.
” Iya ya Bu, ngomong-ngomong ibu bisa gak ya bilang sama Naina supaya anak saya diajakin kerja?”
” Kalau bicara sama suaminya Naina saya gak berani bu, tapi nanti biar saya tanyakan sama Kabir tapi tetap saja kalau kau kerja harus seperti pelamar yang lainnya” ujar Bu Ratna dan tetangganya mengangguk.
Pak Fahmi dan Mirza sedang di ruang tamu menikmati kopi bersama. Raut wajah pak Fahmi sedih karena Naina tak kunjung mengangkat telepon dan sekarang ponselnya mati.
” Kenapa pak?” Mirza bertanya.
” Ini, Naina gak angkat telepon. Naina sama Uwais lagi di puncak apa susah sinyal ya disana? bapak jadi khawatir” pak Fahmi sedih tapi tidak lama ponselnya berdering panggilan masuk dari Uwais.
Pak Fahmi lekas mengangkatnya.
” Halo assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam pak, bapak tadi nelepon?”
” Iya, tapi gak diangkat”
” Aku sama Naina lagi beli cemilan hape Naina gak dibawa, sekarang malah habis baterainya. Bapak sehat?” tutur Uwais.
__ADS_1
” Alhamdulillah sehat, Naina dimana nak?”
” Ada, lagi makan. Anak bapak makan terus” adu Uwais dan pak Fahmi tertawa. Naina cemberut dan merebut ponsel suaminya.
” Halo pak assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Naina, bagaimana kabar kalian?”
” Alhamdulillah Nai sama mas Uwais sehat, bapak gimana?”
” Bapak juga sehat, kalian berapa hari di puncak? kami semuanya ke kota hari Minggu”
” Biar supir yang jemput, bilang” imbuh Uwais berbisik dan terdengar oleh pak Fahmi.
” Kata mas Uwais biar dijemput supir, berapa orang? biar di siapin mobilnya”
” Enggak Nai, gak usah bawa gak enak”
” Enggak apa-apa pak, biar dijemput nanti. 3 mobil cukup?” imbuh Uwais dan memakaikan sabuk pengaman untuk istrinya lalu dia mulai melajukan mobilnya untuk segera kembali ke hotel.
” Kata mas Uwais gak apa-apa pak, lebih nyaman juga kan daripada naik bus apalagi kalau ada anak kecil kasihan” imbuh Naina.
” Ya sudah kalau begitu, bilang sama suami kamu terima kasih ya Nai”
” Iya pak"
Setelah cukup lama berbincang panggilan berakhir, Naina diam sambil menatap keluar kaca mobil memperhatikan setiap jalan yang dia lewati sambil menikmati cemilannya. Uwais diam dan menyalakan musik, sesampainya di hotel keduanya segera pergi ke kamar mereka untuk beristirahat. Naina memilih penginapan yang memiliki dapur kecil di dalamnya, supaya dia bisa memasak kapanpun jika dia lapar. Uwais memperhatikan semua pakaian yang di gantung oleh Naina untuk proses pemotretan maternity nanti.
” Mas kamu mau kopi gak?” imbuh Naina sambil mengeluarkan satu-persatu belanjaannya tadi ke atas meja.
” Aku mau susu” jawab Uwais lalu merebahkan tubuhnya.
” Cokelat atau putih?”
” Punya kamu” Uwais tersenyum. Naina melemparkan roti ke perut suaminya itu dan Uwais bangkit lalu mendekati Naina tapi Naina pergi ke dapur dan Uwais kembali menyusulnya, dia peluk tubuh istrinya dari belakang. Meraba-raba perut besar istrinya dan meraba-raba dada besar istrinya. Naina tidak terlalu mengalami pembengkakan pada tubuhnya, hanya sedikit berisi. Naina selalu sengaja memakai gamis berwarna hitam dan longgar untuk menyamarkan perut dan dadanya yang semakin menonjol.
” Mas, diem dulu”
” Tidur yu, masak nya nanti” ajak Uwais, tidur bukan sembarang tidur.
” Masih pagi juga”
” Ini jam 10 sayang, udah siang”
” Tapi nanti malam enggak ya?”
” Ya enggak tahu, bisa saja enggak atau aku mau lagi”
” Hemm” Naina membuang nafas kasar. Uwais yang mendapat penolakan merasa kesal dan melepaskan pelukannya.
” Aku cuma bercanda, gak usah sampai begitu, seolah permintaan suami kamu ini membuat kamu lelah dan kesal sayang,” tutur Uwais. Naina berbalik dan memeluk suaminya erat.
” Bukan begitu mas, aku gak merasa kesal ataupun lelah. Aku cuma takut kamu capek atau aku yang capek karena besok kita sibuk, aku minta maaf karena membuat suamiku ini tersinggung” Naina tersenyum lalu mengusap dada besar suaminya lembut. Uwais tersenyum melihat usaha Naina untuk membuatnya tidak kesal.” I love you”
” Aku harus sering marah, supaya kamu menggoda suami kamu ini lebih sering”
Naina tersenyum, Uwais mengecup kening istrinya sekilas lalu memeluknya perlahan dan Naina juga membalas pelukannya.
*****
Aku menunggu.
Kabir menunggu Fatma di sebuah taman, namun Fatma tak kunjung datang padahal dia sudah di sana selama 2 jam. Hari sudah sore, padahal Kabir buru-buru ke taman setelah bekerja. Fatma pergi dari apartemennya tanpa berpamitan dan sekarang tidak ada kabar, kemana sebenarnya gadis itu. Di telepon sama sekali tidak bisa.
__ADS_1
” Kemana kamu Fatma" Kabir kesal, lalu dia bangkit dari duduknya dan menyeret tas nya frustasi.