
Keluarga Naina hari ini akan pulang, Naina memeluk ayahnya erat dan menangis. Uwais diam dan memperhatikan Naina yang begitu dekat dengan keluarganya. Kabir tidak ikut pulang, dia sudah lulus SMA dan ingin kuliah sambil bekerja. Uwais menyarankan agar Kabir tinggal di rumahnya, bagus juga Kabir ada Naina tidak kesepian jika dia sedang keluar.
” Bapak sama ibu bisa naik Bus”
” Enggak usah biar supir yang antar sampai rumah” kata Uwais. Naina menoleh dan mendongak menatap suaminya lekat, suaminya sangat baik bukan hanya padanya tapi pada keluarganya juga.
” Ibu sama bapak hati-hati ya, pak supir bawa mobilnya jangan ngebut ya pak” seru Naina.
” Siap bu” jawab pak supir.
Bu Ratna dan pak Fahmi masuk ke dalam mobil, Naina melambaikan tangannya sekilas dan tersenyum menatap kepergian orang tuanya. Kabir juga pergi untuk tidur, pengangguran memang begitu.
” Ikut aku” ajak Uwais.
” Kemana? aku mau ke toko mas”
” Berangkat agak siangan bisa kan, aku juga ke kantor siang.” Uwais tersenyum, Naina mengangguk pasrah.
Uwais mengajak Naina ke belakang untuk melihat hewan peliharaannya di sana. Ada kucing, hamster, kelinci dan ikan di dalam kolam besar. Kakek tidak mengizinkan Uwais membawa hewan berbulu ke dalam rumah, dan di belakang di bangun sebuah rumah untuk peliharaan cucunya.
” Lucu sekali” ucap Naina dan mengelus-elus seekor kelinci berbulu putih.
” Namanya Syam” kata Uwais dan Naina menoleh cepat.” Yang Rangga, Miko dan ini Syam.” Katanya lagi dan Naina semakin kesal.
” Mas gak boleh”
” Kenapa?”
” Masa nama hewan sama dengan nama manusia, apalagi nama-nama ini kita tahu siapa orangnya”
” Mereka memang seperti hewan Naina”
” Kalau begitu kamu juga tidak jauh berbeda dari mereka mas, kamu sudah janji sama aku bakal belajar melupakan semuanya. Aku juga korban kecelakaan itu, apa aku berniat menghukum mereka? aku tahu mas dipenjara atas apa yang tidak mas lakukan. Tapi jika kita begini, kita tidak beda jauh dari mereka. Jujur aku tidak suka suamiku seperti” tutur Naina protes, tapi dengan cara yang terbaik untuk membuat suaminya juga tidak tersinggung. Melihat sorot mata Naina yang begitu sedih Uwais merasa bersalah.
” Aku minta maaf sayang” ucapnya, seraya menarik tengkuk Naina dan menempelkan keningnya di kening istrinya itu. Naina tersenyum merasa senang.
” Jangan begitu lagi ya mas"
” Iya Nai” singkat Uwais lalu mengecup kening istrinya sekilas, Naina memalingkan wajahnya. Kedua pipinya tiba-tiba merah karena di cium suaminya sendiri. Padahal itu bukan yang pertama kali, tapi tetap saja Naina masih selalu grogi.
Uwais mengajak Naina pergi ke taman, pelayan datang membawa makanan dan dua gelas susu cokelat panas. Uwais sangat suka susu cokelat panas, Naina memperhatikan gelas berinisial N&U itu lalu dia tersenyum tipis.
” Aku takut” imbuh Naina saat melihat ikan sangat banyak di kolam, Uwais menarik celana panjangnya sampai setengah betis lalu menurunkan kedua kakinya.
” Ini geli, tapi selalu membuatku tenang. Duduk” Uwais mengulurkan tangannya. Naina mengangkat gamis dan menarik celananya lalu duduk perlahan. Uwais bangkit dan mengambil dua gelas susu hangat lalu memberikannya satu kepada istrinya dengan gelas berinisial U. Naina tertawa geli karena ikan-ikan di dalam kolam mengerumuni kakinya dan kaki suaminya.
” Geli?”
Naina mengangguk.
” Emang mas gak ngerasa geli?”
” Aku sudah biasa” Uwais tersenyum dan Naina mengangguk, Naina menggerakkan kakinya seperti anak kecil lalu meminum susu hangatnya perlahan-lahan. Uwais diam tapi matanya terus memperhatikan istrinya, matanya, hidungnya, bibirnya membuat Uwais tidak tahan. Dia benar-benar merasa gemas melihatnya.
****
Pertunangan.
Syam diam sama sekali tidak terlihat raut wajah kebahagiaan ataupun damai di wajahnya, dia hanya bicara seperlunya. Pertunangan ini jauh lebih buruk baginya, dia hanya ingin Naina. Memori indah kebersamannya dengan Naina tiba-tiba muncul dan terbayang-bayang, walaupun di awal pernikahan dia tak suka tapi Naina mampu membuatnya jatuh cinta. Dan karena rasa cintanya yang berlebihan dia kehilangan wanita yang paling dia cintai itu
” Syam” tegur mama Novi saat melihat anaknya melamun. Syam menoleh sekilas.
__ADS_1
” Jaga sikap kamu Syam" ucap ayah Rahman dan Syam hanya diam.
” Nak Syam mau kopi lagi?” tanya Bu Anggi.
” Enggak usah bu” Syam menolak dan Bu Anggi mengangguk.
Fatma terus memperhatikan pria yang sudah bertunangan dengannya Itu dengan seksama, dia tahu dan sadar Syam tidak suka padanya. Tapi perjodohan tidak mungkin dibatalkan melihat dua keluarga yang ingin bersatu lewat dirinya dan Syam. Setelah acara selesai keluarga Syam pulang.
” Bu, mas Syam gak suka sama aku” lirih Fatma.
” Kamu ngomong apa sih nak, kalian kan belum kenal lebih dalam kalau sudah menikah kalian pasti akan dekat sama kayak bapak sama ibu” tutur Bu Anggi meyakinkan Fatma, tapi Fatma tetap saja tidak tenang.
Di perjalanan menuju pulang, ayah Rahman dan mama Novi berada di mobil Syam. Syifa tertidur pulas di pangkuan baby sitter.
” Kamu kalau di depan keluarga Fatma yang sopan, ngomong kek apa kek yang ramah.” Tutur ayah Rahman kesal.
” Ayah sekarang suka ngatur kehidupan aku banget ya, syukur-syukur aku sudah setuju” ketus Syam menjawab.
” Syam yang sopan bicara sama ayah kamu, kalau kamu gak bersikap baik keluarga kita pasti jadi perbincangan buruk keluargamu Fatma. Kamu sudah dewasa ngerti dong Syam” mama Novi dari belakang menyahuti ucapan tidak sopan Syam. Syam diam dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai ayah Rahman kaget dan memukuli bahunya.
” Pelan-pelan Syam!" teriak ayah Rahman.
” Syam, Syifa bangun" seru mama Novi dan Syam mengurangi kecepatan mobilnya. Ayah Rahman menggeleng kepala dan memijat dahinya berulang kali, dia merasa Frustasi.
****
Keberangkatan ke Turki.
Naina melangkah sambil dirangkul oleh suaminya, Kabir dari belakang memotret kemesraan keduanya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Uwais membelikan kamera digital untuk adiknya, dan dia ingin Kabir mengabadikan momen paling berharga dalam hidupnya itu dengan baik.
Di depan, di belakang bodyguard melangkah mengikuti. Kabir untuk pertama kalinya akan naik pesawat, dia gugup dan takut. Setibanya di dalam pesawat, Naina dan Uwais duduk. Dan Kabir juga duduk tapi dia dengan penumpang lain, seorang gadis. Gadis tersebut menoleh dan memperhatikan Uwais dan Naina.
” Kok kayak kenal ya” gumam gadis itu. Setelah di ingat-ingat, dia baru ingat jika Naina adalah gurunya dulu.
” Wa'alaikumus Salaam” jawab Naina.” Fatma, itu kamu?"
Fatma mengangguk dan berdiri, dia mendekati Naina dan menyalami tangan gurunya itu dan tidak kepada Uwais karena Uwais menolak. Fatma dan Naina menoleh saat mendekati Fatma agar dia duduk kembali, Fatma tersenyum dan dia duduk kembali.
” Bagaimana kabar kamu Fatma?”
” Aku baik Bu, ibu gimana?”
” Alhamdulillah ibu juga baik, kamu sendirian?”
” Iya sendiri” Fatma tersenyum lagi, Naina mengangguk dan duduk kembali dengan tenang.
” Dia siapa Nai?” tanya Uwais.
” Dia murid aku dulu, gak nyangka bisa ketemu lagi. Eh mas aku juga mau bilang sesuatu sama kamu”
” Apa?”
” Waktu itu aku dapat panggilan dari salah satu sekolah untuk menjadi guru lagi, tapi mungkin sekarang sudah di isi guru lain” Naina sedih.
” Syukurlah”
” Kok begitu?” Naina cemberut.
” Karena aku gak izinkan kamu untuk menjadi guru lagi, kamu sudah sibuk di toko kalau mengajar lagi lebih sibuk lagi terus waktu buat aku kapan sayang?” ucap Uwais lalu menyenderkan kepalanya di bahu Naina, Naina tersenyum dan mengelus pipi suaminya.” Jangan membahas apapun, jangan mengajakku berdebat. Kita mau honeymoon kan?"
” Iya” singkat Naina.
__ADS_1
Fatma tersenyum melihat keromantisan keduanya, dia tidak sabar ingin berbagi cerita kepada teman-temannya jika dia bertemu dengan Naina setelah 4 tahun lulus dari bangku SMA.
*****
Di ruko, Ai dan Akbar sedang menikmati mie bersama. Di depan toko, Ali yang sadar ada sesuatu yang spesial antara Akbar pegawainya dan Ai pegawainya Naina hanya bisa diam, dia menegur jika keduanya melewati batas. Akbar menoleh, dan melihat kedatangan Ali bersama seorang gadis. Istrinya.
” Bang Ali" Akbar panik begitu juga dengan Ai.
” Aku sudah melihat kalian, ngapain sembunyi" ucap Ali mengejek, Ai dan Akbar cengengesan.
” Ini siapa bang?” tanya Akbar memperhatikan seorang gadis yang memakai cadar itu.
” Dia istri saya, Rosa” jawab Ali, dia dan Rosa jadi menikah setelah proses ta'aruf kembali di jalani keduanya dan Rosa mau berubah sesuai dengan keinginan Ali. Walaupun anak seorang ustadz, Rosa selalu seenaknya dan kadang berpakaian ketat walaupun memakai kerudung.
” Oh” singkat Ai.” Selamat ya bang Ali sama mbak Rosa atas pernikahannya”
” Terima kasih” Ali tersenyum.” Kami pamit ya, jangan terlalu malam Akbar antar Ai pulang”
” Siap bang” jawab Akbar.
Ali dan Rosa pun masuk ke dalam ruko yang rolling door nya terbuka sedikit, Rosa naik menaiki tangga dengan cepat. Setelah sampai di sana dia melepaskan cadarnya dan kerudungnya.
” Bismillah dulu” ucap Ali.
” Aku gak mau pakai cadar lagi Mas"
” Iya, boleh. Tapi terus belajar ya” kata Ali lemah lembut dan Rosa cemberut.
” Kenapa kita gak tinggal di rumah kamu, ini sempit mas”
” Rumah sedang direnovasi total, selesai mungkin 2 bulan lagi yang sabar tinggal disini. Jangan marah-marah terus aku pusing denger kamu marah-marah terus Rosa” ujarnya, lalu duduk di tepi kasur dan Rosa diam karena melihat Ali sepertinya kesal mendengar rengekannya.
Akbar dan Ai memperhatikan dan mendengar suara ribut-ribut tadi.
” Baru juga nikah udah ribut aja” kata Ai.
" Bang Ali baik loh, sayang banget gak dapetin mbak Naina malah dapetin si Rosa” Akbar tidak terlalu suka dengan Rosa.
” Mas Ali itu gak mau berjuang, gimana mau bangun rumah tangga meyakinkan keluarga nya aja untuk mbak Naina mas Ali menyerah. Lihat bang Uwais, walaupun kakeknya gak setuju tapi karena bang Uwais mau berjuang mbak Naina juga mau” tutur Ai, nada suaranya terdengar kesal.
” Tapi aku rasa mbak Naina di ancam sama bang Uwais, mana mungkin mbak Naina mau semudah itu. Bang Uwais jauh banget dari bang Ali”
” Kok kamu jelek-jelekin bang Uwais sih, enggak kok aku sering lihat mbak Naina juga perhatian sama bang Uwais apalagi bang Uwais perhatian banget sama mbak Naina”
Akbar mengerucutkan bibirnya mengejek, dan Ai cemberut dan tidak mau bicara lagi.
******
Keesokan harinya di Turki, Kabir yang sedikit paham bahasa Inggris merasa tidak terlalu khawatir. Dia pergi sendirian keluar dari hotel, Kabir berjalan-jalan dan memakai pakaian tebal dan kepalanya di tutupi Hoodie mantelnya. Sangat dingin, Kabir terdiam melihat seorang gadis yang tidak asing baginya.
” Dia?” lirihnya.
Kabir mengangkat kameranya, dan mengambil foto gadis yang sangat cantik baginya itu. Setelah berhasil Kabir tersenyum, Fatma yang sadar jika ada yang memfotonya menoleh.
” Dia adiknya Bu Nai kan? gak sopan” Fatma geram dan melangkah cepat mendekati Kabir.
” Kamu ngapain foto saya?” tanya Fatma, Kabir menurunkan kameranya dan menatap Fatma.
” Saya gak foto kamu"
” Coba saya lihat” pinta Fatma menunjuk kamera Kabir dan Kabir menggeleng kepala.
__ADS_1
” Ini punya saya, jangan macam-macam ya” ketus Kabir lalu menarik Hoodie Fatma dan menutupi kepala gadis itu dan dia kabur.
” Tunggu dulu!" teriak Fatma dan melepaskan Hoodie dari kepalanya, Kabir sudah jauh dan Fatma terlihat kesal.