Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Pulang ke rumah


__ADS_3

Hari ini Naina kembali pulang bersama suami dan adiknya Kabir, Naina terus memperhatikan Kabir yang duduk di belakang bermain ponsel sambil cengengesan.


” Aku udah pulang ke Jakarta, kita ketemu mau gak?” pesan terkirim. Kabir sedang berkirim pesan dengan Fatma.


” Dimana?” balas Fatma dan Kabir tersenyum.


” Di kafe, aku kirim alamatnya nanti. Emm, besok bisa?” pesan terkirim.


Cukup lama Kabir menunggu pesan balasan dari Fatma.


” Oke” singkat Fatma dengan emoticon senyuman lebar dan Kabir tersenyum.


” Kabir!” tegur Naina dan Kabir kaget.


” Eeemm,, iya mbak?”


” Kamu lagi ngapain?”


” Enggak ngapa-ngapain, lagi main game. Aku menang terus ye ye ye hehehe” iya menang, memenangkan hati Fatma. Naina menggeleng kepala dan dia kembali menatap ke depan, Uwais sedang mengemudi.


” Mas rujak itu enak kali ya" tunjuk Naina, saat melihat penjual rujak di gerobak dan mangkal di trotoar.


” Iya kita beli ya” Uwais mengiyakan dan melambatkan laju mobilnya, dia keluar untuk membeli apa yang Naina mau. Naina diam memperhatikan suaminya. Dia mengelus perutnya, dia sedih dan mengingat saat-saat dia hamil tapi dia keguguran. Syam juga sering membelikan apa yang dia mau jika dia bisa, tapi setelah kehadiran Amira Syam benar-benar tidak lagi perduli padanya.


” Mbak” tegur Kabir dan Naina tersadar dari lamunannya.


” Apa?” Naina menoleh.


” Melamun” imbuh Kabir dan Naina kembali menatap ke depan, dia terlihat panik suaminya tidak ada di depan gerobak penjual rujak. Naina menoleh dan tersenyum saat Uwais masuk setelah membuka pintu mobil.


” Nih” kata Uwais dan Naina menerimanya.


” Terimakasih mas"


” Sama-sama” Uwais tersenyum lalu mengelus pucuk kepala istrinya lembut dan Kabir di belakang mendengus sebal." Makan" titahnya lalu Naina mengangguk. Naina menikmati makanan yang dia inginkan itu dan Uwais memperhatikannya, Uwais tersenyum simpul.


Sesampainya di rumah Kabir turun duluan, Uwais memperhatikan Naina yang tertidur pulas.


” Kamu gak mau bangun sayang?”


” Bentar lagi" jawab Naina tapi matanya tetap tertutup lalu memalingkan wajahnya. Uwais mencium pipi istrinya berkali-kali dan Naina bangun dengan benar.


” Bangun gak?”


” Iya mas iya, aku bangun” Naina membuka pintu mobil dan hendak keluar, tapi Uwais menarik tengkuknya lalu mencium bibir istrinya sekilas. Naina diam dan kedua matanya membulat, Uwais dan Naina saling menatap lekat lalu keduanya tersenyum. Naina menempel keningnya di kening suaminya dan Uwais tersenyum.


” Ayo keluar” ajak Naina dan Uwais mengangguk.


Akhirnya keduanya keluar dari mobil dan disambut oleh kakek yang juga ada di rumah ternyata.


” Assalamu'alaikum” imbuh Naina dan Uwais.


” Wa'alaikumus Salaam" jawab kakek sambil tersenyum." Gimana kabar kalian berdua? bulan madunya lancar kan?" begitu antusias bertanya.


” Emmm” Naina bingung dan menatap suaminya lekat.


” Lancar dong" kata Uwais dan Naina terlihat malu-malu, kakek tersenyum lebar.


” Ayo ayo masuk, kalian semua pasti capek" ajak kakek, dan Naina memperhatikan pos satpam yang sedang di perbaiki. Kabir juga terlihat ada di sana.


” Ada apa sebenarnya?" tanya Kabir kepada Zidan.


” Ada yang meneror bos dan kakak mu" kata Zidan dan Kabir terkejut.


” Teror lagi? apa bang Uwais dan mbak Naina akan baik-baik saja? aku khawatir” lirih Kabir dan Zidan menepuk bahunya.

__ADS_1


” Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi kepada kalian semua" tuturnya untuk membuat Kabir tenang dan Kabir terdiam. Dia khawatir kepada semua orang.


*******


Di toko Naina, Ai sama sekali tidak ada datang dan tidak menghubungi Naina juga. Ali diam memperhatikan toko Naina yang banyak didatangi pembeli tapi mereka putar balik dan Naina juga belum mengaktifkan nomor ponsel khusus semua customer nya sehingga dia tidak tahu apa-apa.


” Akbar, kemari” panggil Ali dan Akbar datang.


” Iya mas kenapa?”


” Kamu ada masalah apa sama Ai? dia gak buka toko dari kemarin. Naina juga belum ada datang” ujar Ali dan Akbar dia.” Jawab, aku gak suka kamu bersikap begini”


” Emmm, mungkin Ai sakit mas" tutur Akbar dan suaranya terdengar gemetar. Ali diam dan Rosa yang baru turun memperhatikan keduanya.


” Apa Naina terlibat dalam masalah kalian berdua?" tanya Ali lagi.


” Oh kamu masih sibuk mengkhawatirkan janda itu ya mas!" teriak Rosa menimpali, Ali dan Akbar menoleh begitu juga dengan para pembeli. Ali bergegas mendekati istrinya, Rosa selalu tidak terkontrol jika sedang cemburu.


” Jangan bicara seperti itu, siapa janda? Naina sudah menikah” tegas Ali.


” Kamu masih sayang kan sama dia? ingat ya mas hubungan kita di dukung oleh dua pihak keluarga gak kayak hubungan kamu sama Janda itu" ketus Rosa, tiba-tiba Ali meraih pergelangan tangannya dan menariknya untuk pergi ke lantai dua." Mas lepas"


Brug! suara pintu tertutup dan Akbar diam.


” Keterlaluan kamu" tegas Ali dan menatap tajam istrinya, Rosa ketakutan melihat Ali seperti itu.


” Mas,” lirihnya.


” Naina gak pernah macam-macam, panggil dia dengan sebutan yang baik. Jangan sampai aku memulangkan kamu Rosa" tegas Ali.


” Kamu tega bilang begitu sama aku mas?"


” Karena kamu susah diatur, di bawah banyak pembeli kamu pikir aku gak malu? aku bukan hanya butuh seorang istri untuk menyempurnakan ibadah ku tapi aku juga butuh seorang istri yang menghormati ku. Hormati aku Rosa” suara Ali berat, tapi tegas dan mencengkram kuat bahu istrinya. Rosa diam dan tiba-tiba air matanya menetes. Karena takut kebablasan dengan amarahnya Ali memilih pergi dan Rosa menangis tersedu-sedu di lantai dua toko tersebut.


*****


Hari ini, keduanya sepakat untuk bertemu. Kabir tidak masalah walaupun Fatma lebih tua dari nya. Perbandingan usia keduanya 5 tahun. Kabir duduk di sebuah kursi taman, dia berpakaian rapih saat ini bahkan memakai kemeja mewah berwarna hitam milik Uwais, sedikit kendur tapi membuatnya terlihat sangat gagah. Kabir tersenyum saat melihat seorang gadis terlihat kebingungan sambil melirik kanan-kiri, Kabir bangkit lalu mengangkat tangannya ke udara. Dan Fatma tersenyum lalu melangkah ke arahnya.


” Maaf aku telat” imbuh Fatma.


” Enggak masalah” jawab Kabir gugup, sekarang di bingung harus membahas apa dengan seorang gadis seperti Fatma.


” Bu Naina tahu kita ketemuan?” tanya Fatma tiba-tiba dan Kabir menggeleng kepala. Fatma tersenyum dan dia merasa tenang jika Naina tidak tahu.


” Sudah makan?” Kabir benar-benar bingung dan Fatma menatapnya.” Maaf, pertanyaan ku benar-benar aneh ya?"


” Enggak, aku memang belum makan. Mau makan dimana?” Fatma tersenyum.


” Ada restoran tidak jauh dari sini, restoran milik kakak ipar ku. Tempatnya sangat cocok untuk ngobrol di sana. Gimana?"


” Boleh” Fatma menjawab seraya mengangguk, dia setuju dan Kabir bangkit lalu keduanya melangkah bersama. Kabir membawa motor yang menganggur di garasi rumah Uwais, Naina tidak tahu tapi dia susah mendapatkan izin dari Uwais.


” Pakai ini" Kabir memberikan helm dan Fatma menerimanya, Fatma memakainya dan dia kesusahan mengaitkan helm nya.


” Tolong” imbuh Fatma, Kabir menoleh dan melihat Fatma kesusahan. Dia membungkuk sedikit lalu memakaikan helm kepada gadis itu dan memperhatikan wajah Fatma yang mendongak sedikit. Kabir tersenyum dan selesai.


” Jangan ngebut ya” pinta Fatma.


” Siap” Kabir tersenyum, Fatma naik dan refleks memeluk Kabir karena Kabir sengaja. Fatma melepaskan pelukannya dan terlihat canggung, Kabir tersenyum lalu motor pun melaju dengan kecepatan sedang.


***


Kekhawatiran Naina, Naina sedang berada di kantor suaminya. Untuk pertama kalinya dia datang, Naina menyiram bunga kaktus di meja sebelah kaca jendela. Bibirnya tersenyum lebar dan sembari menunggu kedatangan suaminya yang masih meeting.


” Bos sudah menikah” desas-desus para karyawan.

__ADS_1


” Jangan-jangan wanita itu hamil duluan" imbuh yang lain.


” Terlihat seperti muslimah yang baik, tidak mungkin lah.” Timpal yang lain.


” Resepsi pernikahan bos sebentar lagi, keduanya menikah bulan November tahun lalu. Baru beberapa bulan dan apa terlihat perut istrinya besar? kalau memang hamil duluan? tidak kan. Kalau ngomong jangan sembarangan” tegas Zidan yang mendengar obrolan para karyawan itu, semuanya diam dan Uwais yang muncul dari balik tembok bersama bodyguardnya terdiam sejenak melihat Zidan sedang marah-marah.


" Ada apa?" tanya Uwais. Semuanya semakin tertunduk dalam.


” Tidak apa-apa" jawab Zidan.” Bu Naina sudah menunggu bos”


” Oke" singkat Uwais lalu menoleh meminta bodyguard berhenti mengikutinya termasuk Zidan, Uwais melangkah pergi sembari melepaskan jas nya dan mengendurkan dasinya. Dia mengetuk pintu lalu masuk dan terlihat Naina menoleh dengan tangan memegang gelas.


” Assalamu'alaikum” Uwais tersenyum.


” Wa'alaikumus Salaam" jawab Naina, dia letakkan gelas dan memeluk suaminya erat tiba-tiba. Uwais tersenyum, memeluk tubuh istrinya dengan satu tangannya lalu tangan kirinya meletakkan jas dan dia kini memeluk istrinya dengan kedua tangannya.


” Lama ya?”


” Enggak mas”


” Kenapa tiba-tiba mau kemari? di toko gimana? ada kabar dari Ai?”


Naina melepaskan pelukannya tiba-tiba. Tangan Uwais masih di pinggang istrinya dan Naina merapihkan kemeja suaminya.


” Kayaknya ada masalah, tapi Ai juga gak bisa di telepon mas. Aku khawatir, aku izin mau ke rumah Ai ya”


” Jauh gak?”


" Enggak mas gak jauh”


” Boleh, aku antar nanti. Nanti malam aja ya aku ada urusan sekarang”


” Mau pergi?” Naina memeluk suaminya lagi dan Uwais menjatuhkan dagunya di bahu Naina.


Brak!


” Bos” seru Zidan tiba-tiba masuk setelah membuka pintu. Naina mendorong dada suaminya dan pelukan keduanya terlepas.


” Keluar!” tegas Uwais kesal.


” Maaf, maaf” Zidan gugup dan dia keluar lalu menutup pintu lagi, bisa-bisanya dia lupa kalau ada Naina dan jelas Naina dan Uwais pasti tidak akan hanya diam saja.


” Mas, aku mau pergi aja” kata Naina. Dan Uwais melemparkan tas istrinya ke sofa. Dia tidak akan melepaskan Naina begitu saja. Naina terlihat gelisah dan melirik lirik pintu terus-menerus padahal Uwais sedang menciumi bibirnya, Uwais melepaskan ciumannya dan terlihat kesal.


” Bisa fokus gak?" kesal.


” Nanti ada yang masuk lagi mas”


” Enggak bakal ada”


Naina tersenyum dan Uwais menciumnya lagi.


****


Malam hari tiba, Naina dan Uwais datang ke rumah Ai untuk bertemu dengan Ai. Uwais diam dan keluarga Ai memperhatikan keduanya.


” Ada apa ya mbak Nai?” tanya Ibu Ai.


” Saya khawatir karena Ai gak ngasih kabar sama saya, kemarin juga gak buka toko. Kalau mau berhenti gak apa-apa, mungkin Ai capek. Atau saya yang punya salah saya minta maaf” lirih Naina, Ai bahkan tidak keluar dari kamarnya saat ini.


” Iya kami juga bingung, kami kira Ai sakit menghubungi mbak Naina. Ai kami titipkan sama mbak Naina karena mbak Naina bisa dipercaya. Ai lagi sakit tapi dibawa ke klinik gak mau mbak kami juga bingung” ujar kakak Ai dan Naina mengangguk.


” Kalau boleh saya mau ketemu sama Ai” pinta Naina.


” Iya mbak silahkan”

__ADS_1


Naina tersenyum lalu menoleh kepada suaminya dan Uwais mengangguk mengijinkannya.


__ADS_2