Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Kembali ke rumah


__ADS_3

Setelah dari taman ketiganya meninggalkan taman, untuk pertama kalinya Naura melihat bagaimana tempat tinggal Naina di ruko. Naura berlarian kesana-kemari bertelanjang kaki di antara rak pakaian tersebut, Naura sedang bermain bersama Dita dan Mia karena dia mengenalnya. Naura lumayan susah bergaul, dia tidak mudah akrab dengan orang yang baru dia temui. Di lantai dua Naina sedang membereskan pakaiannya dibantu oleh Uwais.


” Aku bisa sendiri” kata Naina dan Uwais meggeleng kepala.


” Enggak usah jutek jutek sama suami, dosa” kata Uwais dan Naina terkejut mendengarnya, Uwais yang akan pergi tiba-tiba di hentikan oleh Naina.


” Ya sudah bantuin” kata Naina dengan sedikit merengek agar Uwais tidak marah. Uwais tersenyum lalu membantu Naina kembali, setelah selesai berkemas Naina merebahkan tubuhnya yang terasa lelah lalu Uwais juga berbaring di sebelahnya dan Naina terkejut, dia ingin bangkit tapi Uwais menekan perutnya.


” Mamah” teriak Naura, Uwais buru-buru menjauh dan memunggungi Naina. Naina tersenyum melihat Naura datang dibantu Dita dan Naura merebahkan tubuhnya di antara Uwais dan Naina. Naura dan Naina berhadapan dan Uwais pun berbalik.


” Naura seneng ketemu mamah?”


” Seneng” jawab Naura sambil tersenyum lebar.


” Papah juga seneng" kata Uwais dan Naina menatap ke arah lain. Naura yang tidak mengerti dengan tingkah ibu dan ayahnya hanya tersenyum.


Setelah beristirahat sejenak, akhirnya Naina di bawa pulang oleh suaminya. Naura duduk di pangkuan Naina, Uwais menyetir dengan kecepatan sedang. Mobil melaju menuju rumah besar. Naina belum pernah merasakan kebahagiaan seperti itu, kebahagiaan yang dia rasakan seperti berkumpul dengan Uwais dan Naura saat ini. Naura yang tidak tidur siang karena antusiasnya ingin bertemu dengan Naina kini terlelap di pangkuan Naina. Naina yang melihat Naura tidur merasa mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Uwais.


” Aku mau meminta sesuatu” kata Naina dan Uwais menoleh sekilas.


” Apa?”


” Aku mau tidur di kamar lain” kata Naina lalu memalingkan wajahnya, Uwais terlihat tidak suka dengan ucapan Naina tapi dia tetap berusaha untuk tenang.


” Aku tidur di pos satpam" kata Uwais dan Naina terkejut.


” Kenapa begitu?”


” Bukannya kamu gak mau sekamar dengan suami kamu ini? Naura saja tidur sama aku masa kamu gak mau.” Uwais sedikit ketus.


Naina diam dan mengerucutkan bibirnya kesal. Uwais meliriknya sesekali lalu menjepit bibir Naina yang cemberut karena merasa gemas.


” Enggak usah cemberut”


Naina diam, karena melihat Naina diam Uwais akhirnya tidak punya pilihan lain.


” Iya terserah kamu mau tidur di kamar yang mana, yang penting dekat dengan kamar tempat aku sama Naura”


Naina mengangguk, Uwais mendelik sebal melihat Naina bersemangat setelah dia mengiyakan keinginannya.


” Sabar aja deh, dari pada dia minta balik ke ruko" gumam Uwais.


” Ternyata, mas Uwais penyabar juga orangnya." Gumam Naina memuji.


Sesampainya di rumah, Naina terperangah melihat rumah besar tersebut. Apa itu beneran tempat tinggalnya dulu?


” Mas, kita mampir ke rumah siapa? mending langsung pulang. Naura juga udah tidur, kasihan” lirih Naina.


” Ini rumah kita sayang”

__ADS_1


” Emmm?” Naina malas bertanya lagi kalau Uwais terus memanggilnya seperti itu ditambah dengan suara yang begitu lembut, Naina diam dan Uwais keluar dari mobil. Uwais membukakan pintu dan para pelayan datang untuk membawa barang-barang Naina, Naina menggendong Naura dan Uwais mengambil alih namun tangannya tidak sengaja menyentuh dada Naina, Naina mengepalkan tangannya dan Uwais juga terlihat grogi.


” Selamat datang kembali Bu Naina” imbuh Bi Astri.


” Kamu?” Naina mengenali bi Astri dan Bu Astri tersenyum. Dita dan Mia juga ada dan Naina semakin tidak paham.


” Mereka semua ada yang bekerja disini ada juga yang bekerja dikantor, Dita dan Mia orang kepercayaan ku. Kalau butuh sesuatu bilang sama Bi Astri atau pelayan yang lain, yang itu baby sitter nya Naura” tutur Uwais memperkenalkan semuanya dan Naina mengangguk, jelas rumah sebesar itu tidak akan dibersihkan oleh satu dua orang pelayan.


” Kalau tahu si Naina mau balik harusnya aku ikut bos tadi biar Naina gak pulang kemari, kurang ajar banget sih” gumam Fatin kesal.


Naina tersenyum kepada semuanya, semuanya sangat senang dengan kedatangan majikan wanita mereka. Karena itu mempengaruhi suasana hati bos lelaki dan pastinya Uwais tidak akan sering marah-marah dan berteriak kepada para pelayan.


” Ayo sayang” ajak Uwais, Fatin merasa iri melihat Uwais begitu lembut kepada Naina. Naina benar-benar merasa malu karena Uwais memanggilnya seperti itu di depan semua orang padahal dulu hal tersebut adalah hal biasa. Saat masuk ke dalam rumah Naina dimanjakan dengan arsitektur rumah besar dan mewah tersebut.


” Kamar kita di atas” ucap Uwais, Dita membukakan pintu lift dan ketiganya masuk. Naina mendelik sebal kepada Dita karena baru tahu Dita anak buah suaminya dan Dita hanya tersenyum. Sesampainya di lantai tiga, Uwais mengajak Naina ke kamar mewahnya. Naina menarik selimut menyelimuti tubuh mungil Naura.


” Yakin, mau tidur sendirian di kamar lain?” tanya Uwais dan Naina mengangguk.


” Biar bibi siapkan semuanya, untuk sementara temani aku disini” ucap Uwais seraya merangkul dan meremas bahu Naina, Naina menoleh memperhatikan tangan suaminya. Dia buru-buru menghindar tapi Uwais menarik lengannya sampai Naina jatuh ke pangkuannya.” Mau kemana?"


” Aku,,,” Naina gugup, Uwais melingkarkan tangannya di dada istrinya itu. Naina terus melirik ke arah lain karena Uwais menatapnya lekat. Uwais mendekatkan bibirnya ke bibir Naina tapi Naina berpaling dan ingin membuka topik pembicaraan.” Berapa tinggi kamu mas, tinggi sekali aku awalnya ragu memiliki suami setinggi ini hehe, hemm”


” 180”


” Pantesan, tinggi banget hehe aku mau turun”


” Siapa yang memberi kamu izin?” Uwais tidak melepaskan Naina, dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk memanjakan diri kepada istrinya. Dia sangat merindukan Naina, sentuhannya, kecupannya, aroma tubuhnya, Uwais merindukan semua itu. Dia tidak mau melepas Naina sebelum merasa puas. Naina diam merasakan sentuhan lembut suaminya yang membuat sekujur tubuhnya kini berkeringat, Naina menutup matanya saat Uwais menempelkan wajahnya di pipi kanannya.


suara ketukan pintu membuat Uwais berhenti, Naina buru-buru bangkit dari pangkuan suaminya saat suaminya lengah. Uwais mendengus sebal. Dia bangkit dari duduknya untuk melihat siapa yang datang.


” Apa?” ketus Uwais kepada pelayan.


” Kamar di sebelah sudah di siapkan bos”


” Ya" singkat Uwais lalu menutup pintu dan pelayan pergi. Uwais melangkah mendekati Naina.


” Kamar kamu sudah siap” kata Uwais.


” Iya mas, terima kasih” ucap Naina lalu melangkah tapi Uwais meraih pergelangan tangannya.


” Beneran gak mau tidur disini?” tanya Uwais dan Naina menggeleng kepala sambil tersenyum.” Baiklah, satu kecupan dulu sebelum tidur” kata Uwais lalu melangkah, memegang kedua pipi istrinya dengan telapak tangannya lalu mencium bibir istrinya sekilas.


****


Undangan mendadak.


Pukul 11 malam Uwais keluar dari rumah, Kabir menangis menelepon karena di tahan keluarga Syam dan keluarga Fatma di rumah Syam. Uwais menyetir dengan sesuka hatinya. Sesampainya di rumah Syam dia langsung di persilahkan masuk, tatapan Uwais langsung tertutup pada Syam juga menatapnya tajam.


” Silahkan duduk" seru mama Novi kepada Uwais, Uwais mengangguk dan duduk. Uwais menatap wajah tegang Kabir lalu menggeleng kepala.

__ADS_1


” Adik ipar kamu ini menghamili istri saya” kata Syam sinis dan Uwais tersentak kaget.


” Kami mau ini di selesaikan malam ini juga, kami mau Kabir di hukum" tutur ayah Fatma.


” Dia sudah menganggu hubungan rumah tangga orang lain” kata Bu Anggi ikut menyalahkan Kabir, Kabir diam dan Uwais benar-benar ingin memukul Kabir.


” Saya minta maaf, sepertinya tidak ada unsur pemaksaan disini kejadian tersebut juga atas penerimaan dan persetujuan Fatma. Kenapa satu pihak yang disalahkan? jika memang benar Fatma diancam, apakah wajah seperti ini terlihat bisa seperti itu?” Uwais menekan pipi Kabir dan Kabir meringis.


” Anda membelanya karena dia adik ipar anda” teriak ayah Fatma kesal.


” Mohon maaf pak, masalahnya Fatma isterinya Syam. Bagaimana bisa kita tahu anak ini anak Kabir sementara Fatma dan Syam selama ini berhubungan normal? Fatma dan Kabir salah karena selingkuh, tapi untuk anak dalam rahim yang tidak tahu apa-apa ini bukan kesalahannya. Seandainya anak ini lahir dan saat tes DNA terbukti anaknya Syam bukan anaknya Kabir, kita bisa apa?” tutur Uwais dan Fatma merasa dia bisa membela diri.


” Saya selingkuh, memang benar saya selingkuh tapi itu awal-awal pernikahan. Saya juga memakai KB dan sempat datang bulan. Setelah itu saya tidak pernah bertemu dengan Kabir lagi sampai sekarang, tapi Kabir selalu mencari kesempatan agar bisa bertemu dengan saya. Saya baru hamil 6 bulan bulan ini dan ini jauh dari kejadian ini” tutur Fatma, semuanya diam mendengar penjelasannya.


” Kalian dengar? Fatma sudah berubah, tapi adik saya ini yang kurang ajar. Sekarang maunya bagaimana? atau ini hanya alasan Syam saja agar bisa menceraikan Fatma?"


” Jaga bicaramu Uwais” Syam kesal.


” Jujur, makan kemarin Syam berusaha untuk melakukan hal tidak senonoh kepada istri saya Naina. Dia mengaku sebagai suami Naina padahal jelas keduanya sudah bercerai dan Naina istri saya, saya kira ini benar-benar alasan yang dibuat oleh Syam dan anak dalam kandungan Fatma memang anaknya, karena amarah dan rasa cemburu Syam menyalahkan Fatma tanpa berpikir panjang” tutur Uwais, ayah Rahman menampar pipi Syam keras saat mendengar apa yang dia lakukan kepada Naina. Fatma menangis karena Syam lebih sibuk mengurusi mantan istrinya dan bukan dirinya, hati istri mana yang tidak sakit.


” Saya minta maaf, tapi jujur saya dan Fatma hanya berhubungan selama dua Minggu, tidak sampai sekarang. Fatma tidak hamil anak saya, tapi anak suaminya sendiri. Saya minta maaf” lirih Kabir.


Fatma menangis sejadi-jadinya dan Kabir meliriknya sekilas.


” Biar saya putuskan semuanya, ini adalah kesalahan anak saya Fatma dan Kabir. Saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada semua orang disini, sebelum anak ini lahir Fatma akan tinggal bersama kami. Biar nanti setelah anak ini lahir menjadi bukti terkuat” tutur ayah Fatma merasa malu atas tindakan putrinya, Bu Anggi juga menangis karena awalnya dia kira Fatma di paksa oleh Kabir tapi ternyata Fatma sukarela menyerahkan harga dirinya.


” Saya juga meminta maaf, kalian bisa menghubungi saya jika ada apa-apa. Kabir tidak akan kemana-mana, saya sendiri yang menjadi jaminannya” tutur Uwais dan meletakkan kartu namanya di atas meja, berhadapan dengan Uwais saja keluarga Fatma merasa malu karena tahu Uwais bukan orang sembarangan, mereka merasa direndahkan atas perilaku Fatma. Uwais menarik Kabir untuk segera dia bawa pulang.


” Bang" lirih Kabir sesampainya di luar, Uwais membanting pintu mobilnya dan mencengkram kerah baju Kabir.


” Kalau enggak bisa banggain orang tua, setidaknya gak usah nyusahin. Dosa kamu Kabir, sudah berzina kamu” tegas Uwais dan melepaskan cengkeramannya kasar.


” Aku minta maaf bang”


” Mikir Kabir, gak usah minta maaf sama sekali gak guna. Awas kamu kalau kabur, aku cari kamu kemana pun kamu pergi dan jangan sampai Naina tahu, Naina baru saja mau menerima kamu adalah adiknya apa jadinya jika dia tahu kalau kamu pernah berhubungan dengan istri mantan suaminya sendiri sampai sejauh itu Kabir” tutur Uwais kesal, dia benar-benar murka. Kabir diam dah hanya bisa menangis.” Pulang sana” titah Uwais, dia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Uwais melajukan mobilnya menuju rumah, sesampainya di rumah dia melemparkan kunci mobil dan satpam buru-buru mengambil nya.


” Bos ngamuk, mana Zidan udah pulang" imbuh Satpam berbisik. Lalu mengantongi kunci mobil tersebut, Uwais mengusap wajahnya kasar sepanjang perjalanan menuju kamarnya, dia mendatangi kamar Naina terlebih dahulu, Uwais membuka kunci perlahan dan saat terbuka Naina tidak ada.


” Kemana dia” Uwais panik. Uwais berlari keluar dan berpapasan dengan Mia.


” Mia, istri saya kemana?” ucapnya bertanya dengan raut wajah panik.


” Di kamar bos, tadi Naura nangis” tunjuk Mia ke kamar Uwais dan barulah Uwais merasa lega, Uwais melangkah pergi meninggalkan Mia menuju kamarnya. Saat dia masuk dia melihat istrinya sedang berdiri menatap pemandangan dari balik kaca besar itu, Naina menoleh sekilas.


” Kamu dari mana mas? Naura nangis tadi” kata Naina. Uwais mengusap rambut Naura sekilas dan melangkah mendekati Naina, Naina yang lupa dengan kerudung nya membuat Uwais terpesona melihat istrinya yang begitu cantik dengan rambut terurai, Naina terkejut saat Uwais memeluknya erat dari belakang.


” Mas”


” Aku lelah” kata Uwais dan Naina berhenti menggeliat untuk menghindar. Naina merasa merinding saat bibir Uwais menempel di lehernya.” Tidur sama aku Nai”

__ADS_1


” Aku....” Naina bingung.


” Sekali ini saja, aku gak ngapa-ngapain kok cuma mau peluk kamu, begini” lirihnya seraya mengeratkan pelukannya dan Naina diam.


__ADS_2