Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Jalan-jalan


__ADS_3

Uwais pulang cepat hari ini, untuk mengajak istri dan putrinya jalan-jalan. Naina dia perhatikan tadi pagi masih terlihat was-was, takut dengan orang-orang yang dia temui. Uwais susah payah meyakinkan istrinya itu semalaman, supaya tidak stress memikirkan hal yang tidak-tidak.


”Mas” imbuh Naina, dia bingung melihat suaminya sudah pulang. Memang ada rencana jalan-jalan, tapi semalam suaminya bilang sore.


”Bagaimana keadaan kamu?” tanya Uwais dan mencium bibir istrinya sekilas setelah Naina menyalami tangannya, Naina mencubit dada suaminya itu kesal karena menciumnya sembarangan. Uwais malah tersenyum lebar.


”Mas..”


”Dimana Naura?” mengalihkan pembicaraan.


”Lagi main, kata bi Astri ada baby sitter baru? aku sudah ada untuk mengurus Naura mas, apa perlu baby sitter lagi?” Naina trauma dengan baby sitter lancang itu.


”Untuk memudahkan pekerjaan kamu, kamu yang berhak untuk mengurus Naura. Baby sitter hanya membantu, aku sudah memilih yang baik. Yang bisa menjaga Naura dan menghargai mu” tutur Uwais dan Naina tersenyum." Baby sitter nya nanti sore datang, sekarang kamu siap-siap. Kita akan jalan-jalan”


Naina mengangguk antusias, Uwais pergi untuk menyusul Naura dan Naina pergi untuk bersiap.


****


Sementara itu, di tempat lain. Syam sedang diam memperhatikan layar komputer yang memperlihatkan bayinya di dalam kandungan Fatma. Fatma memaksa, agar Syam menemaninya ke dokter. Syam masih ragu, hatinya tidak terketuk sama sekali walaupun sudah melihat bayinya.


”Itu adek aku Bu?" tanya Syifa, dia senang melihat adiknya.


”Iya nak, itu adik kamu” jawab Fatma. Setelah USG selesai, Fatma merapihkan bajunya kembali. Dokter wanita itu hanya diam, melihat ketidakpedulian yang ditunjukan Syam pada istrinya. Fatma diam mendengarkan dokter memintanya untuk jangan stress, bagaimana Fatma tenang. Anaknya diragukan, dia bahkan pisah rumah dengan suaminya sendiri. Setelah semuanya selesai, ketiganya melangkah pergi keluar dari rumah sakit.


”Masuk" titah Syam kepada Syifa.


”Ayah" Syifa bingung dan menatap ibu dan ayahnya bergantian.


”Masuk” suara Syam meninggi, Syifa masuk dan Syam menutup pintu mobil, terlihat Syifa sudah berkaca-kaca akan menangis.


”Jangan kasar-kasar sama Syifa mas, kalau kamu mau marah sama aku aja” ucap Fatma dan Syam mendengus sebal.


”Jangan pernah meminta aku untuk datang dengan menelepon mama aku Fatma, aku sedang sibuk dan gak ada waktu untuk meladeni keinginan kamu” Syam kesal, Fatma menelepon mama Novi agar bisa membujuk Syam untuk menemaninya ke rumah sakit.


”Kamu menemani istri kamu sendiri mas, ini anak kamu. Apa kamu masih gak percaya juga? apa kamu gak mau kembali sama-sama sama aku mas?” suara Fatma berat, dia melangkah dan meraih tangan suaminya tapi langsung ditepis kasar oleh Syam.


”Aku jijik, jangan sentuh aku Fatma. Sampai anak itu lahir jangan sampai harap aku percaya itu anakku, setelah lahir kita buktikan semuanya lewat tes DNA dan untuk sekarang jangan ganggu aku” tegas Syam, Fatma diam dan kedua matanya berair. Keduanya saling menatap lekat dan Fatma sama sekali tidak melihat tanda-tanda sedikitpun rasa iba dan kasih sayang dari suaminya, penyesalan kembali muncul. Fatma menyesal sudah menikah dengan Syam tapi dia tidak pernah menyesal karena sudah mengandung bayi dari pria kasar itu.


”Kita ketemu lagi nanti setelah anak itu lahir, uang belanja kamu akan aku transfer seperti biasa” tutur Syam, dia membuka pintu mobil lalu masuk. Fatma diam, butiran air matanya jatuh menetes membasahi pipinya. Syifa dari dalam mobil menatapnya lekat, Fatma langsung mengusap air matanya dan melambaikan tangan. Dia tidak mau Syifa melihatnya menangis, mobil Syam melaju kencang meninggalkan area parkir rumah sakit. Meninggalkan Fatma begitu saja.


”Kalau anak kita sudah lahir, dan tes DNA menunjukan bahwa ini anak kamu. Aku akan mengajukan perceraian mas, lihat saja nanti” tegas Fatma, dia pun melangkah pergi dan mencari taksi untuk segera pulang.


*****


Di Mal, di sebuah tempat arena bermain. Naina, Uwais dan Naura terlihat sangat bahagia. Naina menemani Naura bermain dan Uwais mengabadikan momen keduanya dengan kamera ponselnya, Uwais berhenti tersenyum saat panggilan masuk dari kakeknya muncul.


”Assalamu'alaikum?”


”Wa'alaikumus Salaam, Uwais kakek mau pulang.”


”Aku urus semuanya, tapi tolong tinggal saja disini. Naina juga sudah kembali, rumah akan lengkap kalau ada kakek. Kakek sudah berumur, kapan sadar?” tutur Uwais dan dia pusing dengan sikap kakeknya yang semakin keras kepala.


”Ya, kakek janji akan tinggal bersama kalian. Pinta Zidan menjemput kakek langsung” pinta kakek.

__ADS_1


”Iya” Uwais mengiyakan, tidak lama panggilan berakhir. Uwais menelepon Zidan dan Naina sesekali memperhatikannya.


”Mas Uwais ngobrol sama siapa sih dari tadi” gumam Naina, rasa cemburu tiba-tiba muncul dan dia terlihat kesal.


”Mah, mau main itu” pinta Naura.


”Ayo sayang” Naina mengiyakan, Naura sangat senang bisa bermain dengan ibunya. Setelah cukup lama, Naura main sendiri. Naina menoleh saat Uwais berdiri di belakangnya.


”Kenapa kamu terlihat sedih sayang?”


”Teleponan sama siapa?” ketus Naina bertanya.


”Sama kakek terus sama Zidan, kamu pikir aku teleponan sama siapa? cemburu?” Uwais berbisik, dia tersenyum dan Naina mendelik sebal lalu menoleh padanya.


”Aku gak ingat cemburu itu apa?"


”Oh iya?" Uwais tersenyum lagi.


Naina menyikut dada suaminya itu kesal dan Uwais terkekeh sambil memegang dadanya. Setelah bermain dan merasa lelah, Naura mengeluhkan lapar dan akhirnya Uwais mengajak istri dan anaknya ke sebuah restoran. Uwais memesan makanan untuk tiga orang dan Naina memperhatikannya.


”Mas, apa dulu kita sering jalan-jalan?”


”Sering, apalagi saat awal-awal menikah dan kamu hamil. Kita sering jalan-jalan, dulu berdua dan sekarang sudah bertiga. Semoga segera 4, adiknya Naura" ucap Uwais dan Naina melebarkan matanya mendengar ucapan suaminya itu.


”Iya Nau, punya adek bayi mamah” seru Naura dan Naina terkejut.


”Mas” Naina berbisik.


”Kenapa? kita harus memiliki 5 orang anak. Aku mau 5 orang anak, supaya rumah rame" Uwais tersenyum dan Naina tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya. Setelah makanan datang, ketiganya menikmati makan siang bersama. Naina memperhatikan Uwais yang menyuapi Naura, kegiatan yang sudah Uwais lakukan sejak lama.


”Coba ini" ucap Uwais dan menyuapi istrinya, Naina menerimanya dan Uwais mengusap bibirnya lembut.


Naura tersenyum melihat ayahnya menyuapi ibunya seperti itu, tersenyum cengengesan. Setelah makan siang bersama, Uwais mengajak Naina dan Naura untuk mencari pakaian.


”Ini bagus sayang?” ucap Uwais, dia memperlihatkan sebuah pakaian lingerie seksi berwarna Milo, sontak Naina menepis tangan suaminya dan menyimpan baju itu kembali.


”Mas” Naina malu.


”Aku suka apalagi kalau kamu yang memakainya” ucap Uwais dan Naina kesal. Uwais tetap mengambil baju tersebut.


”Papah” rengek Naura, dia mengantuk dan Uwais langsung menggendongnya.


”Anak mamah ngantuk ya, tidur ya sayang” ucap Naina.” Kita pulang mas”


”Aku bayar semuanya sebentar”


”Biar Nau aku yang gendong mas”


”Enggak usah, biarin aku aja”


Naina mengangguk, Uwais membayar semuanya dan Naina yang membawanya. Keduanya melangkah pergi untuk segera pulang.


*****

__ADS_1


kedatangan Rizal..


Di ruko, Ai sedang mengobrol dengan Rizal yang baru datang. Rizal kuliah di luar kota, dia berusaha melupakan Naina tapi tak bisa. Rizal baru tahu jika Naina sedang sakit, Ai menyambutnya dengan baik. Karena Rizal memang tidak akan macam-macam.


”Dia pasti ingat sama aku” ucap Rizal begitu yakin.


”Jangan kan sama kamu, sama orang tuanya aja gak inget” ujar Ai dan Rizal diam lalu meminum minumannya.


”Beneran gak inget apa-apa? aku belum pernah ketemu orang yang amnesia, kasihan Bu Naina” lirih Rizal dan Ai mengangguk.


”Mas Syam bahkan pernah berulah, terus memanfaaatkan kondisi mbak Nai” ujar Ai dan Rizal terkejut mendengarnya.


”Gak ada bosan-bosannya dia menganggu Bu Naina” Rizal geram dan Ai tersenyum melihat reaksinya.


”Kamu masih menyukai mbak Naina?" tanya Ai, dan topik pembicaraan keduanya mulai serius.


”Aku berusaha ikhlas, tapi belum bisa.” Suara Rizal serak.


”Cinta itu gak selamanya bisa bersama dan saling memiliki, semoga kamu bertemu dengan gadis yang baik-baik, lebih baik dari mbak Naina” Ai tersenyum dan Rizal mengangguk.


”Apa dia datang setiap hari?”


”Kadang dua hari sekali, mas Uwais membatasi mbak Naina keluar dari rumah untuk kebaikan mbak Naina sendiri”


”Ai, apa kamu bisa memberi tahu aku kalau mbak Naina datang kemari?” pinta Rizal dan Ai mengangguk. Rizal tersenyum tipis, dari kejauhan Ali memperhatikan keduanya. Dia tidak suka melihat Ai terus tersenyum kepada Rizal.


*****


baby sitter baru...


Uwais sedang bersama dengan seorang wanita di ruangan kerjanya, baby sitter baru untuk Naura yaitu Eva. Eva diam menunggu, Zidan sedang pergi untuk mengajak Naina datang ke ruangan kerja suaminya. Uwais dan Eva menoleh, dia melihat Naina masuk.


”Kemari sayang” pinta Uwais, Naina mendekati suaminya dan memperhatikan Eva yang tersenyum padanya.” Dia Eva, baby sitter baru untuk Naura. Eva, ini istri saya. Apapun yang istri saya katakan kamu harus menuruti nya” ujar Uwais dan Eva mengangguk.


"Bu Naina, saya Eva. Saya akan bekerja dengan baik dan menjaga Naura dengan baik” tutur Eva, Naina tersenyum dan merasa senang mendengarnya.


”Semoga betah bekerja disini” ucap Naina dan Eva mengangguk.


”Sekertaris saya akan membawa kamu ke kamar, satu permintaan saya. Jaga kebersihan, karena saya tidak mau anak saya diasuh oleh orang yang jorok" ucap Uwais dan Eva mengangguk." Kamu boleh pergi.”


”Permisi pak, bu” Eva pamit dan suami istri itu mengangguk.


Naina tersenyum dan Eva keluar, Uwais bangkit dari duduknya dan meminta Naina duduk di kursi nya itu.


”Dia terlihat baik, aku yakin Naura akan cocok sama dia mas” ujar Naina dan Uwais mengangguk.


”Kalau ada hal yang mencurigakan, bilang sama aku Naina”


”Tentu mas” Naina tersenyum dan Uwais juga tersenyum. Uwais mengelus pipi istrinya itu lembut, dia mendekat untuk menciumnya tapi Naina memalingkan wajahnya lalu bangkit berusaha kabur tapi Uwais meraih pergelangan tangannya, menariknya dan memeluknya.


”Aku sudah menunggu cukup lama, supaya kita bisa sama-sama lagi. Apa masih ada keraguan di hati kamu sayang?” tutur Uwais dan Naina langsung menggeleng kepala.


”Bagaimana bisa aku ragu, sementara kamu ayah yang baik dan mengurus Naura sendirian. Aku kagum sama kamu mas" Naina tersenyum dan Uwais juga tersenyum. Uwais melepaskan pelukannya dan Naina mencium pipi suaminya itu lembut. Kedua mata Uwais nampak berbinar-binar, dia senang Naina menciumnya. Tidak lama, keduanya memutuskan untuk segera pergi ke kamar dan beristirahat.

__ADS_1


Di kamar Eva, gadis itu merebahkan tubuhnya yang lelah. Setelah sekian lama menganggur, akhirnya dia memiliki pekerjaan. Tidak tanggung-tanggung, dia bekerja di rumah orang kaya raya, terpandang dan tanggung jawabnya cukup berat yaitu Naura.


”Jutek sekali dia” imbuh Eva tiba-tiba, dia tidak habis pikir bagaimana bisa ada pria sedingin Zidan. Dan juga sedikit kasar.


__ADS_2