Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Di hotel


__ADS_3

Malam hari tiba, Uwais memimpin sholat isya berjamaah. Naina terharu mendengar suara merdu suaminya, Rizal dan Syam diam memperhatikan Naina dan Uwais. Setelah keduanya selesai sholat, Naina menyalami tangan suaminya dan Uwais mengecup keningnya sekilas sambil menatap wajah cantik istrinya lekat. Api menjadi penerang sekaligus pelindung dari binatang buas.


” Ini benar-benar tidak beracun?” tanya Rizal kepada Syam, sambil memegang singkong yang didapatkan Uwais. Hanya itu yang dia dapatkan.


” Makan saja, kalau kamu mati itu beracun” ketus Syam dan Rizal mengerucutkan bibirnya kesal, Uwais mendekat dia membakar singkong tidak perduli Syam dan Rizal mau atau tidak yang penting Naina dan Syifa merasa kenyang. Setelah ikan dan singkong matang, daun menjadi alas makan mereka. Syam dan Rizal hanya memakan ikan yang tidak ada rasanya itu dan Syam menyuapi Syifa.


” Enak?” tanya Uwais kepada jaina.


” Ini benar-benar tidak apa-apa mas?”


” Tidak, aku juga tidak mungkin sembarangan”


Naina mengangguk. Dan Uwais menyuapinya, Rizal menyambar apa yang Naina dan Uwais makan lalu mencobanya. Dia ketagihan.


” Biarin” ucap Uwais dan cengengesan bersama istrinya itu. Tiba-tiba Syifa berjalan dan berpegangan pada bahu Uwais, Uwais menoleh dan merangkul pinggang nya dan Syifa berjalan lagi dan memeluk Naina. Syam diam.


” Lucu nya” Naina merasa gemas dan Uwais tersenyum lebar memperhatikan Naina.


Malam semakin larut, semuanya tidur di tempat berbeda walaupun tetap berdekatan, Uwais memiringkan tubuhnya dan meniup luka di wajah istrinya itu. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Naina. Uwais mencium pipi dan bibir Naina sekilas, Syam yang melihatnya langsung membalikan badan dan Uwais mengira semuanya sudah tidur kecuali dirinya.


****


Keesokan paginya, Zidan memaksakan diri untuk kembali ke hutan walaupun kepalanya masih sakit. Dia tidak bisa membiarkan Uwais kenapa-kenapa. Kakek Uwais bahkan terus bertanya dan sedang perjalanan menuju ke tanah air karena sedang berada di luar negeri.


Di kediaman Uwais, pak Fahmi diam dan sedang diluar bersama Kabir mencari sarapan padahal semuanya tersedia tapi merasa tak enak hati karena pemilik rumahnya tidak ada.


” Pak sarapan dulu” ucap Kabir.


” Bapak gak selera, khawatir sama mbak kamu”


" Aku juga khawatir pak, kalau mbak Nai pulang terus tahu bapak gak mau makan gimana? semuanya sedang mencari mbak Nai dan mas Uwais pak. Kita doakan saja” lirih Kabir dan pak Fahmi mengangguk.


****


Di hutan, Syam memimpin jalan dia sedikit ingat jalan keluar dari hutan dan Rizal di belakangnya. Naina dan Uwais paling belakang, kaki Naina sakit dan Uwais menggendongnya di punggungnya.


” Mas gak capek gendong aku terus?” tanya Naina.


” Enggak” singkat Uwais. Dagu Naina menancap di bahunya dan Naina memperhatikan wajah suaminya dengan seksama. Naina tersenyum dan mengeratkan pelukannya, Uwais tersenyum tipis karena sadar Naina terus memperhatikannya.


Syam berhenti melangkah saat tidak tahu lagi jalannya ke arah mana, Uwais menurunkan Naina dan mengenggam tangan istrinya itu.


” Ke kiri atau ke kanan?” tanya Syam.


” Kamu sendiri yang bilang tahu jalan, ayolah” timpal Rizal, Syam menggeleng kepala.” Jangan bilang kamu lupa bang?” tudingan bahwa nya membuat Syam melotot dan Rizal diam.


” Kita istirahat dulu saja” kata Uwais dan dia mengajak Naina duduk, Naina dan Syifa terlihat kehausan. Tiga laki-laki itu mampu menahan tapi tidak dengan keduanya. Semuanya berhenti di tengah-tengah hutan, masih jauh untuk keluar. Naina memperhatikan tanah luas dengan rumput tinggi-tinggi disekitarnya.


” Aku dan Syam akan mencari minum, Rizal jaga Naina dan Syifa” titah Uwais.


” Aku tidak yakin dia bisa menjaganya” ujar Syam. Dia juga tidak tega melihat Naina dan Syifa.


” Lupa? aku yang menyelamatkan mu bang berkali-kali” Rizal kesal dan menyombongkan diri, benar juga dan Syam tersenyum melihat Rizal kesal.


” Jaga Syifa, Rizal akan menjaga kalian” ucap Uwais kepada Naina, lalu mengelus pipi istrinya lembut membuat Syam dan Rizal sama-sama mendengus sebal.


” Jangan jauh-jauh” pinta Naina dan Uwais mengangguk, Uwais bangkit dari duduknya di susul Syam. Keduanya pergi untuk mencari apa yang bisa dimakan dan bisa diminum. Rizal mendekat pada Naina dan Syifa duduk di pangkuan Naina.


” Bu” panggil Rizal.


" Kenapa?”


” Ibu beneran bahagia sama dia?” tanya Rizal, dia melihat kenyamanan yang diciptakan Uwais membuat Naina terlihat lain. Naina juga sepertinya membalas perasaan Uwais.

__ADS_1


” Dia suamiku, aku bahagia” jelas Naina menjawab, Rizal diam dan tidak mau berbicara lagi. Syifa menangis terus-menerus.


” Main ya, main di sana” ajak Naina dan Rizal mengikuti. Syifa merasa lapar, Rizal terus melirik jalan yang dilewati Syam dan Uwais tadi.


” Lama” protesnya.


Naina mendekap tubuh kecil Syifa, dan Rizal mengenggam besi yang dia bawa erat saat musuh datang mengepung. Rizal melindungi keduanya di belakang punggungnya.


” Jangan jauh-jauh bu” Rizal berbisik.


” Gimana ini Rizal, kenapa mas Uwais sama mas Syam gak kembali juga apa mereka juga terluka?” lirih Naina.


” Yang penting pikirkan keselamatan kita dulu Bu, Uwais punya senjata. Anak buahnya juga pasti tidak diam.” Sahut Rizal, Hamdan maju dan Naina terkejut tapi dia tidak melihat Amira.


” Berikan Naina dan anak itu” pinta Hamdan dan Rizal menggeleng kepala.


” Mereka milikku” tegas Rizal dan Naina terus mundur, Syifa menangis histeris. Tangisannya sangat kencang sampai Uwais dan Syam mendengar.


” Itu suara Syifa” lirih Syam khawatir.


” Ayo kita kembali” ajak Uwais, keduanya berlari untuk kembali ke tempat dimana Rizal, Naina dan Syifa berada. Di sana Rizal sudah kewalahan menghadapi semua musuh, Naina menahan Hamdan yang menyeretnya. Syifa digendong oleh anak buahnya untuk dibawa juga.


” Lepas” Naina memukuli tangan Hamdan, dan dia tidak mau dibawa.” Lepaskan aku”


” Jangan banyak tingkah Naina”


” Tolong” teriak Naina.


Dor! tembakan melesat mengenai tangan Hamdan, cekalan tangan Hamdan terlepas dan Naina bangkit lalu merebut Syifa. Naina mundur sampai dia membentur dada suaminya dan Uwais terus menembak.


” Pindah ke belakang” titah Uwais dan Naina pindah.


Syam dan Rizal melawan hanya bermodalkan kayu dan besi, kedua mata Rizal membulat melihat senjata mengarah kepada Syam. Uwais juga terlihat melemparkan senjatanya karena pelurunya habis dan berkelahi dengan tangan kosong. Naina tidak sadar musuh di belakang mengarahkan senjatanya, Rizal bingung harus menolong Syam yang lebih dekat atau Naina yang jauh tapi dia sayangi.


Dor!


” Kiran” lirih Naina.


” Kamu terluka?" tanya Kiran dan Naina menggeleng kepala.


” Kenapa kau datang?" tanya Uwais kepada Kaindra.


" Aku tidak akan membiarkanmu terluka” Kai tersenyum, lalu melemparkan senjata dan Uwais menangkapnya. Naina dijaga oleh Kiran.


” Kenzo minggir” Kenzie menarik lengan Kenzo dan menembak.


” Sorry” Kenzo tersenyum tipis.


” Kiran, ini bahaya” lirih Naina dan Kiran mengangkat bahu sambil tersenyum, Naina menggeleng kepala melihat Kiran yang lain saat ini.


Syam menangis dan memangku kepala Rizal ke pangkuannya, Rizal tertembak dia terluka parah. Naina yang melihat berlari dengan dijaga oleh Kiran.


” Rizal bertahanlah, kamu kuat Rizal” ucap Naina dan dia sangat sedih. Rizal muntah darah, dia tidak kuat. Suara Helikopter terdengar, semuanya mendongak dan Rizal harus segera dibawa.


” Biar aku yang membawanya” kata Kenzie.” Anak kecil ini juga mengalami dehidrasi dan kelaparan”


” Mas Syam dan Syifa harus segera pergi” kata Naina dan Uwais menoleh.


” Cepat!” teriak Uwais karena Hamdan dan anak buahnya berusaha menggagalkan rencana Kenzie. Kenzo membantu Rizal berdiri dan dari atas tali turun, Kenzie mengikat tubuhnya dan tubuh Rizal lalu keduanya bisa masuk ke dalam helikopter dan giliran Syam.


” Pegang Syifa erat-erat” titah Naina karena takut Syam dan Syifa jatuh. Seorang tentara turun untuk membantu Syam dan Syifa naik. Naina memperhatikan, dan benar-benar takut. Lalu dia melihat Kiran yang terus menembak tanpa ada rasa takut sedikitpun. Helikopter hanya cukup untuk 5 orang. Helikopter pergi setelah mereka yang dalam keadaan emergency berhasil masuk. Tiga mobil datang, semua musuh berhasil di ringkus dan ada beberapa yang pingsan mungkin sebentar lagi mati. Hamdan yang kabur walaupun sudah diberikan peringatan dengan tembakan di udara terpaksa di tembak oleh Kenzie, dan dia tidak bisa kabur lagi.


” Mas” lirih Naina. Uwais memeluk istrinya erat dan Naina menangis.

__ADS_1


” Aku tidak apa-apa Nai" Uwais tersenyum.


Kiran memperhatikan keduanya karena dia tahu Naina sudah menikah lagi tapi baru melihat suami Naina sekarang.


” Kita harus segera pergi” ajak Kaindra.” Polisi dan semuanya yang akan mengurus mereka. Kenzie akan disini, Kenzo temani dia”


” Ya" singkat Kenzo.


” Kalian semua jangan sampai ada yang melihat, pergilah” titah Kai kepada semua anak buahnya. Kenzie diam.


Kai dan Kiran naik ke dalam mobil di susul Uwais dan Naina, Uwais membantu Naina naik mobil Jeep tersebut. Kai mengemudi dengan petunjuk jalan yang dia buat saat dia menuju ke tengah-tengah hutan, Naina dan Uwais di belakang diam. Uwais tiba-tiba meraih tangan Naina dan Naina menoleh. Kiran tersenyum tipis melihat keduanya dari kaca spion.


*****


Suasana di rumah Uwais yang tadinya tegang terasa tenang sekarang, setelah ada kabar bahwa Naina dan Uwais selamat walaupun mengalami luka dan cedera. Pak Fahmi menangis, dia tidak henti-hentinya mengucap syukur atas keselamatan anak dan menantunya.


” Kira-kira semuanya pulang kapan ya pak?" tanya Kabir kepada bodyguard tersebut.


” Besok, malam ini semuanya menginap di hotel dan harus ke rumah sakit juga untuk diperiksa” tuturnya, Kabir mengangguk begitu juga orang tuanya. Bodyguard itupun pergi.


Di kediaman Syam juga rasa bahagia bercampur haru, Syifa dan Syam serta Rizal sedang di rawat dirumah sakit. Dan Rizal sedang diusahakan untuk dipindahkan ke rumah sakit di ibu kota, itu juga jika benar-benar bisa.


” Syifa masih kecil, gak ngerti apa-apa. Dia dehidrasi dan kelaparan, apa Amira setega itu tidak memberi anaknya susu" imbuh mama Novi, khawatir sekaligus kesal.


” Amira meninggal, dan Hamdan juga sudah diamankan polisi. Mama do'ain aja semoga semuanya sehat-sehat di sana, semuanya pulang kok besok kata mas Aldi” tutur Asil, menenangkan ibunya itu dan mama Novi mengangguk.


****


Di luar kota, setelah Naina diperiksa dia diantar ke sebuah hotel untuk beristirahat dan suaminya ada urusan dan akan pulang sebentar lagi. Naina diam memperhatikan semua baju baru yang bukan kesukaannya, baju gamis terlalu mewah. Zidan membelinya, yang penting pakaian tertutup kan? untuk warna Zidan tidak terlalu banyak memikirkan. Uwais dan Zidan juga sedang berada di hotel, keduanya melangkah bersama.


” Kepalamu baik-baik saja Zidan?”


” Iya bos” singkat Zidan. Zidan pergi setelah sampai mengantarkan Uwais di depan pintu kamar hotel. Uwais masuk.


” Assalamu'alaikum” imbuhnya.


” Wa'alaikumus Salaam” jawab Naina, Uwais memperhatikan Naina yang baru selesai mandi. Uwais membuka bajunya lalu mendekat dan tangannya membelai wajah cantik istrinya yang terluka.


” Bagaimana keadaan kakek mas?” tanya Naina, kakek masuk rumah sakit setelah penyakit jantung nya kambuh. Karena syok Uwais dan Naina tak kunjung ditemukan.


” Kakek baik-baik aja sekarang” Uwais tersenyum lalu mencium bibir istrinya, dan mendorongnya perlahan sampai kaki Naina menyentuh tepi ranjang dan terduduk di tepi ranjang. Uwais berhenti membungkuk mencium Naina, Naina meletakkan telapak tangannya di dada telanjang suaminya dan Uwais meletakkan telapak tangannya di punggung tangan Naina. Naina meraih tangan kanan suaminya lalu menciumnya dan Uwais mengusap kepalanya, keduanya tersenyum tipis dan bercumbu mesra. Sampai keduanya hanyut semakin dalam dan saling memanjakan dalam kegiatan yang membuat candu itu.


Keesokan paginya, sudah jam 4 pagi. Uwais meraih ponsel mematikan alarm. Dia duduk dan memijat dahinya, kepalanya terasa pusing. Naina juga masih tidur. Uwais mengelus pipi istrinya lembut.


” Sudah pagi" imbuh Uwais.” Bangun sayang” panggilnya lagi. Naina membuka matanya perlahan, dia lirik jam masih jam 4. Naina menarik lengan suaminya dan membuat Uwais terbaring kembali. Uwais tersenyum saat Naina bergeser, menjadikan dada telanjangnya sebagai bantal.


" Tidak mau bangun?”


” Sebentar lagi” sahutnya, lalu menoleh menatap Uwais dan keduanya tersenyum bersama.


” Keluarga kamu nungguin kita sayang”


” Hemm?” bingung.


” Kabir, bapak dan ibu sudah ada di rumah nungguin kita”


” Bapak tahu dong? bapak pasti khawatir. Pak Zidan yang bilang?" Naina kesal.


” Bukan, keluarga kamu datang mendadak tapi kita sedang tidak ada. Yang penting sekarang kita sudah selamat, semuanya sedang menunggu”


” Kita pulang hari ini?"


” Hemm, ya. Masih mau di hotel?” Uwais tersenyum mesum dan Naina mencubit dadanya lalu mundur menjauh.” Mau kemana?”

__ADS_1


” Mau mandi” jawab Naina lalu masuk ke ke kamar mandi dan Uwais menyusulnya.


__ADS_2