Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Naina mulai percaya


__ADS_3

Hujan deras berhenti, berganti dengan gerimis gerimis kecil. Syam yang tidak bisa menemukan Naina akhirnya pergi, Naina mendongak dan melepaskan pelukannya.


” Apa dia sudah pergi?”


” Iya”


Naina mundur tapi tidak bisa, Uwais yang mundur menjauh. Naina diam dan menundukkan kepalanya.


” Masih percaya dia suami kamu?” tanya Uwais dan Naina menggeleng kepala. Uwais melepaskan jas nya dan menutupi baju Naina yang basah sehingga menampakan pakaian dalamnya, Naina mengenggam jas tersebut kuat. Naina terdiam melihat Bros di saku kemeja putih Uwais, Naina mendongak dan memperhatikan wajah Uwais dengan seksama.


” Kenapa? kamu mengenaliku sekarang?" tanya Uwais dan Naina sepertinya tahu dia pura-pura menjadi dokter.


” Kenapa kamu menipuku?"


” Bagaimana bisa aku menipu istriku sendiri” lirih Uwais.


Naina diam, dia dan Uwais saling menatap lekat. Naina merasa di tipu tapi dia bingung karena Uwais juga selalu melindunginya, apa benar Uwais suaminya? tapi dia perlu bukti.


” Aku antar" ajak Uwais dan melangkah pergi, Naina setengah berlari menyusul dan melangkah di belakang tubuh Uwais. Sesampainya di ruko, Uwais membuka kemejanya yang basah lalu memerasnya untuk mengurangi air di bajunya. Naina yang membawa dua gelas teh hangat terkejut melihat pria bertelanjang dada, Uwais menoleh sampai Naina bisa melihat bentuk bagian tubuhnya.


” Dasar mesum" cibir Naina.


” Enggak usah kepedean” kata Uwais lalu memakai kemejanya lagi. Naina meletakkan dua gelas teh hangat dan dia duduk lalu Uwais juga duduk.


” Terima kasih” kata Naina dan Uwais mengangguk.” Untuk biaya rumah sakit, biar aku ganti”


” Apa harus? uang ku uang mu juga”


Naina terdiam, Uwais pandai sekali menimpali ucapannya.


” Lalu kenapa kamu berpura-pura menjadi dokter, kamu melecehkan aku?” tanya Naina dan dengan cepat menggigit bibir bawahnya kelu lalu menutupi dadanya dengan kedua tangannya.


” Bisa saja, tapi aku gak mau. Aku gak bisa menyentuh istriku yang sedang hilang ingatan, dan aku juga gak mau istriku di sentuh pria lain” tutur Uwais dan Naina entah kenapa merasa senang mendengarnya, dia merasa dilindungi. Dia selalu menuduh Uwais aneh-aneh, karena pertemuan keduanya selalu di waktu yang tidak tepat.


” Berhenti memanggil aku istri”


” Karena kamu memang istriku”


” Apa buktinya?”


" Mau bukti, kalau semuanya terbukti jelas janji pulang bersamaku?”


” Mana bisa begitu” Naina panik.


” Kamu istriku, aku bawa semua buktinya besok”


Naina terdiam, Uwais tersenyum lalu meminum teh hangatnya. Keduanya diam dan Uwais memperhatikan rak pakaian Naina yang rusak, Syam merusaknya karena marah. Uwais melangkah pergi dan Naina memperhatikan, dia mengambil paku dan palu.


” Bagaimana kamu tahu itu ada di sana?” tanya Naina.


” Setiap jengkal ruko kamu ini aku tahu semuanya, di lantai dua ada lemari, kasur kecil, meja, dan kamu sering mandi dengan tidak mengunci pintu” tutur Uwais dan Naina terkejut sekaligus malu. Naina menggaruk telinganya dan Uwais tersenyum melihat Naina gugup, Uwais memperbaiki rak pakaian di ruko Naina cukup lama. Setelah selesai dia merapihkan tumpukan pakaian yang berjatuhan ke lantai, Naina tertidur pulas dengan pipi menempel ke atas meja dan Uwais menoleh.


” Dia tidur” lirihnya lalu pergi untuk menyimpan semuanya. Tidak lama dia kembali dan mendekati Naina, Naina sangat lelah.


” Masih sama seperti dulu, kalau udah tidur di apa-apain juga gak sadar” kata Uwais sambil tersenyum. Uwais menggendong Naina untuk memindahkannya ke lantai dua, dia menaiki tangga perlahan. Uwais mendorong pintu dengan kakinya lalu merebahkan tubuh Naina perlahan, dia menarik selimut sampai ke leher istrinya. Uwais merasa tidak mau pulang, dia ingin tidur dengan Naina. Uwais merebahkan tubuhnya perlahan-lahan, dia masuk ke dalam selimut dan menatap istrinya lekat. Tangan Naina tiba-tiba jatuh dan merangkul tengkuknya, mungkin Naina mengira dia bantal guling.


” Jangan” jerit Uwais dalam hati saat merasakan juniornya menegang di bawah sana.” Jangan sekarang, sarang mu tidak akan menerima"


Uwais menggigit bibir bawahnya kelu, Naina malah bergeser lebih dekat dan bibirnya menempel di bibir Uwais, Uwais berusaha mundur tapi dia malah mencium bibir Naina sekilas. Sudah lama dia tidak melakukannya, Uwais berhenti dan takut kebablasan.


” Aku harus pergi” katanya berbisik, dia berusaha pergi tapi Naina terus menariknya.


” Bantal gak bisa diem” kata Naina lalu memukul dada Uwais yang dia kira bantal. Uwais membungkam mulutnya agar tidak menjerit. Naina malah menjatuhkan kakinya ke perut Uwais sekarang. Jelas bagaimana tidak semakin menegang si junior di bawah sana tapi Uwais tetap berusaha menahannya.


Keesokan paginya, pukul 05:30 pagi alarm di ponsel Naina berdering. Uwais benar-benar tidur bersama istrinya, Naina membuka matanya saat mendengar ponselnya berisik. Naina menatap dada besar pria di hadapannya tapi dia masih belum sadar. Naina bergeser mundur, betapa terkejutnya dia melihat seorang pria di sebelahnya dan dia adalah Uwais.


” Aaaa.." Jerit Naina, Uwais terkejut dan terbangun. Bokongnya di tendang kasar oleh Naina sampai Uwais terjatuh dari kasur. Uwais mengusap wajahnya kasar dan bangkit, dia bahkan tidak menggunakan kemejanya karena basah dan menjemurnya di kamar mandi.


” Keterlaluan” geram Naina.


” Kita tidak melakukan apapun, kita suami istri kamu semalam demam. Dan terus mengigau Naina”


” Tidak ada alasan, keluar” Naina menarik lengan Uwais dan menariknya agar segera pergi. Naina membuka pintu dan dia diam membeku melihat ketiga pegawainya sudah datang dan sedang berdiri di tangga lalu menatapnya dan Uwais, Ai dan Mia saling menyenggol sambil cengengesan. Melihat keadaan Naina dan Uwais saat ini, Uwais menggaruk alisnya karena mereka bertiga salah paham.


” Kami ke bawah dulu ya mbak, mas. Permisi” Ai pamit dan mengajak Dita dan Mia.


” Ayo, ayo ayo” kata mereka bertiga.

__ADS_1


Naina melirik Uwais dan melepaskan lengan Uwais.


” Aku minta maaf" lirih Uwais.


” Pergi” usir Naina.


” Oke, oke aku pergi. Tapi nanti aku datang lagi untuk membuktikan kalau aku suami kamu”


” Enggak usah, aku gak percaya dan aku gak perduli. Mana bisa aku punya suami seperti kamu, gak sopan dan gak bisa menghargai perempuan"


” Naina” berusaha menjelaskan tapi Naina masuk dan membanting pintu, Uwais meremas rambutnya frustasi. Dia menuruni tangga bertelanjang dada. Ai di telepon pemilik ruko sebelah untuk segera datang karena ruko Naina pintunya terbuka ditambah ada sebuah mobil di depan ruko, semua orang di sekitar ruko tahu suaminya Naina siapa tapi mereka takut Ruko Naina kemasukan maling. Uwais melangkah keluar dari ruko, dia meraba-raba kunci mobilnya dan Ai datang membawakan kunci mobil Uwais yang tergeletak di atas meja.


” Mas ini”


” Oke terima kasih” kata Uwais lalu membuka pintu mobil.


” Ekhem, mas. Ciye” goda Ai.


” Apaan kamu Ai” ketus Uwais dan Ai buru-buru masuk ke ruko, Uwais menggeleng kepala dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


****


Di rumah, Naura menunggu kepulangan papahnya. Uwais sudah pulang hanya saja dia langsung ke kamar untuk melaksanakan sholat subuh, Naura menoleh saat Bi Astri menepuk bahunya.


” Sarapan datang, Nau waktunya sarapan”


" Mau sama papah” Naura cemberut dan terus menggeleng kepala.


” Nau, Nau, Naura” kata Uwais dan Naura menoleh, Naura tersenyum dan turun dari sofa lalu memeluk kedua kaki panjang papahnya.


” Papah”


” Iya nak, maafin papah. Papah telat, anak papah sarapan dulu ya.”


” Mamah kapan pulang, papah?” tanya Naura, sedikit tidak jelas dan hanya Uwais yang mengerti.


” Hari ini”


” Sekarang?” kedua mata bulat Naura melebar, merasa bahagia mendapatkan kabar tersebut.


” Bos" tegur Bi Astri, dia takut Naura berharap banyak. Uwais menoleh lalu mengangguk, Uwais akan berusaha keras untuk membawa Naina kembali ke sisinya. Dia tidak bisa lama-lama membiarkan Naina sendiri sementara Syam masih dengan nafsu dan obsesi kepada istrinya itu.


” Mana mungkin papah bohong, ayo sarapan. Naura mau ketemu mamah kan?"


Naura mengangguk.


” Iya mangkanya, sekarang sarapan dulu”


Naura mengangguk dan Uwais mengajak Naura untuk sarapan bersamanya, bi Astri menyusul dari belakang. Di kamar Fatin, Zidan masuk membawa seember air.


Byur! air tumpah ke wajah dan ke tubuh Fatin, Fatin yang tertidur lelap seketika bangun dengan gelagapan.


” Zidan!" teriak Fatin kesal.


” Kamu kerja disini, bukan nyonya. Jam segini pelayan masih tidur” ketus Zidan.


” Aku baby sitter bukan pelayan”


” Apa bedanya b*go" maki Zidan dan dia keluar dari kamar Fatin, Fatin kesal dan Zidan tidak perduli. Fatin selalu bersantai dan pelayan lain mengambil alih pekerjaannya. Zidan berharap Naina segera kembali, jika Naina ada tidak ada alasan Naura merindukan Fatin yang selalu mengurusnya dengan tidak benar.


*****


Hancur.


Fatma mendekap tubuh Syifa, Syam sedang mengamuk di kamar dan membuat Syifa ketakutan. Satpam terpaksa menelepon Asil. Asil dan suaminya datang dan khawatir dengan keadaan Syifa dan Fatma yang sedang hamil.


” Mas, cukup!” teriak Fatma.


" Diam kamu” bentak Syam.


” Ayah” lirih Syifa.


” Diam kamu anak bodoh”


" Mas, gak pantes kamu ngomong kayak gitu sama Syifa. Syifa anak kita” Fatma tidak terima.


” Dia anak haram, jika bukan karena kebaikan ku dia sudah terlunta-lunta di jalanan”

__ADS_1


Fatma diam merasa sakit hati atas ucapan Syifa, keduanya tidak bisa keluar dari kamar. Di luar kamar Aldi berusaha mendobrak pintu.


” Ayo mas" kata Asil dan satpam datang membantu.


” Sekali lagi" seru Aldi saat melihat pintu mulai merenggang.


Brug! pintu akhirnya bisa di dobrak. Asil menyerobot masuk dan menampar adiknya.


” Cukup Syam cukup, gila kamu gak ada puas puasnya bikin onar. Malu sama tetangga, Syifa juga ketakutan. Sadar kamu Syam, Istighfar” Asil marah dan Syam diam, Syam duduk di tepi ranjang. Beberapa pembangunan yang Syam pegang merugi, bangunan rubuh padahal sudah 70% di bangun. Sebagai arsitek dia disalahkan karena dianggap apa yang dia susun tidak memenuhi standar keamanan sampai banyak yang menjadi korban, mau tidak mau Syam harus mengganti semuanya. Dia harus menjual dua mobilnya.


” Aku bangkrut mbak”


” Dunia bisa di cari, tapi kamu menyakiti anak dan istri kamu Syam"


” Fatma hamil anak pria lain mbak, bukan anak aku. Gimana aku gak pusing”


" Demi Allah mbak, aku memang pernah selingkuh tapi ini anak mas Syam. Aku berani tes DNA sekarang juga mbak” Fatma buru-buru menimpali, Asil diam sejenak. Fatma salah dan Syam juga salah disini.


” Bawa Syifa” titah Aldi kepada baby sitter.


” Masih berani bohong kamu Fatma” bentak Syam.


” Diam kalian berdua" bentak Aldi.” Kita telepon keluarga besar kita, ini masalah rumit. Fatma, kamu hubungi selingkuhan kamu itu” tegas Aldi, Fatma menundukkan kepalanya merasa malu..Di saat dia sudah berubah, kesalahan masa lalunya membuat kehidupannya hancur, penilaian keluarga Syam sudah pasti buruk jika begini. Lalu bagaimana nasibnya dan anaknya yang tidak diakui Syam, Fatma merasa stres.


****


Di ruko.


Naina menemukan dompet Uwais yang tertinggal, dia iseng membukanya mungkin ada nomor yang bisa dia hubungi di sana. Naina terkejut saat membuka dompet, ada fotonya dan Uwais saat di Turki terselip di dompet tersebut. Naina mengucek matanya pelan, merasa salah atas penglihatannya tapi saat dia lihat lagi itu benar dirinya.


” Ini aku” lirih Naina.


Naina keluar dari kamarnya dan menuruni tangga untuk mencari Ai.


” Ai” teriaknya, Ai tahu segalanya tentang dirinya dan Naina merasa Ai bisa di percaya.


” Kenapa mbak?” tanya Naina.


” Ikut” ajak Naina seraya menarik tangan Ai dan mengajaknya ke lantai dua ruko, Ai bingung dan Naina ingin berbicara serius.


” Ada apa mbak?”


” Lihat ini baik-baik, ini aku atau bukan?" Naina memperlihatkan foto di dompet Uwais dan Ai mengangguk.


” Itu mbak Naina, bener”


” Ai, aku cuma percaya sama kamu. Aku butuh kepastian, aku beneran bingung. Semalam mas Syam hampir melakukan hal yang enggak-enggak sama aku untungnya pria ini ada, dan apa yang kalian lihat tadi pagi itu salah paham.” Tutur Naina.


” Mas Syam kurang ajar” Ai kesal.” Mbak gak kenapa-kenapa kan? untung ada mas Uwais”


” Aku gak apa-apa Ai, kalau aku melakukan kesalahan sebagai sahabat kamu seharusnya menyadarkan aku Ai. Aku bersama pria semalaman ini, tapi sumpah kami gak ngapa-ngapain aku tidur di bawah tapi tiba-tiba pas bangun udah disini”


” Ngapain aku negur mbak, mbak sama mas Uwais gak salah karena kalian suami istri. Mau hoho hihi sampai pagi juga terserah” goda Ai dan Naina membuang nafas frustasi.


” Kenapa kamu yakin kalau dia suami aku Ai?”


” Mudah-mudahan mbak cepet ingat semuanya, dua tahun yang lalu mbak sama mas Uwais menikah. Mbak seorang janda waktu itu, nah pria gila kemarin mas Syam mantan suami mbak. Mbak coba ingat-ingat mas Uwais siapa, dia suami mbak. Aku, Dita, Mia tahu dia suami mbak semua orang di lingkungan komplek ruko ini tahu suami mbak siapa. Uwais salam suaminya mbak Naina Inayah” tutur Ai panjang lebar dan Naina mendengarkan dengan tenang.


” Mbak Nai, ada mas Uwais" teriak Mia.


Naina dan Ai saling menatap satu sama lain, dan Uwais menaiki tangga menuju lantai dua ruko tersebut.


Tok tok tok


Uwais mengetuk pintu.


” Masuk mas” sahut Ai.


” Ai" Naina menarik-narik baju Ai.


” Mbak, kasih mas Uwais kesempatan buat jelasin semuanya. Mas Uwais pria baik-baik itu sebabnya mbak Naina mau menikah sama mas Uwais dulu, kasih mas Uwais kesempatan buat bicara. Mbak percaya kan sama aku, aku gak mungkin mengarang cerita” Ai meyakinkan Naina lalu Naina mengangguk. Ai bangkit dari duduknya dan keluar lalu melihat Uwais membawa tas besar berisi semua bukti jika dia adalah suami Naina.


” Mas, masuk ayo” titah Ai.


” Dia lagi ngapain?”


” Mas Uwais jelasin semuanya, mbak Naina pasti percaya sekarang. Jangan lupa Naura”

__ADS_1


Uwais mengangguk.


__ADS_2