Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Honeymoon part 1


__ADS_3

Naina dan Uwais habis dari rumah sakit memeriksakan kaki Naina, Naina bisa sembuh dan disarankan untuk menjalani operasi di Amerika. Naina terlihat diam, Uwais yang sedang menyetir sesekali memperhatikannya. Karena melihat kekasihnya gelisah, Uwais meraih tangan Naina lalu mengenggamnya.


” Gak usah khawatir sayang, aku bakal ada di samping kamu terus” ucap Uwais dan Naina mengangguk.


” Iya mas aku percaya, tapi apa benar kaki aku bisa sembuh?”


” Insya Allah, kamu yakin ya. Gak boleh pesimis, aku bakal bawa kamu ke negara manapun asal kamu bisa sembuh tapi kamu harus yakin kalau kamu bisa sembuh”


” Iya mas” singkat Naina.


Keduanya tersenyum bersama. Uwais melajukan mobilnya ke sebuah tempat wisata, dari belakang mobil yang dikendarai Zidan mengikuti bersama Kabir. Naina menatap keindahan negara Istanbul Turki dan Uwais menghentikan mobil setibanya di Istiklal street. Bukan hanya keindahan dan bisa jalan-jalan, di sini kita juga bisa berbelanja.


” Kita kesini dulu” ucap Uwais lalu keluar dari mobil. Uwais membuka pintu mobil dan mengajak Naina keluar. Naina mengedarkan pandangannya dan Uwais menggerakkan tangannya, Naina tersenyum lalu merangkul tangan suaminya.


” Lihat mereka, serasa dunia milik berdua” imbuh Kabir sedikit kesal berbicara dengan Zidan yang juga jomblo.


” Nikah mangkanya” ujar Zidan.


” Memangnya kamu sudah menikah?”


” Belum” jawab Zidan.


” Sama, iri kan?"


” Tidak” singkat Zidan.


” Bohong” goda Kabir sambil tersenyum lalu melangkah pergi mendekati Uwais dan Naina dan Zidan tersenyum kecut.


Naina dan Uwais sibuk melihat-lihat setiap pedagang dan toko di sana. Uwais mengajak Naina masuk ke dalam sebuah butik dan Naina memperhatikan semua abaya yang sangat bagus dan mahal di sana.


” Coba ini” Uwais memilih abaya berwarna hitam polos.


” Ini mahal" ucap Naina memperhatikan bandrol harga di abaya tersebut.


” Tapi ini bagus sayang, mau ya" Uwais sedikit memaksa, Naina tidak ada pilihan lain kecuali menerima. Uwais tersenyum terlihat bahagia. Setelah memilih dan membayar beberapa pakaian Naina dan Uwais keluar dari toko. Keduanya kembali melangkah, Zidan dan Kabir mengikuti. Naina sangat bahagia dan Kabir tahu itu, keempatnya beberapa kali berfoto bersama. Uwais dan Naina paling sering, karena memang itu acara mereka.


****


Di tanah air, Syam datang ke rumah Uwais dia tahu rumah Uwais sekarang. Dia tatap gerbang tinggi itu dan bel menempel di sana. Anak-anak biasanya suka bermain-main dengan bel pintu, tapi ke rumah Uwais mereka tidak berani karena sering ditakut-takuti oleh orang tua mereka jika rumah besar itu rumah hantu dan jangan macam-macam. Syam menekan bel pintu dua kali, dan jendela kecil di dorong dari dalam.


” Mau ketemu siapa?” tanya satpam.


” Bu Naina” jawab Syam, dia lihat raut wajah satpam itu terlihat panik.


” Pemilik rumah sedang tidak ada” ujarnya.


" Kemana ya kira-kira? ada masalah penting soalnya” Syam berusaha meyakinkan.


” Silahkan pergi, pemilik rumah ini pak Uwais dan Bu Naina sedang tidak ada” tegas satpam dan mundur menjauh. Syam menggeleng kepala.


” Kemana Naina dan Uwais? aku ke toko juga gak ada. Nai aku kangen sama kamu” gumam Syam, karena tidak mendapatkan info apa-apa akhirnya Syam memilih pergi. Ai juga tidak berani mengatakan apapun kepada Syam saat Syam datang bertanya padanya, Ai takut Syam nekad dan melakukan hal gila untuk menganggu Naina dan Uwais. Syam melajukan mobilnya dan setelah jauh dari kediaman Uwais dia berhenti saat lampu merah menyala, dia sabar menunggu sambil memikirkan Naina. Dia dan Fatma sudah bertunangan, jangan berkomunikasi untuk mengenal lebih dekat. Berkirim kabar singkat saja keduanya tidak pernah, Fatma yang sering mengirimkan pesan pun sering diabaikan Syam. Tiba-tiba kedua mata Syam membulat saat melihat seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan pasmina tapi bajunya pendek.


” Amira” lirih Syam. Dia membuka pintu dan keluar lalu berlari namun saat wanita itu berbelok dia sudah tidak ada lagi.


” Aku yakin itu dia, dia belum meninggal?” ujar Syam bertanya-tanya dan terus mengedarkan pandangannya. Suara klakson mobil terus terdengar, semua pengendara meradang karena Syam meninggalkan mobilnya begitu saja. Syam mengangkat tangannya, meminta mereka semua bersabar.


” Berisik” imbuh Syam dan mulai melajukan kendaraannya perlahan, sambil memperhatikan belokan tadi.


Amira keluar dari belakang tong sampah besar di sana lalu dia melihat mobil Syam sudah jauh.


” Kamu mau menikah lagi Syam” gumam Amira, tangannya terkepal kuat dia tidak terima.

__ADS_1


*****


Kejutan untuk Naina. Naina berhias diri, dia memakai pakaian yang suaminya pilihkan. Zidan dan Kabir membawanya entah kemana, hari sudah sudah malam. Ada kabar jika salju akan turun malam ini.


” Kita mau kemana sebenarnya?” tanya Naina.


” Mbak diem aja, sebentar lagi sampe” sahut Kabir.


” Aku tidak pernah melihat bos sebahagia ini sebelumnya, sebelum dia mengenal mu. Jaga bos ku itu” ujar Zidan dan Naina memperhatikan pria yang sedang menyetir itu.


” Bagaimana bang Uwais sebelum ketemu mbak Naina?” tanya Kabir penasaran dan Zidan menoleh sekilas.


” Penyendiri, pemarah, tidak suka di atur, dan sibuk dengan masa lalunya. Tapi sekarang dia berubah, aku sangat bersyukur dan berterima kasih. Dia lebih muda dariku, sudah seperti adikku sendiri. Dia tidak memiliki siapa-siapa kecuali kakeknya, dan sekarang ada Bu Naina” ujar Zidan, dia menjadi teringat saat-saat pertama bertemu dengan Uwais. Uwais jarang bicara, tubuhnya penuh luka saat keluar dari penjara. Tapi dia sangat baik kepada semua orang di rumah walaupun mereka hanya sebatas pelayan, Uwais mulai lupa dengan rasa dendam nya karena sibuk dengan kebahagiaan bersama Naina. Naina diam, bibirnya tersenyum manis.


” Aku juga sangat bahagia memiliki kakak ipar seperti bang Uwais, bukan karena dia kaya tapi karena dia mampu membuat mbak Naina ku tersenyum setiap saat" lirih Kabir, dia tersenyum tapi kedua matanya berair mengingat bagaimana sikap kasar Syam kepada Naina dan Naina selalu tersenyum, senyuman palsu terlebih setelah Naina dipoligami. Zidan tersenyum tipis sekilas.


Sesampainya di tempat yang sudah disewa oleh Uwais, Naina turun setelah Zidan membuka pintu.


” Masuklah” titah Zidan dan Naina terlihat ragu.


” Ayo mbak, bang Uwais sudah nungguin” ucap Kabir sedikit mengusir dan Naina tersenyum kecut, dia melangkah pergi begitu juga dengan Zidan dan Kabir. Naina memperhatikan sekeliling, sangat gelap dan dia masuk ke sebuah kafe yang sangat sepi itu.


” Silahkan nona” ujar seorang wanita berpakaian hitam putih dan Naina tidak paham dengan bahasa Turki nya. Naina mengangguk lalu melangkah mengikuti jejak kelopak bunga mawar dan mengarahkannya keluar. Naina melihat kertas dan meraihnya.


” Istriku yang terbaik” tulis Uwais dan Naina tersenyum. Lalu dia melangkah lagi dan melihat kertas lagi, terus-menerus dan mengambilnya satu-persatu.


” Naina ku”


” Tidak ada kebahagiaan yang lebih bahagia setelah aku memilikimu”


” Jangan pernah berniat meninggalkan ku, jika iya aku akan mengejar sampai aku mendapatkanmu kembali”


” Cukup lihat aku seorang, dan pikirkan aku saja”


” Aku tidak paham seperti apa yang romantis itu, tapi setiap yang aku lakukan hanya untukmu, dan itu berlaku selamanya”


Setiap tulisan yang Naina dapatkan, dia merasa benar-benar senang dan bahagia. Tidak terasa air mata Naina menetes, dia tidak melihat kertas lagi dan terus melangkah dan terkejut saat semua lampu menyala. Lampu hias, lilin, bunga, dan balon memperindah pemandangan di sana. Naina mengusap air matanya saat melihat suaminya berdiri sambil memegang buket bunga mawar putih. Uwais tersenyum, dan senyumannya lenyap melihat Naina menangis. Apa tulisannya terlalu lebay sampai Naina muak dan menangis atau tulisannya sangat menyinggung, Uwais menurunkan buket bunga yang awalnya berada di dadanya. Sesampainya Naina di hadapannya, keduanya saling menatap lekat.


” Kenapa?” tanya Uwais lirih, Naina menggeleng kepala dan tanpa aba-aba langsung memeluk suaminya erat. Uwais sampai terkejut di buatnya, dan bibirnya tersenyum tipis.


” Terima kasih” lirih Naina, tanpa ragu Uwais membalas pelukannya dan Naina menutup matanya rapat-rapat. Keduanya berpelukan sangat erat dan saat Naina mundur Uwais melepaskan pelukannya.


” Kenapa menangis?” tanya Uwais lagi.


” Aku terharu” jawab Naina sangat jujur dan membuat Uwais tertawa kecil.


” Senang?”


” Ya aku senang dan bahagia”


Uwais tersenyum dan Naina juga tersenyum, Uwais meraih tangan Naina lalu mencium punggung tangan istrinya itu. Naina diam dan kaget saat Uwais tiba-tiba berlutut di hadapannya.


” Will you marry me?”


Naina terkekeh-kekeh.


” Kita sudah menikah mas”


” Tapi aku tidak mendapatkan jawaban waktu itu Nai, Will you marry me?”


Naina tersenyum. Lalu mengangguk.

__ADS_1


” Yes I do”


Uwais tersenyum lalu memberikan buket bunga dan Naina menerimanya, dia bangkit dan mengeluarkan kotak cincin dari sakunya.


” Untuk apa?”


” Aku melamar mu dua kali, waktu itu tidak diterima dan sekarang baru diterima. Aku pakaikan” ujar Uwais lalu meminta tangan Naina dan Naina menatapnya lekat sejenak, tanpa berpikir panjang dia memberikan lengannya dan Uwais memasangkan cincin di jari manisnya. Uwais memeluk Naina lagi dan Naina memperhatikan cincin berlian yang sangat mewah dan cantik itu.


” Aku bahagia Nai”


” Aku juga mas"


Keduanya berpelukan sangat erat, tak disangka keduanya sama-sama mendongak saat benda jatuh menerpa kepala mereka. Naina tertegun melihat salju turun saat ini, dia menadahkan tangannya. Uwais melangkah ke belakang tubuh istrinya dan memangku tangan Naina dengan tangannya. Salju turun ke telapak tangan Naina, dan Naina menoleh sambil tersenyum kepada suaminya.


” Masya Allah, indahnya” puji Naina dan Uwais memperhatikannya. Bibirnya mendarat di pipi Naina dan Naina terkejut.


” Mas kalau ada yang lihat gimana?”


” Enggak ada orang” kata Uwais dan menarik bahu Naina, dia tarik dagu istrinya itu lalu mencium bibirnya perlahan. Naina menutup matanya, dia mencengkram kuat ujung baju nya dan Uwais meraih tangannya lalu mengenggamnya. Tangan kanan Naina meremas rambut suaminya, dan tangan kanan Uwais menekan tengkuknya. Keduanya berhenti dan Uwais membersihkan salju di kepala istrinya lalu mengajaknya masuk untuk menikmati makanan. Naina juga sangat lapar dan dia menatap semua makanan di atas meja.


” Kamu menyewa tempat ini mas?”


Uwais mengangguk.


” Pasti mahal"


” Jangan rusak momen indah ini dengan ucapan kamu itu sayang, aku tidak suka" Uwais cemberut dan Naina tersenyum.


Uwais menyuapi istrinya dan melihat bibir istrinya itu kotor, dia ingin mengusapnya tapi Naina mundur menjauh.


” Kenapa?” Uwais bingung.


Naina menggeleng kepala lalu bergeser lebih dekat dan Uwais tersenyum lalu mengusap bibir istrinya.


” Menggodaku?” tanya Uwais dan Naina mengangguk.” Nakal sekali” Uwais merasa gemas dan mencium pipi istrinya terus-menerus Naina menjerit-jerit dan tertawa kecil. Keduanya menikmati pemandangan salju pertama kali turun sambil makan malam bersama, Uwais sangat bahagia apalagi Naina. Naina tidak menyangka jika Uwais tidak seburuk yang dia bayangkan selama ini, suaminya sangat baik.


*****


Kepulangan Fatma.


Di bandara, Syam menunggu calon istrinya. Dia terpaksa menjemput setelah di bujuk dan di rayu orang tuanya. Sebenernya dia malas jika bukan mama Novi yang memaksa dan mengancam tidak mau makan. Syam memperhatikan seorang gadis yang menarik koper dan tas yang dia jinjing, Fatma ke turki untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal di asrama dan bertemu teman-temannya di perpisahan kampusnya. Fatma tersenyum saat melihat Syam dan mendekati pria itu.


” Mas” sapa nya begitu lembut.


” Masuk" ketus Syam memerintah, raut wajah Fatma terlihat sedih dan Syam memasukkan koper ke bagasi. Dia hendak masuk tapi Syam menahan.


” Ngapain duduk di depan? duduk di belakang” titah Syam tambah ketus, Fatma terlihat akan menangis di bentak-bentak dan diperlakukan kasar oleh suaminya sendiri.


” Jika tidak mau menikah kenapa harus memaksa” gumam Fatma dan dia masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Syam.


Di perjalanan keduanya tidak saling bicara, untuk mengusir kejenuhan Fatma mengeluarkan ponselnya dan bermain ponsel. Notifikasi pesan masuk dan permintaan pertemanan di akun media sosial nya membuat Fatma menatap layar ponselnya dengan seksama. Itu Kabir.


” Aku menemukan mu” isi pesan Kabir dan bibir Fatma terlihat mengerucut.


” Hapus foto ku” titah Fatma dan Kabid juga sedang aktif.


” Foto yang mana?" pura-pura lupa.


” Foto yang waktu itu, aku akan adukan kamu ke Bu Naina jika macam-macam" ancam Fatma. Di tempatnya Kabir tertawa terbahak-bahak.


” Kamu pikir saya supir!” teriak Syam dan Fatma terkejut sampai menjatuhkan ponsel dan menimpa kakinya.

__ADS_1


” Auw” Fatma meringis dia membungkuk dan mengambil ponselnya.” Kalau mas gak mau jemput saya ngapain kemari, saya mau turun” pinta Fatma.


” Bagus, sengaja kan kamu terus ngadu sama orang tua saya dan saya kena omel nanti” tutur Syam menuduh, dan Fatma hanya bisa menggelengkan kepalanya." Kenapa diam? jawab!” membentak tapi Fatma memilih diam dan menatap keluar kaca mobil dengan kedua mata berair.


__ADS_2